Indonesia minta G20 bantu negara berkembang yang dilanda krisis energi

Upaya membangun ketahanan energi harus inklusif

Indonesia minta G20 bantu negara berkembang yang dilanda krisis energi agar transisi energi global tetap berjalan - Lintas 12
Menteri ESDM Arifin Tasrif (kiri), didampingi staf ahli perencanaan strategis, Yudo Dwinanda Priaadi (kanan), memberikan sambutan pada pembukaan Pertemuan Tingkat Menteri Transisi Energi (ETMM) G20 di Badung, Bali, pada Jumat (2 September 2022)

Lintas 12Indonesia minta G20 bantu negara berkembang yang dilanda krisis energi.

Pada Pertemuan Menteri Transisi Energi (ETMM) pada Jumat, Indonesia meminta negara-negara G20 untuk membantu negara berkembang yang terkena dampak krisis energi guna memastikan transisi energi global tetap berjalan.

Menteri ESDM Arifin Tasrif yang memimpin pertemuan di Nusa Dua, di sini, menegaskan, upaya membangun ketahanan energi harus inklusif, artinya tidak ada negara yang tertinggal dalam mencapai tujuan.

“Yang penting kita bisa bersinergi untuk mengkoordinir kebijakan yang dibuat oleh masing-masing negara, memperkuat kerja sama yang sudah ada, dan memastikan agenda transisi energi tetap berjalan seiring dengan upaya peningkatan ketahanan energi,” ujarnya.

Baca juga:  Buru-buru selamatkan hewan di Indonesia setelah erupsi Gunung Semeru yang mematikan

ETMM yang merupakan bagian dari G20 Sherpa Track ini dihadiri secara langsung oleh 36 kepala delegasi, perwakilan organisasi internasional, seperti Bank Dunia, UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), UN ESCAP (United Nations Economic and Komisi Sosial untuk Asia dan Pasifik), UNDP (United Nations Development Programme), OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries), IRENA (International Renewable Energy Agency), IEA (International Renewable Energy Agency), Energy Agency), SEforAll (Sustainable Energy for All), ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia), dan IEF (International Energy Forum), serta para menteri energi Australia, Jepang, India, Belanda, Turki, dan Britania Raya.

Baca juga:  Indonesia atur transportasi jemaah haji dalam dua skema

Pertemuan satu hari ini membahas dua agenda: situasi ekonomi global dalam hal energi, dan upaya percepatan transisi energi, akses pembiayaan, dan teknologi.

Dalam pertemuan tersebut, Tasrif juga mengajak negara-negara anggota G20 untuk mendukung usulan “Bali Common Principles in Accelerating Clean Energy Transitions” atau Bali Compact Indonesia.

Bali Compact memuat sejumlah prinsip yang dapat menjadi acuan negara-negara dalam mewujudkan transisi dari energi berbasis bahan bakar fosil (brown energy) ke energi baru dan terbarukan (green energy).

“Prinsip-prinsip ini (yang tertuang dalam proposal Indonesia) bertujuan untuk memperkuat perencanaan di tingkat nasional dan implementasinya untuk memperkuat ketahanan energi dan stabilitas pasar,” jelasnya.

Selain itu, prinsip-prinsip tersebut mendukung tujuan mewujudkan pasokan energi yang lebih tangguh dan infrastruktur pendukungnya dalam rangka meningkatkan efisiensi, investasi, dan pembiayaan, serta memperkuat kerjasama dalam pengembangan dan inovasi teknologi.

Baca juga:  Gempa berkekuatan 5.8 SR mengguncang Kepulauan Yapen, Papua

Selain itu, Bali Compact juga mengadopsi pendekatan komprehensif untuk mewujudkan “dunia tanpa emisi”, yang telah menjadi tujuan bersama banyak negara.

“Kami sedang mengembangkan strategi jangka pendek yang dapat membantu mengatasi dampak perubahan iklim dengan mempercepat transisi energi,” kata Tasrif.

Lintas 12 – Portal Berita Indonesia tentang Indonesia minta G20 bantu negara berkembang yang dilanda krisis energi.