Senin, Juni 17, 2019

Nikah Siri dan Kawin Kontrak, Ini Bedanya!

Nikah Siri dan Kawin Kontrak, Ini Bedanya!

nikah-siri-dan-kawin-kontrak-ini-bedanya-ilustrasi
Telah menjadi viral kasus ditangkapnya tujuh pria berkewarganegaraan Cina yang merupakan calon pengantin kawin kontrak di Kalimantan Barat. Kasus rencana kawin kontrak tersebut menjadi perbincangan banyak pihak. Sejumlah ahli pun kemudian angkat bicara. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa ada perbedaan yang sangat jelas antara nikah siri dan kawin kontrak yang sedang marak diperbincangkan masyarakat.

Prof. Euis Sunarti, Pakar ketahanan keluarga, dari Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB mengatakan bahwa kawin kontrak berbeda jauh dengan nikah siri atau nikah yang sudah sah secara agama (walau tak tercatat dalam sistem administrasi negara) dan tidak dapat disamakan. "Kawin kontrak dan nikah sirih tentu berbeda dan tidak dapat dipersamakan," terang dia, dalam satu kesempatan sebagaimana dikutip dari republika (17/6/19).

Prof. Euis Sunarti menjelaskan bahwa kawin kontrak menjadikan tujuan perkawinan sebagai kontrak semata, kepentingan syahwat sesaat, tidak sesuai dengan regulasi atau undang-undang perkawinan yang mendasarkan pernikahan pada agama dan sesudah itu catatan sipil.

Sebagaimana diketahui  bahwa tujuan dari pernikahan menurut agama dan undang-undang adalah membentuk atau membangun keluarga, mempunyai anak, melanjutkan keturunan, hubungan kasih sayang dan mempersatukan dua keluarga. "Menikah dengan cara siri itu mempunyai tujuan seumur hidup, dan bukan kepentingan sesaat untuk setahun, dua atau tiga tahun, kemudian cerai," tambah Euis.

Baca juga: Jejak Islam Di Portugal dan Spanyol

Kawin Kontrak Hasil Kesepakatan


Prof. Euis Sunarti juga menjelaskan, jika kawin kontrak merupakan fakta yang telah lama ada yang timbul dan tenggelam. Menjadi fenomena di tengah-tengah  masyarakat karena hasil dari sebuah kesepakatan.

"Fenomena kawin kontrak di tengah masyarakat merupakan hasil kesepakatan antara kedua belah pihak, dan bukan karena adanya paksaan," jelas Euis.

Dosen mata kuliah Ilmu Keluarga dan Konsumen tersebut menerangkan bahwa kesepakatan yang terjadi antara pihak perempuan dan laki-laki (pelaku kawin kontrak), di awal bisa jadi si perempuan dirayu atau sedikit dipaksa, kemdian terjadi kesepakatan di antara keduanya sampai akhirnya disetujui oleh si perempuan.

Dia berpendapat praktik kawin kontrak dalam masyarakat akan terus ada sepanjang ada yang mau, sebab secara manusiawi akan terus seperti itu. Untuk hal itu, Agama merupakan pondasi yang kuat untuk mencegah terjadinya praktik kawin kontrak.

Dijelaskan Euis, bahwa orientasi kawin kontrak antara laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Orientasi si laki-laki adalah se*s, sedangkan si perempuan berorientasi  se*s dan juga materi.

Belum tentu seseorang yang melakukan kawin kontrak dikarenakan alasan miskin. Sangat mungkin si perempuan mempunyai kegemaran untuk hidup mewah dan juga hidup baik (faktor ekonomi). Sehingga memereka tidak menganggap penting akan status pernikahannya.

Alasan ekonomi hanyalah salah satu faktor terjadinya kawinan kontrak. Perempuan dapat dinikahi secara kontrak karena tergiur dengan kesempatan bekerja dan mendapat penghasilan.

Namun sebagai warga negara yang menganut sistem pernikahan menurut agama dan mempunyai hak konstitusional yang legal, semestinya memperhatikan setiap gerak langkah dan tindakannya.

Menikah dengan cara kontrak tidak diperbolehkan dalam agama ataupun perundang-undangan. Jika setiap individu mengikuti aturan pernikahan agama, maka permasalahan kawin kontrak tidak akan pernah terjadi meski diiming-imingni dengan kehidupan mewah. "Jika memang ingin, mintalah dinikah secara sah, walau menjadi istri kedua," tegas Euis.

Baca juga: Saudi Dikritik Amerika Karena Diamkan Kekerasan Cina pada Muslim Uighur

Secara duniawi, nikah kontrak bagi perempuan memang menguntungkan karena tercukupi segala kebutuhan materinya. Namun ingat, kerugian yang akan ditanggung oleh perempuan pun tidaklah sedikit.

Bila dalam perjalanan kawin kontraknya mempunyai anak, maka status anak menjadi tidak jelas, ikuti kewarganegaraan siapa, bila sang suami balik ke negara asalnya, anak akan menjadi anak siapa, dan tidak mempunyai akte kelahiran.

Sah atau tidak sahnya kawin kontrak tersebut pun tidak jelas, karena tujuan dari pernikahan yang dilakukan hanyalah sesaat atau sesuai dengan kontrak. Status istri sesudah kontrak terselesaikan, apakah janda atau perawan menjadi tidak jelas. "Kalau wanita tersebut menikah lagi, kemudian statusnya janda. Jandanya dari siapa, kan pernikahannya diam-diam dan sebatas kontrak," lanjut Euis menjelaskan.

Intinya adalah, nikah siri dan kawin kontrak adalah beda. Resikonya besar bagi perempuan, dan bertentangan dengan norma Agama maupun rundang-undang perkawinan yang berlaku di Indonesia.



Artikel Terkait:

© Copyright 2019 Lintas12 : Berita Dunia Islam | All Right Reserved