Hikmah  

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan 10 Hari Pertama: Ini Pesan Nabi dalam Hadits Shahih

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan 10 Hari Pertama: Ini Pesan Nabi dalam Hadits Shahih
Terdapat keutamaan bulan Dzulhijjah dan khususnya 10 Hari Pertama [Ilustrasi]

Lintas12.com – Keutamaan bulan Dzulhijjah dan 10 hari pertama sangat istimewa. Simak hadits shahih Bukhari-Muslim tentang kemuliaan waktu, darah, harta, dan kehormatan selengkapnya di laman kabar berita pilihan terpercaya, Lintas 12 News, di bawah ini.


Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Selain menjadi bulan pelaksanaan ibadah haji, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ sendiri dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menegaskan betapa agungnya waktu ini.

Lalu, apa sebenarnya pesan Nabi tentang kemuliaan bulan Dzulhijjah? Mari kita simak penjelasan lengkapnya.

Mengapa Bulan Dzulhijjah Disebut Bulan Haram?

Dalam Islam, terdapat empat bulan haram yang dimuliakan Allah, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Tiga bulan datang secara berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Sementara Rajab terletak di antara Jumada dan Sya’ban.

Keutamaan bulan Dzulhijjah ini disebut langsung oleh Nabi dalam khutbahnya saat haji wada’ (haji perpisahan). Beliau bersabda:

“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram: tiga bulan berturut-turut (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram), dan Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.”
(HR. Bukhari No. 4406, Muslim No. 1679, dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits)

Teks Hadits Lengkap dengan Sanad, Harakat, dan Arti

Berikut hadits lengkap tentang keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah sekaligus pengagungan terhadap darah, harta, dan kehormatan Muslim:

Teks Arab (dengan harakat):

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
الزَّمانُ قدِ استَدارَ كهَيئةِ يَومَ خَلَقَ السَّمَواتِ والأرضَ؛ السَّنةُ اثنا عَشَرَ شَهرًا، مِنها أربَعةٌ حُرُمٌ، ثَلاثةٌ مُتَوالياتٌ: ذو القَعدةِ، وذو الحِجَّةِ، والمُحَرَّمُ، ورَجَبُ مُضَرَ الذي بينَ جُمادى وشَعبانَ، أيُّ شَهرٍ هذا؟ قُلنا: اللهُ ورَسولُه أعلَمُ، فسَكَتَ حتَّى ظَنَنَّا أنَّه سَيُسَمِّيه بغيرِ اسمِه، قال: أليسَ ذو الحِجَّةِ؟ قُلنا: بَلى، قال: فأيُّ بَلَدٍ هذا؟ قُلنا: اللهُ ورَسولُه أعلَمُ، فسَكَتَ حتَّى ظَنَنَّا أنَّه سَيُسَمِّيه بغيرِ اسمِه، قال: أليسَ البَلدةَ؟ قُلنا: بَلى، قال: فأيُّ يَومٍ هذا؟ قُلنا: اللهُ ورَسولُه أعلَمُ، فسَكَتَ حتَّى ظَنَنَّا أنَّه سَيُسَمِّيه بغيرِ اسمِه، قال: أليسَ يَومَ النَّحرِ؟ قُلنا: بَلى، قال: فإنَّ دِماءَكُم وأموالَكُم -قال مُحَمَّدٌ: وأحسِبُه قال:- وأعراضَكُم عليكم حَرامٌ، كحُرمةِ يَومِكُم هذا، في بَلَدِكُم هذا، في شَهرِكُم هذا، وستَلقَونَ رَبَّكُم، فسيَسألُكُم عن أعمالِكُم، ألا فلا تَرجِعوا بَعدي ضُلَّالًا يَضرِبُ بَعضُكُم رِقابَ بَعضٍ، ألا ليُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغائِبَ؛ فلَعَلَّ بَعضَ مَن يُبَلَّغُه أن يَكونَ أوعى له مِن بَعضِ مَن سَمِعَه -فكان مُحَمَّدٌ إذا ذَكَرَه يقولُ: صَدَقَ مُحَمَّدٌ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، ثُمَّ قال:- ألا هل بَلَّغتُ؟ مَرَّتَينِ.

Artinya:
“Sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak di antara bulan Jumada (al-Akhir) dan Sya’ban.
Beliau bertanya: ‘Bulan apakah ini?’ Kami menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau diam sehingga kami menyangka beliau akan menamainya dengan nama lain. Beliau bersabda: ‘Bukankah ini bulan Dzulhijjah?’ Kami menjawab: ‘Benar.’
Beliau bertanya lagi: ‘Negeri apakah ini?’ Kami menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau diam sehingga kami menyangka beliau akan menamainya dengan nama lain. Beliau bersabda: ‘Bukankah ini al-Baldah (Makkah)?’ Kami menjawab: ‘Benar.’
Beliau bertanya lagi: ‘Hari apakah ini?’ Kami menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau diam sehingga kami menyangka beliau akan menamainya dengan nama lain. Beliau bersabda: ‘Bukankah ini hari an-Nahr (kurban)?’ Kami menjawab: ‘Benar.’
Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya darahmu, hartamu —Muhammad (perawi hadits ini) berkata: Aku kira beliau juga bersabda:— dan kehormatanmu adalah haram (suci/terlarang diganggu) atas kalian, sebagaimana sucinya harimu ini, di negerimu ini, dan di bulanmu ini. Kalian akan menjumpai Tuhan kalian, lalu Dia akan menanyakan perbuatan kalian. Maka janganlah kalian kembali menjadi sesat setelah kepergianku, di mana sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.
Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena boleh jadi orang yang disampaikan berita itu lebih paham (lebih mampu menjaga amanah) daripada orang yang mendengarnya langsung.’
—Ketika Muhammad (Ibnu Sirin) menyebutkan hadits ini, ia berkata: ‘Benarlah Muhammad SAW.’—
Kemudian Nabi SAW bersabda: ‘Bukankah aku telah menyampaikannya? Bukankah aku telah menyampaikannya?’ (Beliau mengucapkannya dua kali).”

Perawi: Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits
Muhaddits: Imam Al-Bukhari
Sumber: Shahih Al-Bukhari No. 4406, Shahih Muslim No. 1679
Status Hadits: Shahih

Baca Ini:  Wasiat Nabi Muhammad SAW kepada Wanita: Panduan Lengkap Menyayangi dan Memuliakan Istri

Tiga Pesan Utama dalam Hadits tentang Dzulhijjah

Dari hadits di atas, ada tiga pesan agung yang relevan dengan keutamaan bulan Dzulhijjah dan kehidupan Muslim secara umum:

1. Penghormatan Waktu (Bulan Haram)

Allah dan Rasul-Nya mengagungkan bulan Dzulhijjah sebagai bagian dari bulan haram. Di dalamnya, amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan dosa serta permusuhan sangat dilarang.

2. Kesucian Darah, Harta, dan Kehormatan

Nabi mengingatkan bahwa darah, harta, dan kehormatan Muslim itu suci dan tidak boleh dilanggar. Larangan ini diperkuat dengan sumpah demi kemuliaan hari Nahr (Idul Adha), kota Makkah, dan bulan Dzulhijjah.

3. Kewajiban Menyampaikan Ilmu

Pesan terakhir: “Yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” Ini adalah kewajiban dakwah setiap Muslim, terutama tentang keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah dan amalan-amalan di dalamnya seperti puasa Arafah, takbiran, dan berkurban.

Baca Ini:  Memahami Surat Ali Imran Ayat 27: Kekuasaan Allah Mengatur Malam, Siang, dan Rezeki Tanpa Batas

Amalan yang Sangat Dianjurkan di 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Berdasarkan hadits di atas dan penjelasan ulama, berikut amalan yang bisa kita lakukan untuk meraih keutamaan bulan Dzulhijjah:

  1. Perbanyak takbir, tahmid, dan tahlil
  2. Puasa 9 hari pertama (terutama puasa Arafah pada tanggal 9)
  3. Puasa sunah bagi yang tidak sedang berhaji
  4. Memperbanyak sedekah dan amal saleh
  5. Berkurban pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits lain:

“Tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari)

Kesimpulan

Keutamaan bulan Dzulhijjah bukan sekadar cerita sejarah, tetapi pengingat akan kemuliaan waktu, kesucian darah dan harta sesama Muslim, serta pentingnya menyampaikan ilmu. Mari kita maksimalkan amal ibadah di bulan mulia ini, karena kita akan bertemu Allah dan dimintai pertanggungjawaban atas semua amal kita.

Baca Ini:  Fatwa Crypto Muhammadiyah: Halal sebagai Aset, Haram sebagai Alat Tukar Menurut Tarjih

Semoga kita termasuk orang-orang yang memahami dan mengamalkan pesan Nabi ﷺ. Wallahu a’lam.

Penulis: Sodikin Masrukin
Editor: Redaksi Lintas 12 News


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *