lintas12.com, TEHERAN – Iran sebut EU munafik soal Selat Hormuz. Baqaei kritik Kallas: hukum internasional dipakai untuk ceramah, tapi genosida diabaikan. Baca kabar berita selengkapnya di LINTAS 12 NEWS.
Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas. Kali ini bukan tembakan atau blokade kapal tanker, melainkan perang pernyataan diplomatik yang menyiratkan kemunafikan besar-besaran. Iran dengan tegas membalas pernyataan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, soal transit di Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut bahwa Eropa telah kehilangan kredibilitas moral untuk memberi ceramah tentang hukum internasional.
“Hukum Internasional” ala EU: Dipakai Saat Nyaman, Diabaikan Saat Perang
Dalam unggahan di akun X-nya pada Minggu (19/04/2026), Baqaei merespons pernyataan Kallas yang menuntut agar Selat Hormuz tetap terbuka dan gratis untuk transit. Kallas sebelumnya memperingatkan bahwa skema “bayar untuk lewat” akan menjadi preseden berbahaya bagi rute maritim global.
Namun Baqaei membalikkan tuduhan itu dengan tajam.
“Oh, itu ‘hukum internasional’ yang EU keluarkan dari debu untuk memberi ceramah kepada orang lain, sementara diam-diam memberi lampu hijau untuk perang agresi AS-Israel—dan berpaling dari kekejaman terhadap warga Iran?!” tulis Baqaei.
Ia menambahkan bahwa kemunafikan puncak Eropa adalah kegagalan kronis dalam mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan.
Tidak Ada Hukum yang Larang Iran Bertindak
Baqaei menegaskan bahwa tidak ada satu pun aturan hukum internasional yang melarang Iran, sebagai negara pantai (coastal state), untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna menghentikan penggunaan Selat Hormuz sebagai jalur agresi militer terhadap Iran.
“Dan ‘hak lintas damai tanpa syarat’ di Hormuz? Fiksi itu tenggelam saat agresi AS-Israel membawa aset militer AS ke halaman belakang selat tersebut,” tegasnya.
Menurut Iran, kehadiran kapal perang AS dan Israel di sekitar selat strategis itu telah mengubah statusnya dari jalur komersial menjadi zona konfrontasi.
Selat Hormuz: Dari Jalur Minyak Dunia Menjadi Garis Depan Perang
Selat Hormuz dikenal sebagai titik rawan energi dunia, karena sekitar 20% minyak global melewati perairan sempit ini. Namun sejak eskalasi perang AS-Israel terhadap Iran, lalu lintas komersial normal praktis terhambat.
Pemerintah Iran beralasan bahwa peningkatan aktivitas militer asing memaksa Teheran memberlakukan pembatasan demi menjaga keamanan nasional dan mencegah selat tersebut digunakan untuk operasi musuh.
Kekhawatiran Global dan Dampak Ekonomi
Gangguan di Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran global atas pasokan energi dan keamanan maritim. Negara-negara pengimpor minyak mulai waswas karena ketidakpastian akses melalui jalur tersibuk di dunia itu.
Namun bagi Iran, ini bukan soal ekonomi semata, melainkan hak eksistensi di tengah tekanan perang proksi dan sanksi berkepanjangan.
Kesimpulan Redaksi lintas12.com:
Pernyataan Iran ini menunjukkan bahwa retorika “hukum internasional” sering kali menjadi alat politik negara adidaya dan sekutunya. Saat Selat Hormuz menjadi medan perang, ceramah tentang “transit gratis” terdengar seperti lelucon tragis.
Baca terus lintas12.com untuk perkembangan terkini dari krisis Timur Tengah. (finku)







