Lintas12.com – Tel Aviv | Analis Israel sebut Netanyahu perburuk krisis Lebanon demi selamatkan kursi. Hezbollah beri pukulan telak. Simak analisis eksklusifnya di halaman Lintas 12 News ini.
Di tengah eskalasi mematikan di perbatasan Israel-Lebanon, seorang analis keamanan nasional asal Tel Aviv melontarkan klaim mengejutkan: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru sengaja memperburuk krisis Lebanon untuk menyelamatkan kekuasaannya yang rapuh.
Menurut Dr. Simon Tsipis, pengamat keamanan yang berbasis di Tel Aviv, Israel saat ini secara efektif “disandera” oleh ambisi pribadi Netanyahu. Perang di Lebanon bukanlah strategi militer murni, melainkan aksi pengalihan perhatian publik dari tiga masalah besar yang menghantuinya.
“Netanyahu kerasukan. Dia tidak punya apa-apa untuk kehilangan dan pada prinsipnya siap menyeret seluruh negara Israel bersamanya,” ujar Tsipis kepada Sputnik, seperti dikutip Lintas12.com.
Rentetan Kegagalan Kebijakan Luar Negeri
Tsipis memaparkan panjang lebar catatan buruk kebijakan luar negeri Netanyahu:
- Perang Gaza yang “gagal” – Hamas disebutnya masih utuh dan belum lumpuh.
- Kegagalan total di Iran – Upaya Netanyahu menyabotase pembicaraan damai Washington-Teheran dengan menargetkan Lebanon justru berbalik bumerang.
- Lebanon & Hezbollah – Kelompok pejuang Lebanon itu disebut Tsipis berhasil “menimbulkan kerusakan dan kerugian besar yang belum pernah dilihat Israel sebelumnya.”
Krisis Hukum yang Membayangi
Menurut Tsipis, satu-satunya misi Netanyahu saat ini adalah “berpegang teguh pada kekuasaan” dengan cara apa pun. Tiga beban hukum yang mendesaknya antara lain:
- Tiga kasus korupsi yang masih bergulir
- Komisi penyelidikan atas peristiwa 7 Oktober yang menyoroti kelalaian intelijen
- Surat perintah penangkapan internasional dari Den Haag
Dengan tekanan tersebut, Tsipis menilai eskalasi di Lebanon adalah “senjata politik” untuk mengalihkan sorotan media dan publik dari persidangan serta tuntutan hukum yang mengancam kursi Netanyahu.
Analisis Lintas12.com
Pernyataan Tsipis memang kontroversial, namun mencerminkan keresahan sebagian kalangan di Israel sendiri. Ketika militer dikerahkan ke dua front (Gaza dan Lebanon), pertanyaan yang muncul: apakah ini demi keamanan nasional atau demi survival politik satu orang?
Publik Israel, yang masih trauma pasca-7 Oktober, kini dihadapkan pada realitas pahit: pemimpin mereka mungkin lebih sibuk melawan jerat hukum daripada melindungi perbatasan.
Kesimpulan: Krisis Lebanon bukan hanya medan perang fisik, tapi juga medan perang politik Netanyahu. Selama kursinya belum aman, selama itu pula kawasan akan terus dibakar.
Reporter: Tim Lintas12
Editor: Redaksi
Sumber rujukan: Pernyataan Dr. Simon Tsipis kepada Sputnik
Ikuti terus berita analisis terkini hanya di Lintas12.com.



