JAKARTA, Lintas12.com – Ancaman siber di era AI meningkat. BDO Indonesia dorong integrasi AI governance dan perlindungan data untuk bangun digital trust dan kepatuhan UU PDP. Simak informasinya dalam kabar berita pilihan terpercaya: Lintas 12 News di bawah ini.
Di tengah euforia adopsi kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital, ancaman siber di era AI justru meningkat drastis. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 3,6 miliar anomali serangan siber sepanjang 2025. Angka ini menegaskan bahwa risiko digital bukan lagi sporadis, melainkan masif dan sistematis.
Menghadapi situasi ini, BDO di Indonesia secara tegas mendorong integrasi antara AI governance, perlindungan data pribadi, dan cybersecurity sebagai fondasi utama membangun digital trust yang berkelanjutan.
Ancaman Siber di Era AI: Antara Inovasi dan Risiko Baru
Pesatnya adopsi AI, cloud, dan otomatisasi membuat perusahaan berlomba berinovasi. Namun, menurut Erikman Pardamean, IT Advisory Partner BDO Indonesia, ancaman siber di era AI tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah teknis semata.
“Adopsi AI yang cepat membuka peluang besar, tapi juga menghadirkan risiko baru: penyalahgunaan data, bias algoritma, hingga kurangnya transparansi. Tata kelola yang kuat dan pengawasan bertanggung jawab menjadi krusial,” ujar Erikman.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah ketiga pilar—AI, keamanan siber, dan perlindungan data—sering dikelola secara terpisah. Akibatnya, muncul celah risiko yang justru dimanfaatkan pelaku serangan.
Hukum dan Reputasi: UU PDP Menguatkan Urgensi Perlindungan Data
Implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) di Indonesia mengubah lanskap kepatuhan perusahaan. Perlindungan data kini bukan sekadar isu teknis, melainkan prioritas hukum, finansial, dan reputasi.
Tanpa integrasi yang baik antara tata kelola AI dan perlindungan data pribadi, perusahaan berisiko menghadapi sanksi berat sekaligus kehilangan kepercayaan publik.
Sinergi Tiga Pilar: AI, Cybersecurity, dan Data Protection
Reza Aminy, Associate Director IT & Digital BDO Indonesia, menekankan pentingnya kesadaran terintegrasi dari seluruh pemangku kepentingan.
“Pemahaman komprehensif dibutuhkan untuk membangun sinergi yang kuat. Dengan kesadaran terintegrasi, organisasi lebih siap memitigasi risiko baru dari AI, memastikan kepatuhan regulasi, menjaga reputasi, dan membangun digital trust yang berkelanjutan,” jelas Reza.
Digital Trust sebagai Aset Strategis di Era AI
Sementara itu, Johanna Gani, salah satu leader BDO di Indonesia, menilai bahwa kepercayaan digital kini sama pentingnya dengan inovasi.
“Di era teknologi berkembang lebih cepat dari sebelumnya, kepercayaan adalah aset. Organisasi perlu melihat AI, cybersecurity, dan perlindungan data sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar fungsi teknis,” ujar Johanna.
Ia menegaskan bahwa ketika ketiga aspek ini berjalan selaras, perusahaan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko, tetapi juga mampu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan, investor, dan regulator.
Masa Depan: Inovasi Berjalan Seiring Kepercayaan
Menutup pernyataannya, Erikman Pardamean menekankan bahwa tantangan ke depan bukan hanya soal adopsi teknologi, tetapi bagaimana memastikan setiap inovasi dibarengi kepercayaan.
“AI, cybersecurity, dan perlindungan data tidak bisa lagi dipandang sebagai tiga fungsi terpisah. Itu satu pondasi saling terkait dalam membangun digital trust. Organisasi yang mampu menyelaraskan ketiganya akan lebih resilien dan memiliki keunggulan kompetitif,” tegas Erikman.
Melalui penguatan kapabilitas IT Advisory, BDO Indonesia berkomitmen mendukung organisasi membangun fondasi digital trust yang kuat dengan pendekatan integrasi antara inovasi, keamanan, dan tata kelola secara berkelanjutan. [*sod]







