Ironi Piala Dunia Inklusif: Trump Absen, AS Dianggap Menampar FIFA

Ironi Piala Dunia Inklusif: Trump Absen, AS Dianggap Menampar FIFA
48 teams, one dream. @FIFAWorldCup 2026 starts now [Foto: X]

LINTAS12.COM, JAKARTA – Ironi Piala Dunia 2026: AS menang besar, tapi Trump mangkir. Kebijakan imigrasi AS dinilai menampar semangat inklusif FIFA. Simak kabar Berita Pilihan Terpercaya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Kemenangan telak 4-1 yang diraih Timnas Amerika Serikat atas Paraguay dalam laga perdana Grup D Piala Dunia 2026, Sabtu pagi, mencatatkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, The Stars and Stripes mencetak empat gol dalam satu pertandingan Piala Dunia.

Namun, di balik euforia kemenangan Mauricio Pochettino dan pasukan, tersimpan ironi besar. Piala Dunia inklusif yang digadang-gadang FIFA justru menemui realitas pahit: ketidakhadiran Presiden AS Donald Trump dan serangkaian kebijakan imigrasi yang dinilai diskriminatif.

Trump Mangkir, Hindari Demo?

Laga bersejarah di Los Angeles—salah satu basis utama Partai Demokrat—itu tidak disaksikan langsung oleh Trump. Beralasan “jadwal padat”, Trump justru disebut sengaja menghindari cemoohan publik. Dua hari sebelumnya, ia sudah dicemooh penonton NBA di Madison Square Garden, New York.

Baca Ini:  AFCON: 35 pertandingan tak terkalahkan Aljazair berakhir setelah dikalahan E Guinea

“Hampir di setiap edisi, pemimpin tuan rumah hadir di laga pertama. Ketidakhadiran Trump adalah sinyal politik yang sangat kentara,” tulis analis sepak bola internasional dalam laporan Lintas 12 News.

Menampar FIFA: Dari Visa Hingga Penggeledahan

Yang lebih menyedihkan, kata sejumlah pengamat, adalah fakta bahwa kebijakan Trump nyata-nyata berseberangan dengan cita-cita FIFA. Presiden FIFA Gianni Infantino terus menggaungkan sepak bola yang menyatukan dunia, tapi di lapangan terjadi sebaliknya.

Beberapa insiden mencolok terjadi sebelum dan saat Piala Dunia 2026 bergulir:

  • Wasit Somalia ditolak – Omar Abdulkadir Artan, wasit terbaik Afrika yang sudah memegang visa diplomatik dan rekomendasi FIFA, ditolak masuk karena berasal dari Somalia, negara yang masuk daftar larangan AS.
  • Timnas Iran diusir base camp-nya – Seluruh laga fase grup Iran digelar di AS, tapi mereka tak diizinkan menjadikan wilayah AS sebagai base camp. Alasan: tak ada hubungan diplomatik dan status “negara musuh”.
  • Penggeledahan skuad timnas – Beberapa tim mendapatkan perlakuan memalukan di bandara, digeledah layaknya tersangka, padahal datang atas undangan FIFA.
Baca Ini:  Megawati Hangestri Sabet Opposite Terbaik dan MVP Proliga 2026, Boy Arnez Bintang LavAni

“Itu bukan hanya tidak sopan, tapi diskriminatif. FIFA seharusnya malu,” ujar Mark Pieth, jaksa Swiss yang dulu mengetuai Komite Tata Kelola Independen FIFA.

Infantino Pura-Pura Tenang, Blatter Serukan Boikot

Menghadapi situasi ini, Infantino hanya memberikan komentar normatif. Ketika ditanya Reuters apakah FIFA menyesal memilih AS sebagai tuan rumah, ia menjawab, “Sama sekali tidak.”

Namun, jauh di lubuk hati, banyak pihak yakin Infantino gemas. Bayangan tentang Piala Dunia yang inklusif pun semakin kabur.

Mantan presiden FIFA Sepp Blatter bahkan menyerukan penggemar sepak bola untuk mengabaikan Piala Dunia 2026 di AS. “Lebih baik menonton dari rumah daripada dipermalukan aparat AS,” tegas Blatter, mengulang seruan Pieth.

Baca Ini:  Cara tonton Piala Dunia 2026 di TVRI

Meksiko dan Kanada Berbanding Terbalik

Berbeda 180 derajat dengan AS, pemerintah Meksiko dan Kanada justru membuka pintu selebar-lebarnya. Tak ada penolakan visa berbasis negara, tak ada penggeledahan merendahkan. Keramahan ini kontras dengan sikap AS yang dinilai merusak semangat olahraga universal.

Kesimpulan: Sepak Bola Tak Selamanya Menyatukan

Piala Dunia 2026 memang baru berlangsung dua hari. Namun, ironi yang muncul sudah begitu kentara. Sepak bola yang menyatukan dunia—jargon indah FIFA—kini berhadapan dengan tembok kebijakan politik rill. Trump lebih peduli pada citra dan basis politiknya sendiri daripada mengakomodasi FIFA.

Dan pertanyaan besar pun menggantung: Mampukah FIFA mempertahankan mimpi inklusivitasnya di tengah realitas pahit politik global? Ataukah Piala Dunia ini justru menjadi cermin bahwa sepak bola pun tak kuasa melawan perpecahan? [*dik]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *