Global  

Kerja Sama Militer Rusia-India Lewat RELOS: Ancaman Gesekan di Perairan Indonesia?

Kerja Sama Militer Rusia-India Lewat RELOS: Ancaman Gesekan di Perairan Indonesia?
Armada laut Rusia.

Lintas12.com, Jakarta – Perjanjian RELOS Rusia-India buka akses Samudra Hindia. Dampaknya ke perairan Indonesia? Simak analisis dampak geopolitik dan militerisasi kawasan. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News.

Perairan Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai jalur perdagangan global tersibuk, kini menghadapi ancaman baru yang tak kasatmata namun nyata: meningkatnya lalu lintas militer kekuatan besar. Setelah kapal-kapal perang AS dan sekutunya kerap melintas, kini giliran Rusia yang mendapat “jalan tol” strategis menuju Samudra Hindia melalui perjanjian RELOS dengan India.

Kesepakatan yang mulai berlaku awal tahun ini ini bukan sekadar pakta logistik biasa. Ia mengubah peta kekuatan di kawasan dan menempatkan Indonesia di posisi yang rentan terhadap gesekan antar monster laut dunia.

Apa Itu RELOS dan Mengapa Berbahaya bagi Keseimbangan Kawasan?

Perjanjian Pertukaran Timbal Balik Dukungan Logistik (RELOS) antara Rusia dan India memungkinkan kedua negara menggunakan pangkalan militer, pelabuhan angkatan laut, serta wilayah udara masing-masing, baik dalam kondisi damai maupun krisis.

Secara teknis, RELOS mengizinkan pengerahan hingga 3.000 personel militer, lima kapal perang, dan 10 pesawat di wilayah mitra. Bagi Rusia, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan: akses langsung ke Samudra Hindia yang selama ini berada di luar jangkauan Moskow.

“Rusia kini bisa ’parkir’ kapal perangnya di dekat jalur perdagangan vital tanpa harus bersandar di pangkalan yang jauh,” ujar analis geopolitik dalam laporan Aljazeera.

Dampak RELOS bagi Perairan Indonesia – Antara Peluang dan Tekanan

Indonesia tidak menandatangani RELOS, namun letak geografisnya yang berada di persimpangan Samudra Hindia dan Pasifik membuatnya tidak bisa bersikap biasa.

Jalur Laut Strategis Kian Padat oleh Militer Asing

Dengan terbukanya akses Rusia ke Samudra Hindia melalui India, intensitas aktivitas militer dan logistik di selat-selat vital seperti Malaka, Sunda, dan Lombok diperkirakan melonjak.

  • Risiko gesekan militer antara kapal Rusia, AS, China, dan India di perairan yang sama meningkat.
  • Potensi kesalahan manuver atau insiden tak terduga di laut menjadi mimpi buruk bagi kedaulatan Indonesia.

Indonesia Terjepit di Antara Dua Blok?

India menunjukkan bahwa strategi multi-alignment mungkin menjadi jalan baru. New Delhi tetap dekat dengan AS (via perjanjian LEMOA) sekaligus memperdalam hubungan dengan Rusia.

Namun, tekanan terhadap Indonesia untuk “memilih kubu” semakin kuat. Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia justru berada di titik kritis:

  • Peluang: Memperluas kerja sama dengan semua pihak tanpa ikatan eksklusif.
  • Ancaman: Terseret dalam kompetisi kekuatan besar yang semakin tidak terkendali.

Militerisasi Kawasan Indo-Pasifik – Bom Waktu yang Siap Meledak?

RELOS bukan fenomena tunggal. Ia hadir bersama penguatan AUKUS (AS-Inggris-Australia), konsolidasi QUAD, dan ekspansi militer China yang semakin agresif.

Kombinasi ini menciptakan konsentrasi kekuatan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya di sekitar perairan Indonesia.

KekuatanAkses di Perairan Indonesia (via mitra)
ASYa (LEMOA dengan Filipina, Singapura)
RusiaMulai terbuka (via RELOS dengan India)
ChinaMelalui pangkalan di Laut Natuna & Sri Lanka
IndiaAkses ke selat melalui pangkalan di Andaman

“Kawasan Indo-Pasifik tidak lagi sekadar ruang perdagangan global, tetapi menjadi arena kompetisi terbuka kekuatan besar,” tulis analis dalam laporan yang dirilis awal tahun ini.

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

Indonesia tidak bisa hanya bersikap reaktif. Kesiapan menjaga kedaulatan maritim harus ditingkatkan, termasuk:

  1. Memperkuat sistem pemantauan jalur laut (radar, patroli maritim, satelit).
  2. Meningkatkan diplomasi preventif dengan semua pihak agar perairan Indonesia tidak menjadi “tempa gesekan”.
  3. Mengaktifkan kembali wacana poros maritim dunia sebagai landasan kebijakan luar negeri yang tegas dan stabil.

Sebagai penutup, RELOS adalah pengingat bahwa perubahan besar dalam geopolitik global selalu berpusat di laut. Dan Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, berada tepat di pusat badai tersebut. Apakah kita siap?[*sod]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *