Pendahuluan: Paradoks Materi di Abad Ke-21
Di era digital yang serba cepat ini, hubungan manusia dengan harta telah mencapai titik yang sangat kompleks. Kita hidup di masa di mana nilai seseorang sering kali diukur dari angka di saldo rekening atau aset yang dipamerkan di media sosial. Namun, di balik kemilau materi tersebut, tersimpan sebuah paradoks spiritual: harta bisa menjadi sayap yang menerbangkan seseorang menuju derajat Muttaqin (orang bertakwa), namun ia juga bisa menjadi jangkar berat yang menenggelamkan jiwa ke dasar kemaksiatan.
Islam tidak pernah memandang harta sebagai sesuatu yang kotor. Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai syarat kesalehan. Sebaliknya, Islam memandang harta sebagai “energi” yang harus diarahkan. Artikel ini akan membedah secara mendalam bagaimana alkimia spiritual bekerja—mengubah logam mulia dunia menjadi emas murni di akhirat.
Bagian 1: Ontologi Harta – Siapa Pemilik Sebenarnya?
Sebelum memahami bagaimana harta menjadi sumber ketakwaan, kita harus memperbaiki fondasi pemikiran kita tentang kepemilikan. Dalam Islam, kepemilikan manusia terhadap harta bersifat majazi (metaforis/sementara), sedangkan pemilik hakiki adalah Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 7:
اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌۚ
“Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang Dia (titipkan kepadamu dan) telah menjadikanmu berwenang dalam (penggunaan)-nya. Lalu, orang-orang yang beriman di antaramu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang sangat besar.“
Kata Mustakhlafina dalam ayat ini menegaskan posisi manusia sebagai “wakil” atau “pengelola”, bukan pemilik mutlak. Ketika seseorang menyadari bahwa ia hanyalah manajer atas aset milik Tuhan, maka benih ketakwaan mulai tumbuh. Ia tidak akan kikir saat diminta memberi, dan tidak akan sombong saat berhasil meraih laba.
Bagian 2: Harta sebagai Generator Ketakwaan
Harta yang dikelola dengan kesadaran transendental akan berubah menjadi instrumen ketakwaan. Berikut adalah mekanismenya:
1. Keberkahan (Barakah) sebagai Multiplier Spiritual
Dalam ekonomi sekuler, 10 dikurangi 2 adalah 8. Dalam ekonomi langit, 10 dikurangi 2 (untuk sedekah) bisa menjadi tak terhingga dalam bentuk ketenangan, kesehatan, dan perlindungan dari musibah. Inilah yang disebut Barakah. Harta yang menjadi sumber ketakwaan adalah harta yang membuat pemiliknya semakin dekat kepada Allah.
2. Memutus Rantai Kemiskinan sebagai Jihad Ekonomi
Ketakwaan tidak hanya ada di atas sajadah. Menggunakan harta untuk membuka lapangan kerja, memberikan beasiswa, atau membangun infrastruktur umat adalah bentuk jihad ekonomi. Harta di sini berfungsi sebagai alat untuk menegakkan keadilan sosial (Social Justice).
Rasulullah SAW menekankan pentingnya tangan di atas melalui hadisnya:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.“ (HR. Bukhari & Muslim).
3. Harta sebagai “Pembersih” Jiwa (Tazkiyah)
Zakat berasal dari akar kata yang berarti “tumbuh” dan “suci”. Dengan mengeluarkan zakat, seseorang sebenarnya sedang melakukan operasi bedah pada jiwanya untuk membuang kanker keserakahan. Inilah titik di mana harta materi bertransformasi menjadi kualitas mental yang mulia.
Bagian 3: Psikologi Harta dan Pintu Masuk Kemaksiatan
Mengapa harta sering kali menyeret manusia ke dalam dosa? Jawabannya terletak pada “hati”, bukan pada “bendanya”. Ketika harta berpindah dari tangan ke hati, ia mulai meracuni sistem spiritual manusia.
1. Ilusi Keabadian (Tulul Amal)
Harta menciptakan ilusi bahwa manusia akan hidup selamanya. Dengan uang, seseorang merasa bisa membeli kesehatan, keamanan, dan bahkan “keabadian” melalui warisan nama. Hal ini membuat seseorang lalai dari persiapan kematian.
Allah SWT memperingatkan dalam Surah At-Takathur ayat 1-2:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ . حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.“
2. Komodifikasi Manusia
Salah satu kemaksiatan terbesar akibat harta adalah ketika seseorang mulai menilai manusia lain berdasarkan status finansialnya. Ini adalah akar dari penindasan, rasisme kelas, dan hilangnya rasa empati. Ketika harta menjadi Tuhan, maka manusia lain hanya dianggap sebagai alat produksi atau objek eksploitasi.
3. Syahwat Konsumerisme dan Israf (Berlebih-lebihan)
Harta sering kali memicu keinginan untuk pamer (riya’) dan bergaya hidup mewah yang melampaui batas. Dalam Islam, tindakan membuang-buang harta untuk hal yang tidak bermanfaat adalah saudara dari tindakan setan.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 27:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.“
Bagian 4: Navigasi Harta di Era Ekonomi Digital
Dunia modern menawarkan cara-cara baru dalam mencari dan membelanjakan harta. Kripto, trading, affiliate marketing, hingga ekonomi kreatif memberikan peluang besar, namun juga lubang kemaksiatan yang baru jika tidak hati-hati.
1. Jebakan Riba Kontemporer
Banyak model bisnis modern yang menyembunyikan unsur riba dan gharar (ketidakpastian) di balik istilah-istilah teknis yang rumit. Ketakwaan dalam berharta menuntut kita untuk melek literasi keuangan syariah. Kita tidak boleh hanya mengejar keuntungan (profit), tapi juga harus mengejar keberkahan (blessing).
2. Fitnah Flexing dan Kesehatan Mental
Media sosial telah mengubah harta menjadi alat validasi sosial. Fenomena flexing atau pamer kekayaan bukan hanya masalah kesombongan pribadi, tapi juga menciptakan depresi kolektif bagi mereka yang tidak mampu. Orang yang bertakwa akan menyembunyikan kemewahannya demi menjaga perasaan saudaranya, sebagaimana ia menyembunyikan ibadahnya.
Bagian 5: Langkah Praktis Mengelola Harta Agar Menjadi Sumber Ketakwaan
Bagaimana cara memastikan harta kita tetap berada di jalur ketakwaan? Berikut adalah “Prosedur Standar Operasional” (SOP) spiritual bagi setiap Muslim:
1. Audit Sumber (Checking the Origin)
Pastikan setiap rupiah yang masuk tidak mengandung unsur kezaliman, penipuan, atau riba. Harta yang haram, meskipun disedekahkan gunung emas sekalipun, tidak akan diterima oleh Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.“ (HR. Muslim).
2. Manajemen Pengeluaran: Piramida Prioritas
Gunakan rumus 40-30-20-10 atau variasi lainnya, namun pastikan zakat dan sedekah menjadi prioritas pertama, bukan sisa dari pengeluaran bulanan. Orang yang bertakwa membayar “pajak akhirat” mereka dengan kegembiraan, bukan beban.
3. Memperbanyak Wakaf Produktif
Berbeda dengan sedekah biasa, wakaf adalah harta yang manfaatnya terus mengalir meskipun pemiliknya telah tiada. Ini adalah strategi cerdas untuk mengekalkan harta. Anda tidak bisa membawa harta mati, tapi Anda bisa mengirimnya terlebih dahulu ke akhirat melalui wakaf.
Bagian 6: Dampak Sosiologis Harta yang Bertakwa
Ketika masyarakat dipenuhi oleh orang-orang yang melihat harta sebagai sumber ketakwaan, maka akan tercipta harmoni sosial. Tidak ada kecemburuan sosial yang ekstrem karena si kaya merasa bertanggung jawab atas si miskin. Ketimpangan ekonomi mengecil, dan perputaran uang tidak hanya berhenti di kalangan orang kaya saja.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 7:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
“…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.“
Ayat ini adalah manifesto ekonomi Islam yang luar biasa. Harta harus mengalir seperti darah ke seluruh bagian tubuh sosial. Jika darah hanya menumpuk di satu bagian, akan terjadi pembengkakan (inflasi/monopoli) dan bagian lain akan mengalami kelumpuhan (kemiskinan).
Bagian 7: Penutup – Harta di Tangan, Bukan di Hati
Sebagai kesimpulan, harta bukanlah musuh bagi spiritualitas. Ia adalah ujian yang didesain Allah untuk melihat siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Menjadi kaya adalah sebuah kemuliaan jika kekayaan itu membuat pemiliknya makin sujud, makin rendah hati, dan makin bermanfaat bagi sesama.
Sebaliknya, menjadi miskin pun bukan jaminan keselamatan jika hati penuh dengan kedengkian dan ketidakpuasan terhadap takdir. Kunci utamanya adalah posisi harta tersebut. Jadikan harta sebagai kendaraan di bawah kendali Anda, jangan jadikan ia pengemudi yang mengendalikan arah hidup Anda.
Mari kita tutup dengan merenungkan sebuah doa yang sering dipanjatkan para salafus shalih:
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا
“Ya Allah, jadikanlah dunia (harta) berada di tangan kami, dan janganlah Engkau jadikannya masuk ke dalam hati kami.“
Harta yang ada di tangan akan mudah dilepaskan untuk kebaikan. Harta yang ada di hati akan sangat menyakitkan saat diambil, dan akan mematikan rasa takut kita kepada Sang Pencipta. Pilihlah jalan ketakwaan, maka harta akan mengejarmu tanpa pernah melukaimu.


