Sosial  

Pemerintah Gelar Aksi Nasional Cegah Penyalahgunaan OOT: Perlindungan Anak Muda dari Jalur Tikus Batam

Pemerintah Gelar Aksi Nasional Cegah Penyalahgunaan OOT: Perlindungan Anak Muda dari Jalur Tikus Batam
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar. [Foto: HO - BPOM]

Jakarta, Lintas12.com – Aksi Nasional cegah penyalahgunaan OOT digelar di Kepri. BPOM temukan 1,6 miliar kapsul & 54 jalur tikus di Batam. Lindungi anak muda sekarang. Simak kabar berita pilihan terpercaya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Pemerintah secara resmi menggelar Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT) di Provinsi Kepulauan Riau. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis dan terpadu untuk memperkuat pencegahan penyalahgunaan OOT secara berkelanjutan, dengan fokus utama melindungi anak dan remaja Indonesia dari bahaya laten obat-obatan tanpa resep.

Ancaman Baru: Mafia Beralih ke OOT karena Takut Hukuman Mati

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengungkapkan fakta mengejutkan. Para pelaku kejahatan kini mulai beralih dari narkotika ke OOT karena jerat hukum yang lebih ringan.

“Efeknya mirip, tetapi dia bisa bebas dari hukuman mati,” tegas Taruna di Jakarta, Selasa.

Ia bahkan mengingatkan sejarah kelam jatuhnya Tiongkok kuno akibat peredaran opium sebagai cermin bagi Indonesia hari ini. Berdasarkan Peraturan Kepala BPOM Nomor 19 Tahun 2025, saat ini sudah ada 12 jenis OOT yang ditetapkan, termasuk tramadol, triheksifenidil, dan ketamin.

Baca Ini:  Kabaharkam Buka Munas VI KBPP Polri, Harap Soliditas dan Manfaat Nyata untuk Masyarakat

Lebih lanjut, BPOM berencana memasukkan vape dan dinitrogen monoksida (gas tertawa) ke dalam daftar OOT karena peredarannya sudah terdeteksi di kota-kota besar seperti Batam.

Fakta Mengguncang: 1,6 Miliar Kapsul dan 54 Jalur Tikus di Batam

Dalam operasi penegakan hukum terbaru, BPOM menemukan angka yang mencengangkan.

“Kami menemukan 1,6 miliar kapsul,” ujar Taruna.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyita ribuan ton bahan baku yang diprediksi mampu menghasilkan 5–6 miliar kapsul dengan nilai ekonomi hingga ratusan triliun rupiah.

Yang lebih memprihatinkan, khusus untuk Kepulauan Riau, temuan intelijen menunjukkan kerentanan ekstrem.

“Di Batam saja, hanya ada dua jalur normal: udara dan pelabuhan feri. Tapi ternyata ada kurang lebih 54 jalur tikus untuk membawa makanan, minuman, obat-obatan ilegal,” ungkapnya.

Baca Ini:  Mendagri Tito Karnavian: Gaji PPPK Bisa Terbayar Jika Daerah Berani Efisiensi Anggaran

Penyalahgunaan OOT melalui jalur tikus Batam ini menjadi ancaman serius bagi perlindungan anak muda di daerah perbatasan.

Pendekatan Keluarga dan Neurosains: Remaja Belum Matang Secara Mental

Sependapat dengan BPOM, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagus Oka, menekankan bahwa pencegahan OOT tidak cukup hanya dari sisi hukum.

Ia mengutip data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang menyebut bahwa usia remaja hingga dewasa muda adalah kelompok terbesar di Indonesia.

“Untuk itu, perlindungan terhadap mereka menjadi prioritas nasional,” katanya.

Dari sisi neurosains, Isyana menjelaskan bahwa bagian depan otak remaja (prefrontal cortex) yang mengatur keputusan, emosi, dan penilaian risiko belum matang sempurna.

“Pencegahan harus dimulai dari hulu, bukan hilir. Akar yang paling dasar adalah cara berpikir, kondisi mental, dan karakter generasi muda,” tegasnya.

Di Kepri, sudah terdapat 243 kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) dan 260 Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), dengan 207 berbasis di sekolah dan kampus.

Baca Ini:  Migran Indonesia berani laut berbahaya untuk mimpi Malaysia

Gubernur Kepri: Selat Malaka adalah Pintu Darurat Narkoba

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, mengingatkan posisi geografis daerahnya yang sangat riskan.

“Kepri berbatasan langsung dengan salah satu dari 10 check points penting perdagangan dunia, yaitu Selat Malaka. Setiap tahun, rata-rata 80 ribu kapal berlalu lintas di sana,” ujar Ansar.

Dengan 98,5 persen wilayah berupa lautan, risiko penyelundupan obat-obatan ilegal sangat besar. Ia mengakui pengawasan di Kepri tidak mudah dan butuh kolaborasi semua pihak.

Kesimpulan: Aksi Nasional sebagai Benteng Terakhir

Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT di Kepri menjadi momentum penting. Dari temuan 1,6 miliar kapsul, rencana pelarangan vape, hingga 54 jalur tikus di Batam, semuanya mengarah pada satu tujuan: melindungi anak muda Indonesia dari bahaya OOT yang menyusup diam-diam.

Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat, keluarga, dan sekolah untuk bergerak bersama. Jangan sampai generasi bangsa menjadi korban berikutnya. [*dik]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *