Senin, April 08, 2019

Seruan Perdamaian di Libya

Seruan Perdamaian di Libya

seruan-perdamaian-di-libya

lintas12.com - Seruan Perdamaian di Libya. Banyak pemimpin dunia menyarankan agar semua pihak di Libya segera menahan diri. Pernyataan ini keluar sesudah pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) yang dikomandoi oleh Khalifa Haftar sudah mempersiapkan diri menuju ke Tripoli, Ibu Kota Libya guna melakukan serangan kepada pemerintah negara itu yang memperoleh dukungan dari PBB.

Dewan Keamanan PBB sudah meminta kepada pasukan Haftar agar mengentikan seluruh aksi militer yang dilakukan di Libya. LNA diperintahtkan untuk tidak melakukan serangan apapun agar solusi damai di negara utara Afrika itu bisa tercapai.

“Tidak mungkin ada pilihan militer guna mengatasi konflik,” kata presiden Dewan Keamanan PBB, Christoph Heusgen, sebagai dilansir oleh Sky News, Sabtu (6/4/2019).

Dewan Keamanan PBB berarap semua pihak yang terlibat di dalam konflik Libya untuk segera menghindari opsi militer dan menghentikan semua aktifitasnya dengan cepat.

Aktifitas militer yang dilancarkan Haftar untuk mengirim pasukan ke ibu kota Tripoli dianggap akan menghambat laju proses politik yang dibutuhkan bagi negara tersebut. Pengerahan militer akan menyebabkan warga sipil berada dalam situasi berbahaya dan juga akan memperpanjang nestapa mereka.

Baca juga: Bahaya Hoax

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, sebelumnya pernah berkunjung ke Libya dan menjumpai Haftar. Dalam perjumpaan tersebut, Sekjen PBB menyarankan agar semua bentuk konfrontasi mesti dihindarkan, baik di dalam kota Tripoli maupun di sekitarnya.

“Saya meninggalkan negara Libya dengan perasaan sungguh prihatin. Saya mengharapkan terbuka kemungkinan untuk menghindarkan perlawanan berdarah di dalam kota Tripoli dan sekitarnya,” papar Guterres.

Sejak digulingkannya presiden Muamar Qadafi pada 2011 lalu, Libya terus dilanda kekacauan dan chaos antar faksi-faksi bersenjata yang hendak menguasai pemerintahan dengan penuh. Pemerintahan di negara Libya terkotak menjadi dua bagian, yaitu di Ibu Kota Tripoli yang disupport oleh internasional dan LNA yang menguasai wilayah bagian timur. Dan LNA membentuk satu pemerintahan bayangan.

LNA terus berusaha untuk bisa mengendalikan dan menguasai Libya secara penuh. Situasi di sana makin buruk dengan hadirnya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan faksi militan lainnya yang mengambil keuntungan dan kesempatan dari situasi buruk di negara Libya.

Baca juga: Nasehat Pernikahan: Batasi Penggunaan MEDSOS

Beberapa kritikus menyebutkan, bahwa LNA adalah kumpulan dari beberapa kelompok milisi, termasuk juga kelompok militan. Para pengamat pun pernah mempersoalkan apakah sesungguhnya Haftar mempunyai pasukan militer guna menguasai Tripoli.

Muncul anggapan bahwa pria berusia 75 tahun itu merupakan versi baru dari Qadafi bagi Libya. Walau LNA sudah memperoleh dukungkan dari Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA), pasukan Haftar mendapat perlawanan yang keras di wilayah bagian barat Libya.



Artikel Terkait:

© Copyright 2019 Lintas12 : Berita Dunia Islam | All Right Reserved