Global  

AS Percepat Penarikan Pasukan dari Eropa, Fokus Hadapi China di Indo-Pasifik

AS Percepat Penarikan Pasukan dari Eropa, Fokus Hadapi China di Indo-Pasifik
ILUSTRASI - Peralatan dan kendaraan Angkatan Darat AS disiapkan untuk pengiriman di Pelabuhan Esbjerg, Denmark, setelah latihan militer pada 3 April 2025. [fOTO: Bo Amstrup/Ritzau Scanpix/AFP via Getty Images]

LINTAS12.COM, JAKARTA – AS percepat penarikan pasukan dari Eropa, sinyal prioritas bergeser ke China. NATO diminta mandiri. Ini dampak bagi keamanan global. Simak kabar berita pilihan terpercaya selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Dunia tengah menyaksikan pergeseran peta kekuatan global. Amerika Serikat dilaporkan akan mempercepat penarikan pasukan dari Eropa, sebuah langkah yang tidak hanya bersifat teknis militer, tetapi juga sinyal tegas perubahan prioritas strategis Washington: dari Eropa menuju Indo-Pasifik, dengan China sebagai fokus utama.

Laporan surat kabar Jerman, Welt am Sonntag, menyebut bahwa rencana ini akan dipresentasikan AS kepada sekutu NATO bulan depan. Sebelumnya, Washington telah mengumumkan penarikan 5.000 tentara dari Jerman—negara yang selama puluhan tahun menjadi pangkal kekuatan militer Amerika di Eropa.

Mengapa AS Tinggalkan Eropa? Ini Alasan Utamanya

Beban Pertahanan dan Kritik “Menumpang Gratis”

Pemerintahan Presiden Donald Trump semakin terbuka mempertanyakan mengapa AS harus terus menanggung beban pertahanan negara kaya. Menteri Perang Pete Hegseth, dalam Dialog Shangri-La di Singapura, menyampaikan pernyataan keras:

Baca Ini:  Ekspor minyak negara-negara Teluk bisa terhenti dalam beberapa minggu

“Era Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir. Kita membutuhkan mitra, bukan protektorat.”

Meski seluruh 32 anggota NATO akhirnya memenuhi target 2 persen PDB untuk pertahanan pada 2025, AS masih menyumbang sekitar 60–62 persen dari total pengeluaran militer aliansi. Hegseth kembali menyebut praktik ini sebagai bentuk “menumpang gratis” (free riding).

Target 5 Persen PDB Dinilai Tidak Realistis

Perdebatan memanas setelah NATO menyepakati target baru alokasi 5 persen PDB untuk pertahanan pada 2035. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebutnya “tidak masuk akal” dan kontraproduktif. Belgia dan Slovakia juga menyampaikan keberatan serupa.

Fokus Baru Washington: China Jadi Prioritas Utama

Penarikan pasukan AS dari Eropa tidak bisa dilepaskan dari ambisi Washington menghadapi kebangkitan China. Hegseth secara eksplisit menghubungkan peningkatan belanja pertahanan sekutu dengan kebutuhan AS mengalihkan sumber daya ke kawasan Indo-Pasifik.

“Kami ingin menghadapi hegemoni China,” tegas Hegseth.

Artinya, semakin sedikit sumber daya yang dikeluarkan AS untuk menjaga Eropa, semakin besar kemampuan Washington memusatkan perhatian pada persaingan strategis dengan Beijing—dari Laut China Selatan, Selat Taiwan, hingga teknologi semikonduktor.

Baca Ini:  Strait of Hormuz Kembali Dikendalikan Penuh Iran: AS Dituding Lakukan Pembajakan Laut

Dari Berlin ke Beijing, dari Atlantik ke Pasifik

Pergeseran ini menandai babak baru dalam politik global. Jika selama Perang Dingin musuh utama AS adalah Rusia, kini China menjadi prioritas baru. Setiap kapal perang, personel, dan dolar pertahanan mulai dievaluasi dengan satu pertanyaan: lebih dibutuhkan di Eropa atau Indo-Pasifik?

Dampak Penarikan Pasukan AS bagi NATO: Bisakah Eropa Mandiri?

Kehadiran sekitar 35.000 personel militer AS di Jerman selama ini menjadi tulang punggung logistik, komando, dan mobilisasi pasukan NATO. Penarikan besar-besaran akan menciptakan kekosongan yang tidak mudah diisi.

Kekhawatiran Negara-Negara Eropa

Banyak pengamat melihat langkah ini sebagai sinyal berkurangnya komitmen keamanan AS terhadap Eropa. Negara-negara Eropa kini dihadapkan pada pertanyaan sulit: mampukah mereka berdiri sendiri?

Selama bertahun-tahun, strategi pertahanan Eropa dibangun dengan asumsi bahwa AS akan selalu menjadi kekuatan utama di belakang NATO. Jika pasukan AS berkurang, Eropa harus:

  1. Meningkatkan anggaran pertahanan secara drastis
  2. Memperbesar kapasitas militer nasional
  3. Memperkuat koordinasi internal NATO tanpa AS
Baca Ini:  Turki Tolak Wilayah Udara Dilewati Pesawat Presiden Israel Isaac Herzog, Rute Memutar 8 Jam

Semua itu membutuhkan waktu, biaya besar, dan konsensus politik yang sulit.

Hubungan Trans-Atlantik Memanas: Iran Jadi Pemicu Tambahan

Selain masalah pendanaan, hubungan AS-Eropa juga tertekan akibat perbedaan sikap terhadap Iran. Spanyol menolak penggunaan pangkalan bersama untuk operasi ofensif AS terhadap Iran. Prancis dan Jerman lebih memilih jalur diplomasi.

Penolakan ini memicu kritik keras dari Trump. Bagi Gedung Putih, negara-negara yang menikmati perlindungan keamanan AS seharusnya menunjukkan dukungan lebih besar terhadap kepentingan strategis Washington.

Kesimpulan: Dunia Memasuki Era Baru

AS percepat penarikan pasukan dari Eropa bukan sekadar relokasi militer. Ini adalah perubahan doktrin kebijakan luar negeri AS: dari mempertahankan Eropa menjadi menahan China.

Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah NATO akan berubah, melainkan seberapa cepat Eropa mampu berdiri dengan kekuatan pertahanannya sendiri, ketika Amerika mulai mengalihkan pandangannya ke Timur.

Dunia mungkin sedang menyaksikan awal dari berkurangnya dominasi keamanan Amerika di Eropa, dan dimulainya persaingan superpower abad ke-21 di Asia. [*dik]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *