Menhaj Tegaskan “War Tiket Haji” Hanya Wacana, Jemaah Antrean 15 Tahun Tak Perlu Khawatir

Menhaj Tegaskan "War Tiket Haji" Hanya Wacana, Jemaah Antrean 15 Tahun Tak Perlu Khawatir
Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf menjawab pertanyaan wartawan terkait wacana "war" tiket haji usai rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Lintas12.com, Jakarta – Menhaj pastikan war tiket haji masih wacana. Jemaah antrean panjang tak perlu takut kuota hangus. Pembahasan dihentikan jika prematur.

Geger wacana sistem “war tiket haji” yang sempat menghebohkan jagat maya akhirnya mendapat klarifikasi resmi dari Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Moch. Irfan Yusuf. Pria yang akrab disapa Gus Irfan itu menegaskan bahwa skema perebutan tiket haji masih sekadar mimpi di siang bolong—alias wacana belaka.

“Jemaah enggak perlu takut. ‘Saya sudah antre sepuluh tahun, kok dihanguskan?’ Enggak, enggak. Tidak ada,” tegas Gus Irfan usai rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Senayan, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Pernyataan ini langsung menjadi angin segar bagi jutaan calon jemaah haji yang sudah bertahun-tahun menanti panggilan panggilan Allah ke Tanah Suci.

Terobosan atau Gagasan Prematur?

Gus Irfan mengakui bahwa ide “war tiket” sebenarnya lahir dari kegelisahan pemerintah melihat panjangnya antrean haji Indonesia. Ia ingin ada terobosan. Namun, ia dengan jujur menyebut bahwa gagasan ini masih basah, masih perlu dikunyah bersama banyak pihak.

“Kita butuh terobosan-terobosan. Tapi ini bukan keputusan sebulan dua bulan. Banyak stakeholder yang harus kita bicarakan,” ujarnya.

Bahkan dengan gaya blak-blakan, Gus Irfan menyatakan siap mengubur dalam-dalam wacana tersebut jika dinilai terlalu prematur.

“Kalau dianggap terlalu prematur, akan kita tutup dulu sampai hari ini. Sambil kita menyelesaikan haji kita yang sudah di depan mata,” katanya.

Hujan Kritik dan Dukungan Warganet

Di media sosial, wacana “war ticket” memang semara-mara menjadi buah bibir. Ada yang panik, ada pula yang justru mendukung.

Yang kontra khawatir para lansia yang sudah puluhan tahun ngantre bakal tersisih. Belum lagi potensi percaloan dan ketimpangan digital. Bagaimana dengan nenek-nenek di desa yang gaptek?

Yang pro berargumen bahwa “war tiket” justru menerapkan esensi istithaah (kemampuan) sejati. Mereka bilang, yang benar-benar mampu secara fisik, mental, dan finansial seharusnya bisa lebih prioritas. Apalagi perintah agama jelas: “haji bagi yang mampu.”

Namun, Gus Irfan menegaskan satu hal: tidak ada antrean yang akan dihanguskan.

“Baik jemaah yang sudah antre lima tahun, sepuluh tahun, 15 tahun, enggak perlu khawatir,” janjinya.

Skema Kuota Negara Tetangga Juga Masih Jauh

Selain war tiket, pemerintah juga sempat mengusulkan penggunaan kuota haji negara tetangga. Sayangnya, langkah ini pun masih mentok. Arab Saudi dinilai belum terbuka dengan ide tersebut.

“Itu sudah pernah kita jajaki, tapi pemerintah Saudi kayaknya masih belum welcome. Nanti kita coba bicara lagi,” ucap Gus Irfan.

Komisi VIII: War Tiket Tak Selesaikan Akar Masalah

Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, ikut angkat bicara. Menurutnya, wacana “war ticket” tidak akan menyelesaikan masalah fundamental haji Indonesia, karena semuanya bergantung pada kuota dari Arab Saudi.

“Proses haji kita ini tidak bisa diselesaikan oleh Indonesia sendiri. Saudi dan Indonesia harus bersepakat,” kata Marwan.

Kesimpulan: Tenang, Antrean Aman

Untuk para calon jemaah yang jantungnya berdebar kencang mendengar istilah “war tiket”, kini bisa bernapas lega. Wacana itu belum punya kaki untuk berjalan. Pemerintah pun memilih fokus pada persiapan haji tahun ini.

Jadi, sabar ya, jemaah. Antreanmu tetap aman. War ticket? Sekadar wacana. Belum perang sungguhan. (*)

Reporter: Tim Lintas12
Editor: Redaksi


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *