Lintas12.com – Skizofrenia bukan kepribadian ganda. Pakar jelaskan bahaya mitos kesehatan mental ini, perbedaan dengan DID, serta pentingnya pengobatan tepat. Simak informasi selengkapnya di kabar berita terpercaya, Lintas 12 News di bawah ini
Kesadaran akan kesehatan mental di berbagai negara, termasuk India, memang terus meningkat. Namun di balik kemajuan tersebut, masih banyak mitos skizofrenia yang beredar luas di masyarakat. Salah satu kesalahpahaman paling berbahaya adalah anggapan bahwa skizofrenia adalah kepribadian ganda atau split personality.
Anggapan keliru ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga menumbuhkan rasa takut, kebingungan, dan stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa. Untuk membangun empati dan kesadaran yang benar, penting bagi publik untuk memahami fakta sebenarnya.
Apa Itu Skizofrenia? Bukan Sekadar “Dua Kepribadian”
Menurut Dr. Rahul Chandhok, Kepala Konsultan Kesehatan Mental dan Ilmu Perilaku di Artemis Hospitals, skizofrenia adalah penyakit mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku.
“Skizofrenia menyebabkan seseorang mendengar suara-suara, melihat hal-hal yang tidak nyata, dan meyakini sesuatu yang tidak benar. Mereka juga kesulitan merangkai pikiran dan mengekspresikan ide. Yang penting diketahui: skizofrenia bukanlah kepribadian ganda. Ini masalah bagaimana otak menerima informasi,” jelas Dr. Chandhok.
Ia menambahkan bahwa dengan pengobatan yang tepat—termasuk terapi dan obat-obatan—banyak penderita gejala skizofrenia dapat mengontrol kondisinya dengan baik.
Memahami “Split Personality”: Ternyata Bukan Skizofrenia, Melainkan DID
Istilah split personality atau kepribadian ganda sebenarnya merujuk pada kondisi yang berbeda, yaitu gangguan identitas disosiatif (Dissociative Identity Disorder / DID).
DID melibatkan seseorang yang memiliki dua atau lebih identitas dan keadaan kepribadian yang berbeda. Mereka bisa menunjukkan perilaku, ingatan, dan cara berpikir yang sangat berbeda. Kondisi ini biasanya terkait dengan trauma berat di masa kanak-kanak.
Perbedaan skizofrenia dan DID sangat mendasar:
- Skizofrenia: kehilangan kontak dengan realitas (halusinasi, delusi)
- DID: fragmentasi rasa diri (identitas terpecah)
Akar Kebingungan: Kurangnya Edukasi dan Tayangan Menyesatkan
Dr. Chandhok menyoroti bahwa kebanyakan kebingungan antara split personality vs skizofrenia disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan penggambaran yang menyesatkan di film serta TV.
“Di layar kaca, penderita skizofrenia sering digambarkan memiliki banyak kepribadian. Itu tidak benar. Edukasi kesehatan mental masih terbatas di banyak tempat. Frasa budaya seperti ‘dua pikiran’ atau ‘kepribadian ganda’ juga digunakan secara longgar, sehingga memperparah kesalahpahaman,” ujarnya.
Dampak Berbahaya dari Mitos Skizofrenia
Keyakinan bahwa skizofrenia adalah kepribadian ganda dapat menimbulkan stigma kesehatan mental yang serius. Penderita skizofrenia sering dianggap berbahaya atau tidak dapat diprediksi, padahal itu tidak benar.
Akibatnya:
- Muncul rasa takut dan diskriminasi di masyarakat
- Penderita enggan mencari pertolongan medis
- Penanganan dini menjadi terhambat
- Keluarga dan penderita mengalami isolasi sosial
Di negara dengan sensitivitas tinggi terhadap isu mental seperti India, mitos ini bisa berakibat fatal pada keterlambatan perawatan.
Pesan Penting: Skizofrenia Bisa Diobati, Bukan Karena Kelemahan Pribadi
Dr. Chandhok menegaskan bahwa skizofrenia adalah gangguan otak yang bersifat medis, sama seperti diabetes atau hipertensi. Dengan kombinasi pengobatan skizofrenia berupa antipsikotik, psikoterapi, dan dukungan sosial, banyak penderita dapat hidup produktif.
“Kita perlu menghentikan pelabelan salah. Edukasi adalah kunci untuk menggantikan ketakutan dengan empati,” pesannya.
Kesimpulan untuk Pembaca Lintas12.com
- Skizofrenia ≠ Kepribadian ganda
- Kepribadian ganda adalah Dissociative Identity Disorder (DID)
- Skizofrenia memengaruhi persepsi realitas (halusinasi/delusi)
- DID memengaruhi identitas dan ingatan
- Mitos skizofrenia menyebabkan stigma dan menghambat pengobatan
Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala gangguan jiwa, segera konsultasikan ke tenaga profesional kesehatan mental.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan pengganti diagnosis atau pengobatan medis profesional. Jika mengalami gejala gangguan kesehatan mental, segera temui psikiater atau psikolog klinis.
Penulis: Tim Kesehatan Lintas 12 News
Editor: Redaksi







