Selasa, Januari 15, 2019

Israel Akui Memasok Senjata ke Pemberontak Suriah

Israel Akui Memasok Senjata ke Pemberontak Suriah

israel-memasok-senjata-ke-pemberontak
Israel Akui Memasok Senjata ke Pemberontak Suriah. Israel, negeri zionis ini akhirnya mengkui bahwa militernya telah memasok senjata kepada para pemberontak di Suriah yang hendak menggulingkan rezim Suriah saat ini, Presiden Bashar al-Assad. Pengakuan ini muncul sesudah bertahun-tahun para pemimpinnya diam tak mengaku. Kondisi itu kemudian memunculkan berbagai spekulasi tentang adanya hubungan antara Israel dengan oposisi anti presiden Assad.

Pengakuan bahwa Israel telah memasok senjata ke pemberontah Suriah keluar dari mulut Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Gadi Eisenkot. Jenderal yang pensiun pada minggu ini, mengatakan bahwa pasokan senjata dilakukan untuk memberi pertahanan diri pada kubu oposisi.

Eisenkot, yang sudah menjabat Kepala Staf IDF selama kurang lebih tiga tahun itu, menyampaikan rahasia itu kepada koran Sunday Times dalam satu wawancara perpisahan, sebagaimana yang telah dilansir Selasa (15/1/2019). Dia mengakui bahwa Israel memang terlibat secara langsung dalam konflik Suriah dengan mengambil posisi di sebelah pemberontak.

Menurut Jenderal rezim Zionis itu bahwa Israel mau memasok senjata ringan kepada pemberontak Suriah di perbatasan dengan maksud agar mereka bisa membela diri.

Sebelum pengakuan ini dilakukan, sebenarnya banyak media telah melaporkan akan adanya pasokan senjata dari militer Tel Aviv kepada pemberontak anti-Assad. Majalah Foreign Policy, melaporkan pada bulan September lalu bahwa Israel memberi pasokan senjata dan membagikan uang kepada 12 kelompok pemberontak Suriah yang bersembunyi di wilayah Suriah selatan.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pejabat Israel telah memberikan tunjangan bulanan kepada para pejuang pemberontak sebesar USD75 per orang. Tidak hanya itu, para pemimpin mereka juga menerima dana untuk membeli senjata di pasar gelap.

Baca juga: Indonesia Defisit Guru Agama di Sekolah

Apa yang dilakukan Israel tentu tidak gratis. Negeri Zionis tentu mengharap balasan yang lebih besar. Maka sebagai imbalan atas “kebaikan” Israel, para pemberontak diperintahkan untuk menghalangi seluruh pasukan Iran dan proksinya, seperti Hizbullah dari wilayah Dataran Tinggi Golan yang sampai saat ini masih diduduki Israel.

Skema seperti ini dilaporkan berlaku dengan ketat di seluruh wilayah yang menjadi medan Operation Good Neighbor. Yaitu suatu operasi militer Israel yang dengan resmi digelar mulai bulan Juni 2016 dan baru saja selesai pada bulan November lalu. Untuk upayanya ini, Israel secara terbuka mau membantu para pemberontak. Namun mereka mengklaim bahwa bantuan yang diberikan sepenuhnya adalah kemanusiaan.

Negeri Zionis yang menjajah Palestina ini memang “merawat” kaum pemberontak Suriah yang terluka dan juga keluarga mereka di rumah sakit Israel. Rezim Zionis menyediakan sekitar 1.524 ton bahan makanan, 250 ton pakaian, 947.520 liter bahan bakar, dan bantuan berupa pasokan medis.

Eisenkot dengan jelas juga mengakui bahwa menteri pertahanan Israel juga pernah bertemu dengan pemimpin pemberontak Suriah. Sebelum Eisenkot membuka ke publik rahasia ini, pemerintah Zionis selalu menyangkal keterlibatan mereka dalam konflik Suriah yang sudah bertahun-tahun itu.

Pada bulan September Koran bernama Jerusalem Post pernah menerbitkan laporan tentang IDF yang telah memastikan bahwa mereka sudah memberikan bantuan senjata ringan kepada para pemberontak Suriah. Lucunya, laporan tersebut kemudian segera ditarik dari situs webnya. Atas pencabutan berita itu, Jerusalem Post mengaku kepada Russia Today bahwa hal itu dilakukan karena mereka dipaksa dan harus menghapus artikelnya. Perintah itu dilakukan oleh sensor militer dengan alasan keamanan.

Baca juga: Menuntut Ilmu Tak Terbatas Batas Usia

Pada bulan November 2018 lalu, mantan komandan senior IDF, Mayor Jenderal Gershon Hacohen, mengungkapkan kepada media bahwa mantan Menteri Pertahanan Moshe Ya'alon secara pribadi telah melakukan pertemuan dengan sekelompok pemberontak Suriah, tanpa menyebutkan rentang waktunya. Ya'alon merupakan menteri pertahanan negeri zionis itu dari 2013 hingga Mei 2016.

Sebelum itu, pada sebuah wawancara dengan koran New York Times, Eisenkot juga mengakui bahwa Israel telah melakukan kampanye pemboman berskala besar. Itu dilakukan dengan tujuan untuk menurunkan pengaruh militer Iran yang berada di wilayah tersebut. Pada periode 2018 ini, IDF sudah menjatuhkan 2.000 bom pada banyak target di Suriah yang dianggap berkaitan dengan Iran.



Artikel Terkait:

© Copyright 2019 Lintas12 : Berita Dunia Islam | All Right Reserved