Global  

Hasil Gagal di Islamabad: Iran Tolak Permintaan Berlebihan AS Soal Selat Hormuz, Tegaskan Diplomasi Tak Pernah Mati

Hasil Gagal di Islamabad: Iran Tolak Permintaan Berlebihan AS Soal Selat Hormuz, Tegaskan Diplomasi Tak Pernah Mati
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei [Foto; Tasnim]

Lintas12.com, Islamabad – Putaran diplomasi maraton antara Iran dan Amerika Serikat yang digelar di Islamabad, Pakistan, resmi berakhir tanpa membuahkan kesepakatan konkret. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi bahwa meskipun pembicaraan berlangsung hingga total 25 jam, tuntutan berlebihan dari pihak Washington menjadi batu sandungan utama yang menggagalkan kerangka kerja sama.

Dalam keterangan pers yang dikutip Lintas12.com, Kamis (11/4/2026), Baqaei menegaskan bahwa perundingan yang digelar di tengah suasana penuh ketidakpercayaan ini memang sejak awal tidak diharapkan tuntas dalam satu pertemuan. “Perundingan ini berlangsung setelah 40 hari perang yang diberlakukan dan dilakukan dalam atmosfer kecurigaan. Wajar jika kita tidak berharap mencapai kesepakatan dalam satu pertemuan,” ujar Baqaei.

Pihak Iran menilai sikap tim perunding AS jauh dari kata rasional dan realistis. Delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araqchi, serta Ali Baqeri bersama komite ahli, berhasil menggagalkan upaya AS untuk meraih di meja perundingan apa yang gagal mereka raih di medan perang.

Baca Ini:  Israel Masuk Daftar Hitam PBB untuk Kekerasan Seksual, Hubungan dengan Sekjen Guterres Putus

Isu Selat Hormuz dan Material Nuklir Jadi Pemicu Jalan Buntu

Sumber diplomatik yang dekat dengan ruang perundingan mengungkapkan seperti dikutip Lintas12.com dari laman Tasnim bahwa ambisi berlebihan AS menyasar dua isu krusial yang sangat sensitif bagi kedaulatan Iran: pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz serta tuntutan pemindahan material nuklir dari wilayah Iran.

“Di ruang negosiasi, pihak Amerika bermaksud mencapai tujuan yang gagal mereka capai melalui agresi militer. Namun, delegasi Iran dengan tegas menjaga hak-hak fundamental bangsa di bidang politik, militer, dan teknologi nuklir damai,” ungkap sumber tersebut.

Baqaei sendiri mengakui adanya penambahan isu baru yang memperumit pembicaraan. “Beberapa isu baru, seperti isu Selat Hormuz, ditambahkan ke dalam negosiasi ini, yang masing-masing memiliki kompleksitasnya sendiri,” jelasnya.

Baca Ini:  Trump Mundur dari Ancaman Perang, Sepakati Gencatan Senjata 2 Pekan & Proposal 10 Poin Iran di Islamabad

Meskipun mengalami kebuntuan, Teheran menegaskan bahwa jalur komunikasi tidak sepenuhnya terputus. Baqaei menyebut kedua pihak telah “mencapai pemahaman pada sejumlah isu” namun masih terdapat “perbedaan pendapat pada 2-3 hal penting”.

“Diplomasi Tak Pernah Mati”

Di tengah laporan kegagalan ini, Iran tetap menunjukkan komitmennya pada jalur diplomatik. Baqaei menekankan prinsip fundamental politik luar negeri negaranya.

“Diplomasi tidak pernah berakhir. Alat ini adalah untuk melindungi kepentingan nasional, dan para diplomat harus menjalankan tugas mereka baik di masa perang maupun damai,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan ke depan sangat bergantung pada keseriusan dan niat baik pihak lawan serta pengakuan atas hak-hak sah Iran.

Baca Ini:  Turki Tolak Wilayah Udara Dilewati Pesawat Presiden Israel Isaac Herzog, Rute Memutar 8 Jam

Pada kesempatan tersebut, Juru Bicara Kemlu Iran juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada pemerintah dan rakyat Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shahbaz Sharif, Kepala Staf Angkatan Darat Field Marshall Asim Munir, serta Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar, atas keramahan dan fasilitas yang diberikan selama perundingan intensif tersebut.

Analisis: Jalan Panjang Menanti

Dengan berakhirnya putaran Islamabad, masa depan perundingan nuklir dan ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase ketidakpastian. Sikap keras AS yang dinilai tidak realistis oleh Teheran, terutama soal intervensi terhadap Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis dunia, menjadi sinyal bahwa jeda ketegangan masih akan berlangsung cukup panjang. Namun, pernyataan “diplomasi tak pernah mati” dari Teheran menyisakan secercah harapan bahwa dialog akan kembali dibuka di masa mendatang. (Tim Redaksi)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *