Menkomdigi Ajak Kaum Muda Jadi Duta Internet Sehat: Bangun Ruang Digital Aman dan Beretika

Menkomdigi Ajak Kaum Muda Jadi Duta Internet Sehat: Bangun Ruang Digital Aman dan Beretika
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menghadiri acara Kumpul Komunitas Waspada Kejahatan Digital di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (13/6/2026). [Foto: HO Kementerian Komunikasi dan Digital]

LINTAS12.COM, JAKARTA – Menkomdigi ajak kaum muda bangun ruang digital aman & beretika. Jadi duta internet sehat, lawan hoaks, ujaran kebencian, dan kejahatan siber. Simak kabar Berita Pilihan Terpercaya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid secara tegas mengajak kaum muda untuk berperan aktif dalam membangun ruang digital yang aman, beretika, serta bersih dari hoaks, ujaran kebencian, dan kejahatan siber.

Ajakan ini disampaikan dalam acara Kumpul Komunitas Waspada Kejahatan Digital di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (12/6/2026).

Kaum Muda sebagai Duta Internet Sehat

Dalam sambutannya, Meutya memohon dukungan generasi muda untuk menjadi pelopor perubahan.

“Kami mohon dibantu. Bagaimana adik-adik menjadi duta-duta untuk internet yang lebih baik, internet yang lebih sehat,” ujara.

Baca Ini:  Ancaman komputasi kuantum China beberapa dekade lagi

Menurutnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Sebagian besar aktivitas internet terjadi di ruang privat, sehingga peran aktif kaum muda sangat strategis dalam menciptakan duta internet sehat yang mampu menyebarkan kebiasaan digital positif.

Internet: Pisau Bermata Dua

Meutya mengingatkan bahwa algoritma platform digital cenderung mengangkat konten provokatif, hujatan, hingga fitnah.

“Internet itu seperti pisau bermata dua. Banyak manfaatnya, tetapi juga banyak dampak buruknya jika tidak digunakan dengan bijak,” tegasnya.

Ia juga menyoroti menurunnya minat berorganisasi dan interaksi langsung di kalangan generasi muda akibat ketergantungan media sosial. Padahal, interaksi sosial langsung membangun kepedulian, daya kritis, dan tanggung jawab bersama.

Literasi Digital Kunci Utama

Menkomdigi menekankan pentingnya literasi digital sebagai tameng dari penyalahgunaan teknologi, termasuk penyebaran hoaks dan narasi provokatif yang menyesatkan publik.

Baca Ini:  Mahasiswa Indonesia di AS Bangun Platform Belajar AI Gratis Nusantara AI Institute untuk Perluas Literasi Digital

Ia juga meluruskan isu yang sempat viral:

“Tidak betul Instagram ditutup. Gangguan itu terjadi di banyak negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah negara ASEAN.”

Masyarakat diminta untuk selalu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

Ancaman Narkoba Digital dan Peran BNN

Kombes Pol. M. Fadris Sangun Ratu Lana, Penyidik Madya BNN Sumut, mengungkap fakta mengejutkan bahwa jaringan narkotika kini memanfaatkan platform digital, media sosial, hingga game daring untuk menjangkau kalangan muda.

“Kalangan muda menjadi sasaran utama para bandar narkoba,” katanya.

BNN mengajak masyarakat menerapkan prinsip “Tiga Berani”:

  1. Berani menolak ajakan narkoba.
  2. Berani melapor jika mengetahui penyalahgunaan.
  3. Berani menjalani rehabilitasi bagi korban.
Baca Ini:  Teknologi AI Hukum Terbaru Dorong Transparansi di Tengah Kompleksitas Regulasi Indonesia

Polisi Lakukan Patroli Siber

AKBP Anggi A.P. Siahaan, Kasubdit Ditressiber Polda Sumut, menyebutkan bahwa kemajuan teknologi membuat pola kejahatan semakin kompleks.

“Kejahatan adalah bayang-bayang peradaban. Semakin maju suatu peradaban, semakin kompleks pula kejahatan yang menyertainya,” ujarnya.

Peningkatan penggunaan internet di Indonesia berisiko pada penyalahgunaan data pribadi, penipuan daring, peretasan, hingga judi online. Karena itu, kepolisian rutin melakukan patroli siber untuk memantau dan menindak konten ilegal.

Deklarasi Anti Kejahatan Digital

Puncak acara diisi dengan pembacaan Deklarasi Anti Kejahatan Digital sebagai komitmen bersama menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan peran aktif kaum muda, harapan untuk mewujudkan ekosistem digital beretika di Indonesia bukan sekadar impian. [*fin]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *