TEHERAN, Lintas12.com – Sayyed Khamenei tegaskan Israel waktunya habis dan Umat Islam bangkit. Iran menang atas AS dan Zionis dalam perang. Entitas Zionis bakalan runtuh. Simak kabar berita pilihan terpercaya selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Pemimpin Revolusi Islam Iran, Sayyed Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan mendalam kepada jemaah Haji dan seluruh umat Islam di dunia. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa rezim Zionis Israel kini memasuki fase akhir keberadaannya. Pernyataan Sayyed Khamenei Israel waktu habis ini menjadi sorotan utama, menyiratkan bahwa kemenangan dan kebangkitan umat Islam sudah berada di depan mata.
Hijrah Ilahi dan Senjata ‘Allahu Akbar’
Dalam sambutannya, Sayyed Khamenei menafsirkan Haji bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan momen perlawanan dan kemenangan atas penguasa zalim. Ia mendefinisikan Haji sebagai migrasi dari duniawi menuju ilahi, serta penolakan terhadap segala bentuk thaghut.
Kondisi hijrah ini, kata dia, membutuhkan pengorbanan dan kesiapan terus-menerus mengangkat panji kebenaran. Refleksi hijrah ini pernah diambil oleh rakyat Iran 47 tahun lalu ketika Revolusi Islam meledak. Dipimpin oleh Imam Khomeini, rakyat Iran melepaskan diri dari dominasi asing dengan satu senjata utama: takbir atau senjata Allahu Akbar.
Dengan senjata itu, rezim boneka Pahlavi ditumbangkan, pengaruh AS diputus, dan akar-akar Zionis dicabut dari Iran. Senjata yang sama pula yang membantu pejuang Pertahanan Suci menahan gempuran rezim Ba’ath Saddam Husein selama delapan tahun, serta mematahkan berbagai kudeta, blokade ekonomi, dan sanksi Dunia Barat.
Kemenangan Iran dan Jatuhnya Rezim Zionis
Kemenangan Iran atas Zionis dalam perang 2025 menjadi titik balik yang sangat krusial. Sayyed Khamenei menegaskan, melalui perang paksa kedua (Juni 2025) dan ketiga (Maret 2026), Republik Islam berhasil menghancurkan kekuatan “Israel”, memukul mundur AS, dan menggagalkan seluruh upaya penundukan terhadap Iran. Kemenangan ini dicapai berkat kekuatan Front Perlawanan dari Lebanon, Palestina, Irak, hingga Yaman.
Namun, kemenangan besar itu dibayar dengan kehilangan yang sangat duka. Sayyed Ali Khamenei gugur sebagai syahid di tangan “orang-orang hina dunia”. Meski demikian, kesyahidan itu justru memantulkan semangat baru rakyat Iran untuk melanjutkan estafet perjuangan.
Sayyed Mojtaba kembali mengingatkan ramalan pemimpin yang syahid itu sepuluh tahun lalu: “Israel” tidak akan bertahan 25 tahun lagi. Kini, entitas yang ia sebut sebagai “tumor kanker” itu semakin dekat dengan garis akhir kepunahannya.
Umat Islam Bangkit dan Ritual Bara’ah
Di tengah situasi global tersebut, ritual bara’ah atau penolakan terhadap musuh-musuh Tuhan dalam ibadah Haji tahun ini memiliki makna ganda. Ritus bara disavowal of polytheists menempatkan AS dan rezim Zionis sebagai target penolakan utama.
Sayyed Khamenei menekankan bahwa slogan “Matilah Amerika, Matilah Israel” harus menjadi nyanyian perlawanan Umat Islam bangkit dan seluruh kaum tertindas di dunia. Ia juga meminta jemaah Haji asal Iran untuk menceritakan kemenangan perang ketiga kepada saudara-saudara Muslim mereka guna menanamkan harapan akan masa depan yang cemerlang.
Masa Depan Milik Peradaban Islam
Menutup sambutannya, pemimpin Iran mengeluarkan seruan langsung kepada pemerintah dan negara-negara Islam untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama. Ia menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah telah melampaui titik balik.
Kedudukan AS di kawasan ini terus merosot dan tidak akan lagi menemukan tempat berpijak yang aman.
“Masa depan adalah milik umat Islam dan peradaban Islam yang baru,” tegasnya.
Sayyed Khamenei kemudian menutup pidato dengan doa kedatangan Imam Mahdi serta membaca ayat dari Surat an-Nur yang menjanjikan kekuasaan dan rasa aman bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. [*dik]







