Washington – Ribuan warga AS turun ke jalan dalam unjuk rasa “No Kings” menolak kebijakan Donald Trump terkait deportasi, perang Iran, dan otoritarianisme. Simak liputan lengkapnya.
Gelombang unjuk rasa bertajuk “No Kings” kembali mengguncang Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026). Ribuan warga di lebih dari 3.200 lokasi di seluruh 50 negara bagian turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk upaya deportasi massal, eskalasi konflik dengan Iran, dan apa yang mereka sebut sebagai ancaman otoritarianisme.
Ini merupakan putaran ketiga dari gerakan nasional “No Kings” yang diinisiasi oleh kelompok Indivisible. Dua unjuk rasa sebelumnya pada Juni dan Oktober 2025 dilaporkan menarik antara 4 hingga 7 juta peserta di ribuan kota.
Partisipasi Tokoh Publik dan Artis
Unjuk rasa kali ini dihadiri sejumlah tokoh publik ternama. Di Minnesota, Gubernur Tim Walz dan Senator Bernie Sanders menyampaikan pidato yang menyerukan perlawanan terhadap “otoritarianisme”. Musisi legendaris Bruce Springsteen juga tampil membawakan lagu “Streets of Minneapolis” yang mengkritik kebijakan imigrasi Trump.
Sementara di New York, aktor Robert De Niro—salah satu penggerak aksi—menyatakan bahwa tidak ada presiden sebelumnya yang pernah memberikan “ancaman eksistensial” terhadap kebebasan dan keamanan warga seperti Trump.
Fokus Protes: Deportasi, Perang Iran, dan Demokrasi
Para demonstran membawa poster dan spanduk yang menyoroti kematian warga AS, Renee Good dan Alex Pretti, yang tewas dalam insiden yang melibatkan petugas imigrasi federal di Minneapolis. Mereka juga menyerukan penghentian keterlibatan militer AS dalam konflik Iran yang telah berlangsung empat minggu.
“Kami tidak akan membiarkan negara ini jatuh ke dalam otoritarianisme atau oligarki,” tegas Sanders di hadapan massa di Saint Paul.
Penyebaran Aksi ke Daerah Kecil
Menurut panitia, sekitar dua pertiga dari 3.200+ acara “No Kings” berlangsung di luar kota-kota besar—meningkat hampir 40 persen dibandingkan mobilisasi pertama pada Juni 2025. Hal ini menunjukkan meluasnya dukungan gerakan ke komunitas suburban dan pedesaan, termasuk di negara bagian yang secara tradisional mendukung Partai Republik seperti Idaho, Wyoming, dan Utah.
Ketegangan di Lapangan dan Respons Politik
Di Dallas, unjuk rasa diwarnai bentrokan kecil antara demonstran “No Kings” dan kelompok kontra-protes, termasuk yang dipimpin Enrique Tarrio, mantan pemimpin Proud Boys. Polisi setempat melakukan beberapa penangkapan.
Komite Kongres Nasional Partai Republik (NRCC) mengkritik keras keterlibatan politisi Demokrat dalam aksi ini, menyebutnya sebagai “Hate America Rallies” yang memberi panggung pada “fantasi kekerasan sayap kiri”.
Menjelang Pemilu Tengah Periode
Unjuk rasa ini digelar menjelang Pemilu Tengah Periode (midterm elections) November 2026 yang akan menentukan komposisi Kongres AS. Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump anjlok ke 36 persen—terendah sejak ia kembali ke Gedung Putih.
Leah Greenberg, co-founder Indivisible, menyatakan adanya lonjakan minat warga di wilayah suburban kompetitif seperti Bucks County (Pennsylvania), East Cobb (Georgia), dan Scottsdale (Arizona).
Suara Warga: “Kami Melawan Raja, Memperjuangkan Kebebasan”
Holly Bemiss, 54, peserta aksi di New York, menyatakan bahwa semangat protes kali ini sejalan dengan perjuangan leluhurnya dalam Revolusi Amerika. “Kami melawan raja dan memperjuangkan kebebasan. Kami hanya melakukannya lagi,” ujarnya.
Sementara Morgan Taylor, 45, yang hadir di Washington bersama anaknya, mengkritik keterlibatan militer AS di Iran. “Tidak ada yang menyerang kami. Kami tidak perlu berada di sana,” tegasnya.
Catatan Redaksi: Gerakan “No Kings” merupakan inisiatif warga sipil yang mengadvokasi demokrasi, hak konstitusional, dan akuntabilitas pemerintahan. Aksi berikutnya direncanakan akan digelar seiring perkembangan situasi politik nasional AS.







