Satu-satunya gletser tropis di Indonesia dapat mencair cepat pada 2025

Jumat, 22 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gletser tropis Indonesia di Puncak Jaya di Papua, seperti yang terlihat pada Februari 2021. [Foto: PT Freeport Indonesia/ Yohanes Kaize]

Gletser tropis Indonesia di Puncak Jaya di Papua, seperti yang terlihat pada Februari 2021. [Foto: PT Freeport Indonesia/ Yohanes Kaize]

Lintas12.com – Satu-satunya gletser tropis di Indonesia dapat mencair cepat pada 2025.

Siswa sekolah dasar di Indonesia diajari bahwa negara ini memiliki sesuatu yang signifikan, gletser tropis di pegunungan Jayawijaya Papua yang merupakan satu-satunya di kawasan itu.

Terletak di Jaya summit atau Puncak Jaya dalam bahasa Indonesia, sebagian orang menyebutnya sebagai Eternity Glacier.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, dalam beberapa tahun, guru mungkin tidak dapat memberi tahu siswa mereka tentang hal-hal sepele geografis ini.

Setelah ada selama sekitar 5.000 tahun, hari-hari gletser dihitung karena penelitian menunjukkan bahwa itu mencair dan hanya ada sedikit yang tersisa.

“Tahun ketika gletser akan hilang adalah antara 2025 hingga 2027,” kata Donaldi Permana, koordinator penelitian dan pengembangan iklim di badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) Indonesia. Dia telah mempelajari gletser secara ekstensif sejak 2009.

Baca juga:  Indonesia Menolak Seruan untuk Keluarkan Rusia dari G20

Pemanasan global diyakini sebagai penyebab utama mencairnya gletser.

Mr Permana mengatakan ini telah terjadi sejak revolusi industri pada tahun 1850 ketika negara-negara maju bergeser dari ekonomi agraris ke ekonomi yang didominasi oleh industri yang melepaskan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan suhu lebih hangat.

“Tapi kami baru tahu setelah tahun 1990-an, bahwa gletser (Indonesia) mencair,” katanya.

Gunung Jayawijaya terletak di Taman Nasional Lorentz dengan ketinggian 4.884 mdpl. Ini adalah gunung tertinggi di Indonesia dan beberapa orang juga menyebutnya sebagai Carstensz Pyramid, karena gunung ini memiliki beberapa puncak dengan nama yang berbeda, kata Pak Permana.

Gletser tropis lainnya di Amerika Selatan dan Afrika juga mencair, kata Permana.

Baca juga:  Indonesia Rugi Tiga Setengah Triliun Akibat Gagal Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20

Namun, karena ketinggian Puncak Jaya lebih rendah dibandingkan dengan gunung-gunung lain dengan gletser tropis, yang ada di Indonesia akan lebih cepat hilang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga mengatakan kepada parlemen pada akhir bulan lalu bahwa gletser bisa hilang pada tahun 2025.

Studi sebelumnya telah mengukur area gletser, kata Permana.

Berdasarkan kematangan tanah dan pola sebaran vegetasi di sekitar gletser, disimpulkan bahwa luas gletser sekitar 19 km persegi pada tahun 1850, katanya.

Citra satelit kemudian menunjukkan bahwa area gletser turun menjadi hanya 2 km persegi pada tahun 2002.

Pada 2018, luasnya hanya 0,46 km persegi. Tahun lalu, itu 0,27 km persegi. Ini berarti bahwa pencairan telah dipercepat dari waktu ke waktu.

Baca juga:  Indonesia minta G20 bantu negara berkembang yang dilanda krisis energi

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang gletser, Mr Permana dan rekan-rekannya mengekstrak inti es darinya pada tahun 2010 dengan mengebor 32m ke batuan dasar. Inti es kemudian diambil untuk diperiksa.

Tim juga memasang pipa polivinil klorida (PVC) untuk mengukur seberapa banyak gletser yang mencair dengan melihat ketebalannya.

Pada tahun 2015, mereka menemukan bahwa pipa itu terbuka sejauh 5m. “Ini berarti kedalaman 1m hilang per tahun,” kata Permana.

Mereka juga mencatat bahwa pada tahun 2016 ketika El Nino menyebabkan cuaca yang lebih kering dan lebih hangat di Indonesia, pencairannya semakin cepat.

“Dari 2015 hingga 2016, hanya dalam satu tahun, kami kehilangan kedalaman 5 meter,” tambahnya.

Berita Terkait

Jokowi Mendorong Kemerdekaan Palestina, Wakil Ketua MPR Memberi Apresiasi
Putusan MK Terkait Syarat Capres dan Cawapres Dikritik oleh Pakar Hukum
Pentingnya strategi-visi taktis sikapi dinamika global: Jokowi
UU ASN Menjadi Payung Hukum Tanpa PHK Massal Non-ASN: Menpan RB
DPR Menyetujui RUU ASN menjadi Undang-Undang dalam Rapat Paripurna
APBN 2024 jadi instrumen percepatan pembangunan: Harap Wakil Ketua MPR
Muhammadiyah Mendukung DPD RI dalam Mewujudkan Sistem Bernegara yang Sesuai dengan Pancasila
Apakah Indonesia Sudah Merdeka? Ini Pandangan Anies Baswedan

Berita Terkait

Jumat, 20 Oktober 2023 - 22:10 WIB

Jokowi Mendorong Kemerdekaan Palestina, Wakil Ketua MPR Memberi Apresiasi

Selasa, 17 Oktober 2023 - 18:22 WIB

Putusan MK Terkait Syarat Capres dan Cawapres Dikritik oleh Pakar Hukum

Rabu, 4 Oktober 2023 - 16:22 WIB

Pentingnya strategi-visi taktis sikapi dinamika global: Jokowi

Selasa, 3 Oktober 2023 - 17:07 WIB

UU ASN Menjadi Payung Hukum Tanpa PHK Massal Non-ASN: Menpan RB

Selasa, 3 Oktober 2023 - 16:48 WIB

DPR Menyetujui RUU ASN menjadi Undang-Undang dalam Rapat Paripurna

Kamis, 28 September 2023 - 14:26 WIB

APBN 2024 jadi instrumen percepatan pembangunan: Harap Wakil Ketua MPR

Selasa, 26 September 2023 - 22:45 WIB

Muhammadiyah Mendukung DPD RI dalam Mewujudkan Sistem Bernegara yang Sesuai dengan Pancasila

Minggu, 24 September 2023 - 17:25 WIB

Apakah Indonesia Sudah Merdeka? Ini Pandangan Anies Baswedan

Berita Terbaru

Prabowo Mengumumkan Gibran Rakabuming Raka sebagai Calon Wakil Presiden [ilustrasi oleh L12]

Politik

Prabowo Mengumumkan Gibran Cawapres

Minggu, 22 Okt 2023 - 22:00 WIB

Aria Bima: Saya tidak ikhlas kalau Pak Jokowi dan Mas Gibran mendukung Prabowo [Ilustrasi by L12]

Politik

Jokowi-Gibran dukung Prabowo, Aria Bima tak ikhlas

Jumat, 20 Okt 2023 - 21:42 WIB