TEHERAN, Lintas12.com – Iran sebut Trump buat 7 klaim palsu soal perang dalam satu jam. Selat Hormuz terancam ditutup jika blokade AS berlanjut. Simak berita selengkapnya hanya di Lintas 12 News ini.
Juru bicara Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebarkan tujuh klaim palsu terkait perang dengan Iran hanya dalam kurun waktu satu jam. Tuduhan ini merespons unggahan gencar Trump di media sosial Truth Social.
“Presiden Amerika Serikat membuat tujuh klaim dalam satu jam, ketujuh-tujuhnya adalah palsu,” tulis Ghalibaf di X, dikutip Sabtu (18/4/2026).
Ghalibaf dengan tegas menyatakan bahwa kebohongan-kebohongan tersebut tidak akan membuat AS menang, baik dalam perang maupun negosiasi. “Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tetap tidak akan dibuka,” tegasnya.
Daftar 7 Klaim Palsu Trump Versi Iran
Berikut tujuh pernyataan Trump yang disebut Ghalibaf sebagai kebohongan:
- Iran setuju tidak pernah lagi menutup Selat Hormuz.
Trump mengklaim Iran telah berjanji untuk tidak menggunakan selat itu sebagai senjata. - Gencatan senjata tidak terkait dengan Lebanon.
Trump memisahkan kesepakatan dengan Iran dari situasi Lebanon. - Iran memindahkan ranjau laut dengan bantuan AS.
Klaim ini disebut tidak berdasar oleh Iran. - AS akan mengambil ‘debu nuklir’ Iran dari hasil bom B2.
Trump menyebut tidak ada uang yang ditukar dalam proses ini. - Selat Hormuz dibuka, tapi blokade tetap berlanjut untuk Iran.
Trump mengklaim transaksi dengan Iran harus selesai 100%. - Iran mengumumkan Selat Hormuz dibuka penuh.
Faktanya, Iran mengancam menutup kembali jika blokade terus berlangsung. - NATO menawarkan bantuan, tapi ditolak AS.
Trump menyebut NATO sebagai “macan kertas”.
Situasi Terkini Selat Hormuz
Lebih dari 30 kapal komersial saat ini sedang menuju Selat Hormuz, terdiri dari 23 kapal dari Teluk Persia dan 8 kapal dari Teluk Oman. Namun, Iran menegaskan bahwa blokade AS akan berujung pada penutupan kembali jalur maritim strategis itu.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa Inggris dan Prancis akan memimpin misi militer internasional untuk melindungi kebebasan navigasi di Selat Hormuz segera setelah kondisi memungkinkan. (*kin)







