Jakarta, Lintas12.com – Perempuan garda depan jaga lingkungan dan literasi digital. Forum Nasional Perempuan Indonesia dorong ketahanan ekologis & keluarga melek AI. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Di tengah krisis iklim dan banjir informasi digital, perempuan Indonesia disebut sebagai garda depan yang tak tergantikan. Forum Nasional Perempuan Indonesia menegaskan bahwa peran strategis perempuan meliputi tiga pilar utama: jaga lingkungan, pendidikan keluarga, dan penguatan literasi digital masyarakat.
Dalam acara bertajuk “Menjaga Ketahanan Bangsa” di Jakarta, Minggu, Direktur Teknik Konservasi Tanah dan Reklamasi Hutan Kementerian Kehutanan (Kemehut), Sri Handayaningsih, menyatakan bahwa ketahanan ekologis adalah fondasi masa depan bangsa.
“Perempuan memiliki posisi strategis karena terlibat langsung dalam pengelolaan pangan keluarga, air, energi rumah tangga, hingga ekonomi berbasis masyarakat,” ujar Sri.
Perempuan Pelindung Daerah Aliran Sungai (DAS)
Peran perempuan dalam DAS sangat nyata. Menurut Sri, perempuan berkontribusi dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai, rehabilitasi hutan dan lahan, serta pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti kopi, madu, minyak atsiri, rotan, dan serat alam.
Kontribusi ini tidak hanya meningkatkan ekonomi masyarakat tetapi juga menjaga kelestarian hutan. Ia mengajak semua pihak untuk memahami bahwa menjaga DAS berarti menjaga keberlangsungan seluruh sektor kehidupan.
“Semua daratan terbagi dalam DAS. Karena itu menjaga DAS untuk kehidupan adalah keniscayaan,” tegasnya.
Perempuan dan AI: Dari Melek Digital hingga Agen Perubahan
Tak hanya urusan lingkungan, diskusi Forum Nasional Perempuan Indonesia juga menyoroti ketahanan bangsa di bidang pendidikan, digitalisasi, dan kecerdasan buatan (AI).
Direktur Utama Robotic Explorer, Jully Tjindrawan, menjelaskan bahwa teknologi robotik dan AI kini menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan modern. Ia menegaskan bahwa perempuan dan AI harus berjalan beriringan.
“Perempuan adalah pendidik utama dalam keluarga. Karena itu perempuan Indonesia harus melek digital, memahami AI, dan mampu menjadi agen perubahan dalam menghadapi perkembangan teknologi,” kata Jully.
Jully mengingatkan, era digital menghadirkan tantangan serius: hoaks, cyberbullying, eksploitasi data pribadi, hingga paparan konten negatif terhadap anak. Karena itu, penguatan literasi digital keluarga dinilai sangat penting.
Kolaborasi Lintas Sektor
Jully pun menekankan bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas perempuan, dan masyarakat luas adalah kunci. Kolaborasi ini diperlukan untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan dan berorientasi masa depan.
Kesimpulan: Perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi subyek utama. Mulai dari jaga lingkungan hingga memimpin literasi digital di rumah, perempuan adalah garda depan ketahanan bangsa. [*izah]







