Jenewa (Lintas12.com) – PM Spanyol Sanchez serukan reformasi PBB, desak pemimpin perempuan, dan peringatkan bahaya disinformasi serta algoritma kebencian. Simak berita selengkapnya di laman Lintas 12 News.
Di tengah guncangan tatanan dunia yang kian multipolar, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez secara tegas menyerukan reformasi mendasar terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bukan hanya soal struktur, Sanchez ingin PBB dipimpin oleh seorang perempuan untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Seruan ini disampaikan dalam pertemuan keempat “Dalam Pembelaan Demokrasi” yang digelar di Barcelona, Sabtu (18/4). Sanchez memperingatkan bahwa lembaga-lembaga multilateral saat ini gagal mengimbangi realitas abad ke-21 yang penuh dengan krisis hibrida dan erosi demokrasi.
PBB Perlu “Diperbarui Total”
“PBB harus diperbarui dan direformasi. Ia harus beradaptasi dengan realitas abad ke-21 dan memimpin sistem multilateral yang lebih efisien, transparan, demokratis, inklusif, dan representatif,” ujar Sanchez di hadapan para pemimpin sipil dan diplomat.
Menurutnya, tanpa reformasi segera, PBB berisiko kehilangan relevansi di mata negara-negara berkembang dan masyarakat global.
Saatnya Sekjen Perempuan
Pernyataan paling berani datang ketika Sanchez menyebut bahwa PBB harus dipimpin oleh seorang perempuan. Ia menilai ini bukan sekadar tuntutan simbolis.
“Ini bukan hanya masalah keadilan, tetapi juga kredibilitas. Sudah saatnya beralih dari komitmen ke tindakan,” tegasnya.
Hingga saat ini, dari 9 Sekretaris Jenderal PBB sejak 1945, semuanya adalah laki-laki. Kritik terhadap ketimpangan gender di pucuk pimpinan PBB terus mengemuka, namun belum pernah ada tokoh sekelas kepala pemerintahan yang menyuarakan sejelas Sanchez.
Demokrasi: Kosong dari Dalam, Diserang dari Luar
Dalam pidatonya yang berapi-api, Sanchez mengingatkan bahwa demokrasi global sedang menghadapi bahaya eksistensial.
“Ada bahaya bahwa demokrasi menjadi kosong dari dalam sementara diserang dari luar. Respons kita tidak bisa hanya bersifat defensif. Perlawanan saja tidak cukup,” katanya.
Ia mendesak negara-negara demokrasi untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin, membuktikan bahwa demokrasi bisa diperkuat dan ditingkatkan hari demi hari.
Ancaman Algoritma Kebencian dan Disinformasi
Tak berhenti di struktur PBB, Sanchez juga menyoroti bahaya media sosial yang tidak diatur. Ia menyerukan regulasi yang lebih jelas untuk platform digital, terutama terkait disinformasi yang meracuni wacana publik.
“Algoritma tidak boleh diizinkan untuk memberi penghargaan kepada kebencian, polarisasi, konfrontasi, atau pesan-pesan kekerasan,” tegasnya.
Ia mengakui teknologi dapat menjadi kekuatan untuk kemajuan, namun tanpa aturan yang memadai, “teknologi justru memecah belah kita dan membuat kita lebih bergantung.”
Kesimpulan: Momentum Baru untuk Multilateralisme?
Seruan Spanyol ini datang saat banyak negara mulai mempertanyakan efektivitas Dewan Keamanan PBB yang dinilai mandek. Apakah reformasi PBB dan kepemimpinan perempuan akan menjadi agenda utama Sidang Umum PBB berikutnya? Atau hanya akan menjadi wacana tanpa tindakan?
Sanchez menutup dengan pesan lugas: “Sudah saatnya beralih dari komitmen ke tindakan.”
Sumber: Anadolu | Editor: Redaksi Lintas12.com







