Sentralisasi database pencitraan satelit menghemat negara Rp15 triliun

Melalui pemusatan database (penginderaan jauh) di BRIN, ada penghematan anggaran sebesar Rp15 triliun dari APBN pada tahun 2021. Ini salah satu manfaat ekonomi (dari skema)

Sentralisasi database pencitraan satelit menghemat negara Rp15 triliun. Salah satu manfaat ekonomi - Lintas 12 Portal Berita Indonesia
Pj Kepala Pusat Penelitian Penginderaan Jauh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rahmat Arief, berbicara di webinar tentang kolaborasi untuk meningkatkan ekosistem industri satelit Indonesia, diakses online dari Jakarta, Rabu (27 April 2022). [Foto: ANTARA/Martha Herlinawati Simanjunta]

Lintas12.com – Sentralisasi database pencitraan satelit menghemat negara Rp15 triliun.

Pemusatan database penginderaan jauh dan pencitraan satelit telah membantu negara menghemat Rp15 triliun (US$1,03 miliar), menurut Pusat Penelitian Penginderaan Jauh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Dulu, semua orang membeli data yang sama yang diambil di area yang sama dan pada waktu yang sama, sehingga bisa digandakan beberapa kali. Tapi sekarang, semua data sudah terpusat di BRIN,” kata Arief.

“Melalui sentralisasi database (penginderaan jauh) di BRIN, ada penghematan anggaran sebesar Rp15 triliun dari APBN 2021. Ini salah satu manfaat ekonomi (dari skema),” kata Pj Kepala Pusat Riset Rahmat Arief. Pada webinar kolaborasi peningkatan ekosistem industri satelit Indonesia, Rabu , sebanyak 571 institusi, sebagian besar institusi pemerintah daerah, mengajukan permohonan ke BRIN untuk data dan informasi citra satelit pada 2021.

Lembaga lain yang meminta data citra satelit adalah TNI, Polri, dan lembaga pendidikan, tambahnya.

Pemerintah daerah memanfaatkan data penginderaan jauh untuk menyusun rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan rencana detail tata ruang (RDTR), sedangkan instansi lain menggunakan data tersebut untuk penelitian dan pertanian, kehutanan, dan penataan ruang, kata Arief.

Kepala badan tersebut mengatakan bahwa BRIN sedang menjalankan program untuk mengembangkan teknologi pencitraan satelit resolusi tinggi dan sangat tinggi untuk melayani lembaga yang meminta data dengan citra dan akurasi tinggi.

Karena data satelit sangat penting untuk kepentingan nasional, badan tersebut telah menyediakan data secara gratis kepada kementerian dan lembaga pemerintah, otoritas daerah, militer dan polisi, serta lembaga pendidikan, tambahnya.

“Dulu, semua orang membeli data yang sama yang diambil di area yang sama dan pada waktu yang sama, sehingga bisa digandakan beberapa kali. Tapi sekarang, semua data sudah terpusat di BRIN,” kata Arief.

Info terkait:
Tidak berguna bagi kami: Ibukota baru Indonesia tidak termasuk pribumi miskin

Lintas 12 – Portal berita Indonesia tentang: Sentralisasi database pencitraan satelit menghemat negara Rp15 triliun.