Jakarta (Lintas 12 News) – Iran kuasai Hormuz, tolak dolar AS lewat yuan & stablecoin. Pakar: Serangan ke Iran justru bikin harga minyak tembus USD 150-200 per barel. Simak analisisnya secara lengkap dan mendalam di halaman lintas12.com di bawah ini!
Dunia kembali dihadapkan pada skenario yang selama ini dianggap tabu: kekuatan di balik petrodolar mulai bergeser, dan kali ini Iran yang memegang kunci utamanya. Bukan dengan rudal atau ancaman perang terbuka, tetapi dengan strategi senyap yang justru lebih mematikan bagi hegemoni dolar Amerika Serikat.
Dalam sebuah pernyataan eksklusif kepada Sputnik, pakar energi global Dr. Mamdouh G. Salameh mengungkapkan bahwa Iran telah secara de facto menguasai Selat Hormuz sebagai tuas politik-ekonomi yang nyaris sempurna. “Iran tidak perlu menutup selat. Cukup dengan sistem pungutan (toll system) yang menggunakan yuan China dan stablecoin, mereka sudah menggerogoti dominasi petrodolar,” ujar Salameh.
Strategi Iran: Dari Sanksi Maksimal Menjadi Bumerang
Washington mungkin menganggap kampanye maximum pressure terhadap Tehran masih berjalan. Namun data di lapangan berbicara lain. Dr. Salameh menegaskan bahwa strategi AS terhadap Iran telah gagal total jauh sebelum hari ini.
Buktinya? Iran tetap mengekspor minyak mentah antara 1,5 hingga 1,7 juta barel per hari. Fakta yang lebih mengejutkan: sekitar 90 persen dari volume itu mengalir ke China. Dan yang terpenting, pembayaran dilakukan bukan dalam dolar AS, melainkan yuan atau melalui skema barter yang cerdik.
Lebih lanjut, pendapatan yuan tersebut dapat dikonversi menjadi emas batangan melalui Shanghai Gold Exchange. Ini adalah lompatan strategis yang membuat sanksi keuangan AS kehilangan gigi taringnya.
Ancaman Tersembunyi: Jika AS Berani Serang Infrastruktur Iran
Dalam beberapa pekan terakhir, beredar wacana bahwa AS dapat melumpuhkan ekspor Iran dengan menyerang infrastruktur IT dan energi mereka. Tujuannya: memutus aliran minyak ke China dan merusak sistem pembayaran alternatif.
Namun, Dr. Salameh memperingatkan bahwa pandangan ini berbahaya karena mengabaikan realitas fundamental energi global.
“Jika AS atau sekutunya menyerang infrastruktur energi Iran, maka respons dari Tehran di Teluk Persia tidak bisa dihindari. Dan ketika itu terjadi, rantai pasok minyak dunia akan terganggu parah.”
Dalam skenario terburuk, harga minyak mentah acuan Brent bisa melonjak ke kisaran USD 150 hingga USD 200 per barel. Angka yang bahkan melampaui mimpi buruk krisis minyak 1970-an. Ini ironis mengingat mantan Presiden Donald Trump dulu mendorong harga Brent di level USD 40–60 per barel untuk kenyamanan ekonomi AS.
BRICS dan Gelombang De-Dolarisasi yang Tak Terbendung
Langkah Iran bukanlah gerakan sendirian. Dr. Salameh menempatkan ini dalam peta besar aliansi BRICS yang kini memimpin akselerasi de-dolarisasi global. Fakta mencengangkan: 90 persen perdagangan antara China, Rusia, dan India kini dilakukan dalam mata uang nasional masing-masing, tanpa menyentuh dolar AS sama sekali.
Dengan kata lain, petrodolar tidak hanya diretas dari pinggiran (Iran), tetapi juga dikepung dari inti perdagangan negara-negara berkembang raksasa.
Kesimpulan Lintas12.com: Dunia Siap Menghadapi “Kejutan Hormuz”?
Yang terjadi di Selat Hormuz saat ini bukan sekadar konflik lokal. Ini adalah pertanda bahwa arsitektur keuangan global pasca-Perang Dunia II mulai retak. Iran telah berhasil membalikkan skenario: dari yang tadinya ditekan dengan dolar, kini justru menggunakan tekanan itu untuk melemahkan dolar sendiri.
Dan peringatan Dr. Salameh harus didengar oleh para pengambil kebijakan di Washington dan Brussel. Setiap serangan terhadap infrastruktur Iran bukan solusi, melainkan pemicu ledakan harga minyak yang akan menghantam ekonomi dunia—termasuk negara-negara yang saat ini mendukung kebijakan maximum pressure.
Lintas12.com akan terus memantau dinamika ini. Satu hal yang pasti: masa depan petrodolar tidak lagi secerah dulu, dan Iran telah membuktikan bahwa dalam permainan energi, yang paling berani menentukan aturan, bukan yang paling keras berteriak.
Oleh: Tim Redaksi Lintas12.com
Analisis ini berdasarkan pernyataan Dr. Mamdouh G. Salameh, pakar energi global, dalam wawancara dengan Sputnik. Data ekspor Iran merujuk pada estimasi terkini.







