Lintas12.com, Washington D.C. – Donald Trump setuju gunakan proposal 10 poin Iran sebagai dasar negosiasi damai. Gencatan senjata dua pekan disepakati, perundingan dimulai Jumat di Islamabad. Simak berita selengkapnya di halaman Lintas 12 News ini.
Ketegangan di Timur Tengah yang nyaris memicu perang terbuka tiba-tiba mereda. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan menarik kembali ancaman serangan terhadap infrastruktur vital Iran dan menyatakan kesediaannya untuk duduk di meja perundingan. Dalam sebuah manuver diplomatik yang dramatis, Trump mengonfirmasi bahwa Gedung Putih menerima Proposal 10 Poin yang diajukan Teheran sebagai landasan negosiasi damai.
Kabar ini sontak mengubah peta konflik yang sebelumnya memanas akibat blokade parsial Selat Hormuz dan serangan balasan dari poros perlawanan di Lebanon dan Yaman.
Gencatan Senjata Dua Pekan: Ruang Napas bagi Perdamaian Global
Melalui unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump mengumumkan bahwa AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Jeda kemanusiaan ini berlaku efektif segera dan akan dimanfaatkan untuk merampungkan detail kesepakatan akhir.
“Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan saya percaya itu dapat menjadi dasar yang dapat diandalkan untuk negosiasi,” tulis Trump, Rabu waktu setempat. “Periode dua minggu ini akan memberikan ruang bagi kesepakatan tersebut untuk diselesaikan dan rampung.”
Gencatan senjata ini menjadi angin segar bagi pasar energi global yang sempat panik. Sebelumnya, blokade Selat Hormuz oleh Iran pasca serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu telah membuat harga minyak meroket dan memicu kelangkaan BBM di berbagai belahan dunia.
Islamabad Jadi Titik Temu: Perundingan Dimulai Jumat
Dalam perkembangan yang tak kalah mengejutkan, Pakistan muncul sebagai mediator kunci. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengonfirmasi bahwa delegasi AS dan Iran akan memulai pembicaraan resmi di Islamabad pada Jumat, 10 April 2026.
“Langkah ini BERLAKU SEGERA,” tegas Sharif dalam unggahan di akun X pribadinya. Ia juga menambahkan bahwa gencatan senjata ini mencakup penghentian serangan di semua lini, termasuk yang melibatkan Hizbullah di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mewakili Dewan Keamanan Nasional, membenarkan kabar tersebut. “Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata kita yang tangguh akan menghentikan operasi pertahanan mereka,” ujar Araghchi, menegaskan bahwa koordinasi pembukaan jalur aman Selat Hormuz akan dilakukan bersama Angkatan Bersenjata Iran.
Membedah Isi Proposal 10 Poin Iran yang Bikin AS Luluh
Lalu, apa isi proposal yang membuat Trump sampai menunda ancaman “mengakhiri peradaban Iran”? Berdasarkan data yang diterima Lintas12.com, proposal tersebut bukanlah dokumen permintaan maaf, melainkan daftar tuntutan strategis yang tegas. Berikut poin-poin krusialnya:
- Dominasi Selat Hormuz: Iran menuntut pengakuan atas pengawasan dan dominasi penuh di Selat Hormuz, mengklaimnya sebagai hak geopolitik dan ekonomi.
- Penarikan Pasukan AS: Seluruh pasukan tempur AS harus ditarik dari pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.
- Gencatan Senjata Menyeluruh: Penghentian semua operasi militer terhadap kelompok sekutu Iran di kawasan.
- Kompensasi Penuh: Pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat perang.
- Pencabutan Sanksi: Penghapusan total sanksi ekonomi oleh AS, DK PBB, dan IAEA.
- Aset Dibekukan: Pembebasan seluruh aset finansial Iran yang disita di luar negeri.
- Ratifikasi PBB: Kesepakatan akhir harus diratifikasi dalam resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengikat secara hukum.
Meski menyetujui proposal ini sebagai dasar bicara, Dewan Keamanan Nasional Iran menyatakan sikapnya yang dingin: “Dengan ketidakpercayaan sepenuhnya terhadap pihak Amerika.”
Baghdad Bergembira, Karpet Merah Damai Digelar
Ribuan kilometer dari Islamabad, warga Baghdad, Irak, merayakan pengumuman ini dengan suka cita. Sebagai negara yang kerap menjadi “medan tempur tidak langsung” antara pasukan AS dan milisi pro-Iran, gencatan senjata ini berarti penghentian tembakan roket yang kerap menghujani Zona Hijau.
“Kami lelah menjadi panggung perang orang lain,” ujar seorang warga Baghdad yang turun ke jalan merayakan kabar damai itu.
Dunia kini menanti hasil perundingan di Islamabad. Akankah proposal ambisius Teheran itu menjadi fondasi Perdamaian Jangka Panjang seperti yang diklaim Trump, atau hanya sekadar jeda sebelum badai berikutnya datang? Lintas12.com akan terus memantau perkembangan dari jantung perundingan. (Red)







