Global  

Iran Kecam AS Langgar Gencatan Senjata di Hormozgan, Ancaman Respons Tegas & Diplomasi Tetap Jalan

Iran Kecam AS Langgar Gencatan Senjata di Hormozgan, Ancaman Respons Tegas & Diplomasi Tetap Jalan
Seorang pria memegang papan bertuliskan, dari kiri, mendiang pendiri Revolusi Iran Sayyed Ruhollah Khomeini, mendiang Pemimpin Iran Sayyed Ali Khamenei, dan Pemimpin Iran saat ini Sayyed Mojtaba Khamenei selama upacara penghormatan bagi angkatan bersenjata dan mereka yang tewas dalam agresi AS-Israel terhadap Iran di Masjid Agung Imam Khomeini di Teheran, Iran, 24 Mei 2026. [Foto: AP]

TEHERAN, Lintas12.com – Iran kecam AS langgar gencatan senjata di Hormozgan. Teheran ancam respons tegas, tapi tetap buka jalur diplomasi. Rubio klaim kesepakatan masih mungkin. Simak kabar berita pilihan terpercaya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Iran secara resmi mengecam keras Amerika Serikat atas pelanggaran gencatan senjata di wilayah Hormozgan, provinsi strategis yang membentang di sepanjang Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Iran, Selasa (26/5), menyatakan bahwa Teheran akan merespons dan tidak akan ragu membela diri, sembari tetap berkomitmen pada solusi diplomatik.

Iran: “Tak Ada Agresi yang Tak Dibalas”

Dalam pernyataan resminya, Iran kecam AS dengan menyebut tindakan Washington sebagai “pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB Pasal 2.” Pemerintah Iran menegaskan, “Kami tidak akan membiarkan, dalam keadaan apa pun, agresi terhadap keamanan nasional kami berlalu tanpa balasan, dan akan merespons dengan cara yang paling keras terhadap setiap ancaman yang menargetkan rakyat Iran.”

Baca Ini:  AS bisa memberi sanksi kepada Putin secara pribadi jika Rusia menyerang Ukraina

Teheran juga memperingatkan AS tentang “bahaya melakukan kesalahan strategis lain,” seraya menyerukan masyarakat regional dan internasional untuk menyadari bahwa pendekatan Washington terhadap Iran selama empat dekade terakhir justru membuktikan bahwa strategi Iran—menggabungkan diplomasi dengan deteransi di lapangan—lahir dari pemahaman mendalam tentang dinamika kekuatan negara-negara agresif.

Serangan AS di Tengah Negosiasi Doha

Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), AS melancarkan agresi terhadap lokasi yang diklaim sebagai tempat peluncuran rudal Iran di selatan Iran pada Senin (25/5). Serangan juga menargetkan kapal-kapal yang diduga hendak menanam ranjau laut. Pelanggaran gencatan senjata di Hormozgan ini terjadi tepat ketika negosiator senior Iran tiba di Doha untuk putaran pembicaraan baru guna mengakhiri konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Baca Ini:  Para analis memperingatkan tentang pergeseran pasar LNG jangka panjang

Situasi semakin panas seiring intensifikasi agresi militer Israel ke Lebanon. Guncangan juga melanda pasar energi global, dengan harga minyak berfluktuasi karena kekhawatiran serangan itu dapat mengganggu upaya pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur vital pengiriman bahan bakar internasional.

Sementara itu, juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, mengklaim serangan itu sebagai “tindakan membela diri untuk melindungi pasukan AS dari ancaman pasukan Iran,” tanpa memberikan rincian operasional lebih lanjut.

Rubio: Kesepakatan dengan Iran Masih Mungkin

Di tengah ketegangan, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran masih bisa dicapai dalam hitungan hari, meskipun terjadi pelanggaran baru. Berbicara kepada wartawan di Jaipur, India, Rubio mengakui pembicaraan terus berlangsung di Doha.

“Ada beberapa pembicaraan yang terus berjalan di Qatar hari ini, jadi kita lihat apakah kita bisa membuat kemajuan,” ujar Rubio. Ia menambahkan, negosiasi saat ini berkisar pada “bahasa spesifik dalam dokumen awal” dan mungkin membutuhkan “beberapa hari” untuk finalisasi.

Baca Ini:  Ekspor minyak negara-negara Teluk bisa terhenti dalam beberapa minggu

Komitmen Diplomasi & Ancaman Nyata

Dalam pernyataan terpisah, Iran kembali menegaskan komitmennya pada jalur diplomasi, tetapi memperingatkan bahwa respons tegas Iran terhadap serangan AS tetap menjadi opsi terbuka jika kedaulatan nasional terusik. “Kami tidak akan mentolerir setiap bentuk agresi, termasuk pelanggaran di Hormozgan,” demikian pernyataan Kemenlu Iran.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih terkait kecaman Iran. Namun, para analis menilai bahwa kombinasi antara tekanan militer dan meja negosiasi menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang ada, sekaligus membuka peluang diplomatik yang sempit namun krusial bagi stabilitas kawasan. [*dik]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *