Minggu, April 07, 2019

Risalah tentang Shalat Khusyuk

Risalah tentang Shalat Khusyuk

risalah-tentang-shalat-khusyuk
Risalah tentang Shalat Khusyuk. Shalat tidaklah sekadar rutinitas dan ritual yang selalu dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam. Shalat lebih dari sekedar ritual begitu. Shalat merupakan usaha seorang hamba untuk merendahkan seluruh jiawa raga di hadapan Tuhannya. Penundukan dan perendahan  yang dilakukan tersebut seluruhnya berfokus kepada penaklukan hati yang bisa mengarah kepada tatmainnul qulub atau ketenangan jiwa.

Tatmainnul qulub atau jiwa yang tenang tersebutlah yang sesungguhnya akan mampu meredam dan mengendalikan nafsu. Disebutkan bahwa nafsu amarah bila tidak diredam dan dikendalikan maka akan bisa menguasai dan merajai seluruh anggota badan. Ketenangan jiwa dalam ketundukan menghadap Allah ketika sedang mendirikan shalat dikenal dengan istilah khusyuk.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Ankabuut [29]: 45).

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) dalam satu karyanya yang berjudul Al-Khusyu’ fi as-Shalat, mengungkap dan membuka rahasia dan makna yang ada di balik khusyuk-nya shalat. Secara khusus, ia menjelaskan tema ke tema di dalam bukunya tersebut untuk menerangkan perihal hal-hal yang terkait dengan shalat dan khusyuk. Baca juga: Jangan Menunda Infaq, Wahai Saudaraku!

Arti Shalat Khusuk


Ibnu Rajab mengartikan khusyuk sebagai suatu kelembutan hati yang dicerminkan kedalam semua tindakan. Menurutnya, dalam hati terdapat poros utama yang berperan bagi keseluruhan raga seseorang. Ketika hatinya bersih maka lurus dan baguslah semua tindakan. Begitu pun sebaliknya, hati yang penuh dengan kotoran karena perbuatan nista dan dosa maka akan semuanya menjadi buruk dan bisa menjerumuskan dirinya pada kehinaan dan kehancuran.

Bila hati rusak maka rusaklah semua anggota badan lainnya. Arti khusyuk inilah yang dipakai oleh Rasulullah dalam sabdanya ketika melakukan ruku'. Rasulullah membaca doa pada saat ruku yang artinya, "Pendengaran, penglihatan, otak, dan tulang belulangku tunduk kepada-Mu”.

Pada saat itu, Sa’id bin al-Musayyab menyaksikan seseorang yang menggerak-gerakkan tangannya ketika shalat. Padahal gerakan tangannya itu tidak dimaksudkan untuk hal-hal yang teramat penting dan darurat. Said pun kemudian bergumam, "andaikan hati orang itu lebih khusyuk maka semua anggota badannya akan ikut khusyuk."

Ali bin Abi Thalib juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai khusyuk ini. Pendapatnya tersebut dikeukakan ketika mengomentari surah al-Mukminun ayat 2, "(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” Ali menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan khusyuk dalam ayat tersebut adalah ketenangan yang ada dalam hati. Baca juga: Mentaati Rambu Lalu Lintas

Dampak Shalat Khusuk


Secara sederhana, khusyuk akan memberikan dampak pada terhindarkannya seseorang dari perbuatan mengganggu orang lain yang sedang shalat di sampingnya. Dampak hebatnya, sebagaimana disebutkan dalam QS al-Ankabuut [29]: 45 diatas, bahwa shalat yang khusuk dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.

Khusyuk bisa juga terlihat karena seseorang tidak mengalihkan pandangannya dan tak menoleh ke arah manapun, selain ke tempat sujudnya walaupun banyak hal yang menggangunya ketika shalat..

Aapun, menurut Ibnu Abbas, khusyuk yang dimaksud dalam surah al-Mukminun ayat 2 dimaksudkan sebagai sikap takut dan sekaligus ketenangan yang didapat seseorang pada saat shalat. Tetapi perlu diingat bahwa ketenangan dalam bersikap ternyata belum tentu sebagai cerminan dari khusyuk-nya hati. Karena ketenangan tersebut hanya ditampakkan pada bagian luar fisik, sedangkan fakta sebaliknya adalah kekosongan hati.

Kekhusukan seperti inilah yang dahulu di-warning oleh ulama salaf. Mereka menamakan khusyuk dalam bentuk ini dengan khusyuk nifaq atau kekhusyukan palsu. Khusuk seperti itu harus dihindari.

Orang yang memperlihatkan kekhusyukan dalam shalat padahal sesungguhnya sama sekali tidak ada ketenangan sedikitpun dalam hatinya maka khusyuk yang ditampilkan itu tidaklah bermakna dan tidak berguna. Baca juga: Sebuah Catatan Tentang Pemilu Presiden

Umar bin Khattab, dalam satu waktu menegur seorang remaja yang sedang memendirikan shalat. Level ketajaman batin Umar bisa merasakan akan khusyuk palsu yang diperlihatkan si remaja tersebut. Ia kemudian meminta si remaja untuk mengangkat kepalanya dan menasehatkan bahwa khusyuk itu letaknya di hati dan tidak ada manfaatnya jika fisiknya tenang namun hatinya sama sekali tidak ada kekhusukan.



Artikel Terkait:

© Copyright 2019 Lintas12 : Berita Dunia Islam | All Right Reserved