Orang miskin Indonesia tidak bisa mendapatkan minyak goreng

Indonesia menghadapi kekurangan karena perang Ukraina dan faktor lainnya membuat harga minyak sawit melonjak.

Orang miskin Indonesia tidak bisa mendapatkan minyak goreng. harga minyak sawit mentah melonjak tinggi - Lintas 12 Portal Berita Indonesia
Siti Rohani kesulitan mendapatkan minyak goreng untuk warung makannya di tengah kelangkaan produk di seluruh Indonesia [Foto: Courtesy of Aisyah Llewellyn]

Lintas12.com – Orang miskin Indonesia tidak bisa mendapatkan minyak goreng, meski Jauh dari Ukraina.

Setiap hari, Siti Rohani menggoreng ratusan jajanan tradisional Indonesia di warung pinggir jalan di Medan, Sumatera Utara, termasuk tiga jenis donat, tempe dan tahu goreng, banana fritters, spring rolls, dan curry puff.

Semua penggorengan itu berarti Rohani harus menghabiskan banyak minyak goreng – hingga lima liter (169 ons cairan) sehari.

Satu-satunya masalah bagi Rohani adalah minyak goreng semakin sulit didapat di tengah kelangkaan kronis di seluruh nusantara.

Setelah melonjaknya harga minyak sawit mentah yang menyebabkan harga minyak goreng melonjak lebih dari 50 persen, pemerintah Indonesia pada Februari membatasi harga satu liter minyak pada 14.000 rupee Indonesia ($0,93). Untuk membatasi kekurangan, pihak berwenang juga mulai membatasi pelanggan hingga 2 liter (68 ons cairan) minyak per pembelian.

“Saya harus pergi ke seluruh kota dari satu tempat ke tempat lain untuk membeli satu atau dua liter minyak lagi, atau untuk mengetahui bahwa tempat berikutnya telah terjual habis,” kata Rohani kepada Al Jazeera. “Itu hanya membuat segalanya lebih sulit.”

Batasan harga, yang telah dicabut, juga memiliki efek samping lain yang tidak diinginkan, menurut Posman Sibuea, dosen teknologi pangan di Universitas Katolik Santo Thomas di Medan.

“Yang terjadi adalah pedagang minyak goreng tidak mau menjual minyak mereka dengan harga rendah, jadi mereka mulai menimbunnya,” katanya kepada Al Jazeera. “Sebenarnya stok minyak goreng ada di seluruh Indonesia, tapi kami tidak tahu di mana.”

Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak sawit mentah yang digunakan telah melonjak hingga 40 persen, hasil dari pertemuan beberapa faktor, termasuk invasi Rusia ke Ukraina, yang memasok sebagian besar minyak bunga matahari Eropa. Dengan pasokan minyak bunga matahari Ukraina terganggu oleh konflik, permintaan minyak lain seperti minyak sawit telah melonjak.

Pandemi COVID-19 juga berdampak pada panen di negara-negara penghasil kelapa sawit seperti tetangga Malaysia, karena para migran yang biasanya bekerja di perkebunan dikurung di luar negeri.

Info terkait:
Indonesia dapat menaikkan subsidi bahan bakar tanpa mengakibatkan defisit

Indonesia adalah produsen dan pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, dan produksi dalam negeri jauh melebihi permintaan domestik. Namun, regulasi pemerintah hanya mewajibkan 20 persen produksi berada di dalam negeri, artinya sisanya bisa diekspor ke luar negeri.

Ada juga persoalan siapa sebenarnya pemilik sawit Indonesia.

“Masalah besar kelapa sawit adalah sebagian besar perkebunan kelapa sawit di Indonesia hanya dimiliki oleh segelintir orang, mungkin paling banyak 20 orang,” kata Uli Arta Siagian, juru kampanye kehutanan dan perkebunan di lingkungan nirlaba WALHI, kepada Al Jazeera. .

“Orang-orang ini tidak hanya memiliki perkebunan, tetapi juga seluruh infrastruktur industri seperti pabrik dan lainnya. Jadi mereka memonopoli industri dan memonopoli harga minyak sawit.”

Indonesia memproduksi 44,8 juta ton minyak sawit mentah pada tahun 2020, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), 60 persen di antaranya diproduksi oleh perusahaan swasta dan 34 persen oleh petani perorangan.

Sisanya 6 persen diproduksi oleh perusahaan milik negara.

Tahun itu, Indonesia mengekspor minyak sawit senilai lebih dari $18 miliar, menurut data BPS.