Sidoarjo, Lintas12.com – HUT ke-96 PSSI di Sidoarjo jadi momentum perkuat persatuan & tingkatkan prestasi. Target besar: Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News.
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-96 Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) tidak sekadar seremonial biasa. Di balik usia yang nyaris satu abad ini, PSSI menegaskan momen tersebut sebagai panggung penting untuk memperkuat persatuan sekaligus melompat lebih tinggi dalam prestasi sepak bola nasional, bahkan bermimpi menjejakkan kaki di Piala Dunia 2030.
96 Tahun Perjalanan Panjang PSSI, Dimulai Sebelum Kemerdekaan
Wakil Ketua Umum I PSSI, Zainudin Amali, dalam perayaan yang digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (19/11) mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi.
*“Perjalanan PSSI sudah 96 tahun. Ini bukan waktu yang singkat. Sejak sebelum kemerdekaan, PSSI sudah didirikan oleh klub-klub pendiri yang mempersatukan sepak bola di berbagai daerah,”* ujar Zainudin.
Ia menyebut sejumlah klub legendaris seperti Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSIM Yogyakarta, dan Persis Solo kini masih eksis dan berkompetisi di kasta tertinggi Liga 1. Sementara PPSM Magelang dan PSM Madiun, meski kini berada di level kompetisi bawah, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang PSSI.
“Kami berdoa agar semua klub pendiri bisa berada di kasta teratas. Namun, kompetisi tidak bisa diatur, ada yang di Liga 1 dan ada yang di Liga 4,” tambahnya.
Sepak Bola Sarana Persatuan, Bukan Perpecahan
Dalam sambutannya, Zainudin Amali menyoroti filosofi nama “persatuan” yang melekat pada klub-klub di Indonesia. Menurutnya, itu adalah bukti nyata bahwa sejak awal berdiri, PSSI mengusung semangat kebersamaan.
“Sepak bola mengajarkan kita untuk bertanding selama 2×45 menit. Setelah itu, kita kembali bersatu sebagai keluarga besar sepak bola Indonesia dan sebagai warga bangsa. Olahraga tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan,” tegasnya.
Momen HUT ke-96 ini pun dinilai sebagai pengingat kolektif untuk meninggalkan rivalitas beracun dan kembali pada esensi olahraga: mempererat kebersamaan.
Apresiasi untuk Legenda dan Target Piala Dunia 2030
Zainudin juga menyampaikan penghormatan mendalam kepada para legenda sepak bola nasional.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para legenda yang telah mengisi sejarah sepak bola Indonesia. Tanpa kontribusi mereka, PSSI tidak akan seperti sekarang,” ucapnya.
Tak berhenti di nostalgia, PSSI juga memasang target ambisius. Zainudin mengungkapkan bahwa organisasi tengah menyiapkan rencana jangka panjang, termasuk mimpi besar membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030.
“Kami punya mimpi besar. Mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat agar timnas Indonesia bisa masuk Piala Dunia 2030,” harapnya.
Selain itu, peningkatan prestasi untuk berbagai kelompok umur—dari U-17, U-20, U-23, hingga tim senior—terus digalakkan.
Sinergi Jadi Kunci: PSSI Tak Bisa Sendirian
Wakil Ketua Umum II PSSI, Ratu Tisha Destria, menambahkan bahwa pembangunan sepak bola Indonesia tidak bisa dilakukan sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah, swasta, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi keharusan.
“PSSI sebagai organisasi adalah lokomotif pergerakan sepak bola Indonesia, akan tetapi tidak bisa berdiri sendirian. Sesuai tema peringatan tahun ini, ‘Membangun Sepakbola Indonesia’, kita ajak seluruh elemen berkolaborasi,” ujar Ratu Tisha.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya berharap, tetapi terus bekerja tanpa lelah.
“Kalau kami pengurus, kami tidak hanya berharap, tapi bekerja. Mulai dari pembinaan usia dini sampai senior, dan tetap pada target kami di 2045. Kami pelaku, kami harus bertanggung jawab,” pungkasnya.
Dengan semangat persatuan dan kerja nyata, HUT ke-96 PSSI diharapkan menjadi titik balik kebangkitan sepak bola Indonesia menuju prestasi dunia. (Dik’s)







