Lintas12.com – Jakarta, New York, hingga Tokyo terancam tenggelam. Simak daftar 10 kota besar yang tenggelam paling cepat akibat amblesan tanah dan krisis air tanah. Simak kabar berita pilihan terpercaya selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Sebuah fakta mencengangkan datang dari sejumlah kota besar dunia. Bukan karena serangan monster atau perang nuklir, melainkan karena bumi perlahan-lahan “menelan” mereka. Dari New York yang ikonik hingga Jakarta yang padat, fenomena kota tenggelam kini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan ancaman nyata.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa amblesan tanah dan krisis air tanah menjadi biang kerok utama. Berikut adalah 10 kota besar yang tenggelam paling cepat di dunia versi data terkini, dirangkum Lintas 12 News.
1. Kiruna, Swedia – Bukan Tenggelam, Tapi Dimakan Tambang
Uniknya, kota Kiruna tidak tenggelam karena air atau tanah lunak, melainkan karena tambang bijih besi terbesar di dunia di bawahnya. Setiap kali bijih besi diambil, tanah bergerak turun. Jika tidak ada tindakan, tambang ini akan menelan seluruh kota pada 2050.
Namun, kabar baiknya, pemerintah Swedia dan perusahaan tambang LKAB merelokasi seluruh kota—bangunan demi bangunan—sejauh 3,2 km ke timur. Proyek raksasa ini ditargetkan rampung pada 2040.
2. Jakarta, Indonesia – Tenggelam 4 Meter dalam 30 Tahun
Jakarta menempati posisi mengkhawatirkan. Dalam tiga dekade terakhir, ibu kota Indonesia ini telah ambles hingga 13 kaki (4 meter). Dibangun di atas lahan rawa, Jakarta kehilangan air tanah secara masif akibat pemompaan berlebihan.
Pemerintah merencanakan Tanggul Laut Raksasa “Great Garuda” setinggi 24 meter dengan biaya Rp 600 triliun lebih. Namun para ahli khawatir proyek ini hanya mengobati gejala, bukan akar masalah: pembangunan tak terkendali dan pengelolaan air tanah yang buruk.
Ancaman Jakarta Utara Tenggelam pada 2050
Jika tak ada perubahan drastis, Jakarta Utara diprediksi akan hilang ditelan laut dalam waktu kurang dari 30 tahun.
3. New Delhi, India – Tanah Retak dan Gedung 12 Lantai Mulai Rusak
Ibukota India ini ambles hingga 11 cm per tahun di beberapa wilayah. Lebih dari 2.200 bangunan berisiko rusak struktural. Yang paling parah terjadi di dekat Bandara Internasional Indira Gandhi, di mana retakan muncul di pilar penyangga gedung 12 lantai.
Namun ada secercah harapan. Di kawasan Dwarka, warga mulai membangun lubang penampung air hujan sebagai pengganti pompa air tanah. Hasilnya, tanah di sana mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
4. Mexico City, Mexico – Tenggelam 25 cm per Tahun
Dihuni 22 juta jiwa, Mexico City dibangun di atas dasar danau purba. NASA pada 2026 (data dalam naskah) menyebut kota ini ambles hingga 25 cm per tahun. Monumen Angel of Independence bahkan harus ditambah 14 anak tangga baru karena tanah di sekitarnya terus turun.
5. New York City, AS – Ambruk Perlahan karena Gletser Kuno dan Tempat Sampah
Siapa sangka, Kota Big Apple tenggelam rata-rata 1,6 mm per tahun. Dua penyebab utamanya:
- Timbunan sampah (landfill) di bawah LaGuardia Airport dan Arthur Ashe Stadium yang membuat tanah longgar.
- Bekas gletser purba 24.000 tahun lalu yang masih memengaruhi pergerakan lempeng bumi.
6. Venesia, Italia – Tenggelam atau Tenggelamkan Romansa?
Kota kanal yang romantis ini terancam hilang dalam 300 tahun jika air laut terus naik dan tanahnya terus turun. Solusi seperti tanggung cincin atau relokasi seluruh kota butuh biaya hingga €100 miliar dan akan merusak ekosistem laguna yang jadi ikon wisata.
7. Beijing, China – Distrik Bisnis Pusat Ambles 10 cm per Tahun
Ibukota China adalah salah satu kota paling rawan air di dunia. Antara 2003–2011, beberapa area di Beijing turun hingga 76 cm. Distrik Bisnis Pusat (Central Business District) menjadi yang tercepat: 10 cm per tahun. Pemerintah China kini menutup ratusan sumur dalam tanah dan membangun saluran air sepanjang 2.414 km dari luar kota.
8. New Orleans, AS – Tenggelam karena Patahan Bumi, Bukan Manusia?
Berbeda dengan kota lain, peneliti geologi Roy Dokka menemukan bahwa 50–73% amblesan di New Orleans disebabkan oleh pergerakan tektonik di patahan sedalam 7 km, bukan ulah manusia. Namun sisanya tetap akibat drainase dan pemadatan tanah.
9. Chicago, AS – Paling Lambat, tapi Tetap Berbahaya
Dalam 100 tahun, Chicago hanya ambles 10 cm. Kelihatannya kecil, tapi cukup untuk mengganggu sistem selokan dan meningkatkan risiko banjir. Penyebabnya adalah “efek pantul” lapisan bumi setelah zaman es: material tanah mengalir ke Kanada, sementara Chicago justru turun.
10. Tehran, Iran – Sumur dan Bendungan Menghancurkan Tanah
Dengan 15 juta penduduk dan 32.000 sumur dalam, Tehran ambles hingga 25 cm per tahun di beberapa titik. Retakan tanah mulai muncul, tembok bergeser, dan solusi sulit diterapkan karena kota ini adalah wilayah terpadat di Asia Barat.
Kesimpulan: Bisakah Kota-kota Ini Diselamatkan?
Sebagian kota seperti Kiruna dan New Delhi menunjukkan bahwa tindakan nyata—relokasi atau panen air hujan—bisa memperlambat bahkan membalikkan keadaan. Namun kota-kota seperti Jakarta, Mexico City, dan Venesia masih menghadapi tantangan besar: biaya triliunan, birokrasi rumit, dan perubahan perilaku warga.
Satu hal yang pasti: fenomena 10 kota besar yang tenggelam ini adalah peringataan bahwa bumi tak akan selamanya bisa menahan beban peradaban kita. [*sod]



