Sosial  

Menteri PPPA Ungkap Jurus Jitu Atasi Kecanduan Gawai: Kembali ke Permainan Tradisional

Menteri PPPA Ungkap Jurus Jitu Atasi Kecanduan Gawai: Kembali ke Permainan Tradisional
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mendampingi Ketum Seruni Selvi Gibran menjajal permainan kelereng pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 di Laman Tugu Sirih, Kota Tanjungpinang, Kepri, Kamis (23/7/2026).

Tanjungpinang, Lintas12.com – Menteri PPPA sebut permainan tradisional solusi ampuh batasi anak bermain gawai di era digital. Simak dampak positifnya terhadap tumbuh kembang anak di sini! Simak kabar berita pilihan terpercaya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Di tengah gempuran era digital yang kian deras, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifatul Choiri Fauzi, menawarkan resep klasik namun jitu untuk mengatasi kecanduan gawai pada anak. Solusinya adalah dengan menggaungkan kembali permainan tradisional berbasis kearifan lokal.

Pernyataan ini disampaikan Menteri Arifatul saat menghadiri puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 yang digelar di Laman Tugu Sirih, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Kamis (23/7).

Baca Ini:  Tak Cuma IPK, Personal Branding Mahasiswa Jadi Senjata Wajib di Era Digital 2026

Solusi Nyata di Tengah Kecanduan Digital

Menteri Arifatul menilai bahwa melarang anak bermain gadget secara mentah-mentah bukanlah pendekatan yang bijak. Justru, ia menekankan pentingnya memberikan alternatif kegiatan yang lebih bermanfaat.

“Kita tak bisa begitu saja menyuruh anak berhenti main gadget, tapi berikan solusi. Misalnya, melalui permainan tradisional berbasis kearifan lokal,” tegasnya.

Kementerian PPPA sendiri telah menginisiasi gerakan permainan rakyat sejak peringatan HAN tahun lalu. Hal ini dinilai efektif sebagai solusi mengatasi kecanduan media sosial pada anak, karena mampu mengalihkan perhatian anak dari dunia maya ke interaksi sosial di dunia nyata.

Hari Anak Nasional: Filosofi Tinggi di Balik Permainan Rakyat

Tidak hanya sebagai pengalihan, Menteri Arifatul juga menyoroti nilai-nilai luhur yang terkandung dalam permainan tradisional. Kegiatan ini tidak hanya menyehatkan fisik, tetapi juga mengajarkan karakter.

Baca Ini:  Ketua Muhammadiyah Jateng Dukung Penuh Pembatasan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

“Permainan ini mengandung nilai filosofi yang tinggi, seperti membangun budaya antre, saling menghargai, meningkatkan kebersamaan, hingga menumbuhkan kreativitas,” ujarnya.

Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menggalakkan permainan lokal agar anak-anak Indonesia mendapatkan keseimbangan antara hiburan digital dan aktivitas fisik yang mendidik.

Suara Anak dan Tindak Lanjut

Peringatan HAN tahun ini juga menjadi wadah aspirasi bagi generasi muda. Forum Anak Indonesia menyampaikan 12 poin suara anak yang dirangkum dari 38 provinsi. Menteri Arifatul memastikan bahwa suara tersebut akan ditindaklanjuti bersama kementerian terkait.

“Anak-anak hari ini adalah pemimpin Indonesia ke depan, maka kita harus menjamin pemenuhan hak serta perlindungan anak. Kita akan ajak mereka bertemu menteri terkait untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan anak dari tingkat desa hingga nasional,” pungkasnya.

Baca Ini:  Liburan Usai, Mood Swing Datang? Ini 5 Kiat Sederhana dari Kemenkes Atasi Post-Holiday Blues

Puncak HAN ke-42 ini merupakan inisiasi Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (Seruni) Kabinet Merah Putih yang berkolaborasi dengan Kemendikdasmen dan Kementerian PPPA. [*Izah]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *