Jakarta – Kemdiktisaintek dan LPDP menjalin sinergi strategis untuk mendukung riset prioritas nasional di bidang energi terbarukan dan pengelolaan sampah. Simak detail program, target, dan dampaknya bagi inovasi Indonesia.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi memperkuat kemitraan strategis dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) guna mempercepat realisasi riset prioritas nasional. Kolaborasi ini difokuskan pada dua sektor krusial: transisi energi berkelanjutan dan inovasi pengelolaan sampah, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pertemuan yang digelar di Jakarta pada Kamis (26/3/2026), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa LPDP memegang peran vital dalam ekosistem riset dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
“LPDP merupakan salah satu pilar penting dalam pengembangan SDM dan riset nasional. Kami berharap kerja sama yang sudah berjalan baik dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan, khususnya untuk mendukung program-program penelitian prioritas,” ujar Brian.
Fokus Riset Strategis: Dari Sampah Jadi Energi
Beberapa agenda riset unggulan yang menjadi prioritas pemerintah meliputi:
- Teknologi waste-to-energy: Mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan yang bernilai ekonomis.
- Konversi kompor LPG ke kompor listrik: Mendorong transisi energi rumah tangga yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
- Adaptasi kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik: Mempercepat ekosistem mobilitas hijau di Indonesia.
Program ini tidak hanya berfokus pada solusi teknis, tetapi juga mencakup kajian holistik dari aspek sosial, ekonomi, hingga regulasi kebijakan, agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
Model Riset Desentralistik: Kampus sebagai Pusat Inovasi
Menteri Brian juga mendorong penerapan model riset yang lebih fleksibel dan desentralistik, dengan perguruan tinggi sebagai motor penggerak utama. Melalui kolaborasi erat dengan pemerintah daerah dan sektor industri, diharapkan implementasi solusi inovatif dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
“Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat implementasi solusi sekaligus memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi,” tambah Brian.
LPDP Siap Dukung dengan Skema Pendanaan Kolaboratif
Menanggapi inisiatif tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Utama LPDP, Sudarto, menyatakan kesiapan lembaga yang dipimpinnya untuk mendukung program prioritas melalui berbagai skema pendanaan, termasuk co-funding bersama mitra strategis.
Kedua pihak juga membahas integrasi antara program beasiswa LPDP dengan agenda riset nasional, serta penguatan jejaring kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Optimalisasi program internasional dan pemanfaatan diaspora akademik diharapkan dapat memperkaya kualitas dan dampak riset Indonesia di kancah global.
“Untuk program-program prioritas seperti konversi energi dan pengelolaan sampah, pada prinsipnya kami siap mendukung. Semakin cepat dirumuskan, semakin baik, dan kami terbuka untuk skema kolaborasi termasuk co-funding bersama mitra,” pungkas Sudarto.
Kolaborasi Kemdiktisaintek dan LPDP ini diharapkan menjadi katalisator bagi percepatan inovasi teknologi hijau Indonesia, sekaligus memperkuat kemandirian riset nasional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan transisi energi global.







