Lintas12.com, JAKARTA – Personal branding mahasiswa kini sepenting IPK di era digital 2026. Simak strategi membangun citra profesional sejak kuliah menurut pakar UNM. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News ini.
Memasuki tahun 2026, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi untuk bersaing di dunia kerja. Era digital yang kian masif menuntut setiap individu memiliki personal branding yang kuat agar dikenal, diingat, dan dilirik oleh industri.
Menurut data tren rekrutmen terbaru, perusahaan kini tidak hanya menilai kandidat dari CV formal. Jejak digital, portofolio online, hingga citra profesional di media sosial menjadi bagian vital dalam proses seleksi.
Personal Branding Bukan Sekadar Pencitraan
Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM) Jatiwaringin, Bryan Givan, menegaskan bahwa personal branding mahasiswa adalah kebutuhan strategis, bukan sekadar gaya-gayaan.
“Mahasiswa hari ini tidak hanya bersaing dengan teman sekelasnya, tetapi dengan banyak orang di luar sana. Personal branding membuat seseorang lebih mudah dikenal, diingat, dan memiliki positioning yang kuat di mata industri,” ujar Bryan kepada Lintas12.com, Ahad (3/5/2026).
Ia menjelaskan, cara membangun personal branding mahasiswa di era digital 2026 idealnya dimulai sejak masih duduk di bangku kuliah, bukan setelah lulus.
“Justru sejak menjadi mahasiswa adalah waktu terbaik untuk mulai membangun citra diri, baik melalui media sosial profesional, portofolio digital, maupun karya nyata yang dapat menunjukkan kompetensi,” tambahnya.
Kampus Digital Bisnis Dorong Mahasiswa Aktif Berkarya
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) terus mendorong mahasiswanya mengasah strategi personal branding melalui program pembelajaran berbasis proyek, organisasi, kompetisi, serta pemanfaatan platform digital seperti LinkedIn, GitHub, dan Instagram.
Fenomena ini semakin relevan dengan munculnya profesi baru seperti content creator, digital marketer, social media strategist, hingga personal consultant. Individu dengan personal branding yang solid memiliki peluang lebih besar mendapat pekerjaan, memperluas jejaring, hingga membangun usaha mandiri.
IPK dan Personal Branding Harus Seimbang
Bryan menekankan bahwa IPK vs personal branding bukanlah pertarungan, melainkan dua hal yang saling melengkapi. Personal branding yang autentik dan konsisten justru memperkuat nilai akademik seseorang.
“Personal branding bukan sekadar pencitraan, tetapi bagaimana seseorang menunjukkan value, karakter, dan keahliannya secara nyata. Konsistensi dan keaslian adalah kunci utama,” tegasnya.
Dengan pendekatan praktik, integrasi teknologi, dan penguatan kreativitas, UNM berkomitmen mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga siap tampil dan bersaing di era global.
Di tengah kompetisi yang semakin terbuka, personal branding mahasiswa bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama. Mereka yang memulainya sejak dini akan memiliki keunggulan kompetitif lebih besar menatap masa depan karier maupun bisnis. [*Finku]







