Lintas12.com, Jakarta – Anggota DPR Azis Subekti dorong paradigma koeksistensi hadapi konflik global. Kemenangan militer tak lagi relevan di era perang modern. Simak kabar berita pilihan terpercaya selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Di tengah eskalasi ketegangan geopolitik yang kian memanas, Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, mengajak masyarakat internasional untuk menggeser pola pikir dari orientasi kemenangan mutlak menuju paradigma koeksistensi. Menurutnya, lanskap konflik global saat ini telah berubah drastis sehingga strategi perang konvensional tidak lagi relevan.
“Kekuatan masih penting, tetapi kemenangan menjadi semakin sulit didefinisikan,” ujar Azis dalam keterangan resmi yang diterima Lintas12.com di Jakarta, Minggu (26/7).
Politisi tersebut menilai bahwa perang modern tidak lagi terbatas pada medan pertempuran fisik. Kemajuan teknologi, keterhubungan ekonomi antarnegara, serta meningkatnya kemampuan destruktif negara-negara adidaya membuat kemenangan absolut sulit diraih dan cenderung destruktif.
Azis menyoroti bahwa konflik saat ini membawa dampak sistemik yang merugikan banyak pihak, mulai dari gangguan di jalur perdagangan global, serangan siber, hingga penggunaan pesawat nirawak (drone) yang mengacaukan rantai pasok dunia.
“Kemenangan militer dapat berubah menjadi kekalahan ekonomi. Keberhasilan taktis sering kali melahirkan kerugian strategis jangka panjang,” tegasnya.
Koeksistensi Bukan Netral, tapi Keberlanjutan
Anggota DPR itu menegaskan bahwa paradigma koeksistensi yang ia dorong bukan berarti mengabaikan kepentingan nasional atau menghapus persaingan. Sebaliknya, koeksistensi adalah kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan peradaban lebih penting daripada kemenangan sesaat.
“Persaingan harus dikelola agar tidak berubah menjadi kehancuran bersama. Koeksistensi adalah seni mengelola rivalitas tanpa saling mematikan,” jelasnya.
Seruan ini sejalan dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang terus memperkuat pilar multilateralisme. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam kesempatan terpisah juga menegaskan bahwa Indonesia akan tetap berada di jalur diplomasi bebas aktif.
“Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya,” kata Menlu.
Momentum bagi Diplomasi Global
Di tengah dunia yang makin terfragmentasi dan dipenuhi rivalitas strategis, paradigma koeksistensi menjadi alternatif rasional untuk mencegah bencana kemanusiaan dan keruntuhan ekonomi global. Dengan mengedepankan diplomasi dan pengelolaan konflik, Indonesia diharapkan mampu menjadi jembatan bagi perdamaian dunia.
Azis pun berharap agar gagasan ini tidak hanya menjadi wacana, melainkan diadopsi sebagai kebijakan dalam forum-forum internasional seperti PBB dan G20.
“Inilah saatnya dunia memilih: bertahan pada jalan buntu kemenangan militer, atau beralih ke jalan koeksistensi yang berkelanjutan,” pungkasnya. [*fin]







