Lintas12.com, Beijing – Dunia multipolar dimulai usai Putin-Xi Jinping tanda tangani 20 pakta. Kemitraan Rusia-China gugat dominasi dolar AS dan hegemoni Barat dalam tatanan global. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Persaingan geopolitik global memasuki babak baru. Dunia multipolar kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang dipercepat oleh penguatan kemitraan Rusia-China gugat dominasi dolar AS. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping baru saja menegaskan aliansi strategis mereka melalui penandatanganan 20 dokumen kerja sama di Beijing.
Dalam pertemuan pada Rabu (20/5) lalu, kedua pemimpin adidaya itu mengadopsi deklarasi bersama tentang penguatan kemitraan dan pembentukan tatanan dunia baru. Langkah ini dipandang sebagai tantangan terbuka terhadap dominasi global Barat yang telah berlangsung puluhan tahun.
Kerja Sama 20 Pakta dan Kritik atas Hegemoni Barat
Kedua negara sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor vital, mulai dari energi, ekonomi, transportasi, hingga teknologi tinggi. Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa China dan Rusia berpegang pada prinsip non-blok, namun ia tidak menahan diri untuk mengkritik keras praktik hegemoni Barat.
“Dunia saat ini sangat bergejolak. Kerusakan akibat tindakan sepihak dan hegemoni yang tidak terukur. Ada ancaman kembalinya hukum rimba,” tegas Xi usai pembicaraan dengan Putin.
Sementara itu, Putin menyebut hubungan kedua negara telah mencapai puncaknya dalam sejarah modern. Ia menekankan bahwa kerja sama ini terus tumbuh meski di bawah tekanan eksternal dan gejolak global.
Akhir Era Dolar AS dalam Perdagangan Bilateral
Salah satu poin paling krusial dari pertemuan ini adalah langkah masif dedolarisasi. Putin mengumumkan bahwa hampir seluruh transaksi perdagangan bilateral Rusia-China kini menggunakan rubel dan yuan, meninggalkan Dolar AS. Perdagangan bilateral keduanya telah menembus angka 200 miliar dolar AS.
Langkah ini bukan sekadar simbolis, melainkan strategi jangka panjang untuk membangun sistem keuangan yang kebal dari sanksi dan infrastruktur Barat seperti SWIFT. Rusia sendiri telah merasakan langsung dampak pembekuan aset dan pemutusan akses keuangan pasca perang Ukraina, yang mendorong Moskow mempercepat integrasi sistem pembayaran domestik dan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) milik China.
Menuju Tatanan Dunia Baru: Tak Lagi Ada Bos Tunggal
Selama tiga dekade pasca runtuhnya Uni Soviet, dunia hidup dalam sistem unipolar di mana Washington menjadi “bos tunggal” yang mengendalikan ekonomi, militer, dan politik global. Namun, keseimbangan kekuasaan global kini bergeser.
Negara-negara berkembang dan anggota BRICS kini memiliki alternatif. Mereka bisa berinvestasi dengan China, membeli energi dari Rusia, dan tetap berdagang dengan Eropa tanpa harus tunduk pada satu kekuatan. Meski dunia multipolar berpotensi membawa ketidakstabilan sementara karena persaingan beberapa kekuatan besar, era di mana satu negara bisa menentukan arah dunia sendirian perlahan memudar.
Perang abad ke-21 kini bukan lagi soal militer, melainkan soal siapa mengendalikan mata uang dan arsitektur finansial dunia. [*sod]







