LINTAS12.COM, NEW YORK – Israel masuk daftar hitam PBB atas kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina. Netanyahu pun ‘ngambek’ dan putus hubungan dengan Sekjen Guterres. Simak kabar berita pilihan terpercaya selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
PBB daftar hitam penjahat seksual resmi menyertakan Israel sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan seksual di zona konflik. Keputusan ini memicu reaksi keras dari pemerintah Israel, yang memutuskan untuk memutus hubungan dengan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Israel Masuk Daftar Hitam PBB setelah Laporan Kekerasan Seksual Sistematis
Berdasarkan data yang diperoleh Lintas12.com, laporan tahunan Sekjen PBB tentang kekerasan seksual terkait konflik (CRSV) pada Agustus lalu telah mengutip “informasi yang dapat dipercaya” bahwa pasukan keamanan Israel melakukan kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina di penjara dan pusat penahanan.
Inspektur PBB bahkan tidak diberi akses ke fasilitas-fasilitas tersebut, semakin memperkuat dugaan adanya pelanggaran berat hak asasi manusia. Israel masuk daftar hitam PBB setelah berbagai lembaga internasional mendokumentasikan pola sistematis penyiksaan dan pelecehan seksual.
Kesaksian Korban Palestina dan Aktivis Asing
Warga Palestina yang ditahan sejak perang brutal Israel di Gaza (2023) telah lama mengungkap perlakuan tidak manusiawi, termasuk pemerkosaan dan penyiksaan. Laporan Konsorsium Perlindungan Tepi Barat bahkan menyebut bahwa kekerasan seksual oleh pemukim dan tentara Israel memaksa warga Palestina meninggalkan Tepi Barat yang diduduki.
Tak hanya warga Palestina, aktivis asing dalam armada bantuan ke Gaza juga mengaku mengalami pelecehan saat ditahan Israel, dengan setidaknya 15 kasus penyerangan seksual atau pemerkosaan.
Israel Ngambek ke PBB, Putus Hubungan dengan Guterres
Menanggapi laporan tersebut, pemerintah Israel menunjukkan sikap frontal. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, dalam video yang diunggah di X, menyatakan:
“Kami sudah selesai dengan sekretaris jenderal ini. Keputusan memasukkan Israel ke daftar hitam dan menuduh kami menggunakan kekerasan seksual sebagai senjata perang adalah keterlaluan.”
Misi Israel untuk PBB mengumumkan tidak akan melakukan kontak dengan kantor Sekjen selama Guterres menjabat. Israel ngambek ke PBB ini semakin memperburuk hubungan Israel PBB terburuk sejak 7 Oktober 2023.
Kecaman dan Serangan Balik ke Sekjen
Menariknya, Israel juga menyebut PBB sebagai organisasi “terpolitisasi dan korup”. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menulis di X bahwa PBB “secara sistematis menargetkan Israel sebagai misi utamanya”.
Padahal, hingga saat ini, perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina, dan Sekjen PBB Antonio Guterres sudah dinyatakan sebagai persona non grata oleh Israel sejak 2024.
Tanggapan Pakar PBB: Hukum Pelaku, Bukan Menghukum Sekjen
Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia dan Kontra Terorisme, Ben Saul, memberikan tanggapan bijak atas sikap Israel. Dalam unggahannya di X, Saul menulis:
“Daripada ‘memutus semua hubungan’ dengan Sekjen PBB karena mengungkap kekerasan seksual yang dilakukan pasukan Israel, saya mendesak Israel untuk memutuskan semua hubungan dengan pelaku mana pun – dan mengadili serta menghukum mereka.”
Saul menegaskan bahwa Israel masuk daftar hitam PBB bukanlah tindakan politis, melainkan konsekuensi dari bukti-bukti kredibel yang dikumpulkan PBB.
Kesimpulan
Masuknya Israel ke dalam daftar hitam penjahat seksual versi PBB menjadi babak baru dalam ketegangan global. Alih-alih melakukan investigasi internal dan menghukum pelaku, pemerintah Israel justru memilih “ngambek” dan memutus hubungan diplomatik dengan Sekjen PBB. Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab atas dugaan kejahatan perang yang serius.
Lintas 12 News akan terus memantau perkembangan kasus ini, termasuk apakah komunitas internasional akan mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Israel terkait laporan kekerasan seksual sistematis di wilayah pendudukan. [*dik]







