Jakarta (Lintas 12 News) – PDIP serukan PBB seret Israel ke ICC pasca insiden Lebanon. 3 prajurit TNI gugur, 5 luka. Desakan mengisolasi Israel di kancah global. Simak berita selengkapnya di halaman ini.
Gelombang kecaman kembali mengalir dari dalam negeri pasca insiden mematikan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian Indonesia di Lebanon. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan lantang menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera membuang sikap “impoten” dan bertindak nyata menghentikan arogansi Israel.
Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, menyebut tragedi berulang ini sebagai ujung tanduk efektivitas PBB. Bukan sekadar kecaman, PDIP mendesak Dewan Keamanan PBB untuk membawa Israel ke meja hijau Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
“Dunia seolah tidak berdaya. Israel merasa berdiri di atas hukum internasional. Ini harus dihentikan. Kami minta PBB bertindak tegas dan nyata, bukan sekadar retorika,” tegas Said Abdullah dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (3/4/2026).
PDIP: Tragedi Beruntun: 25 Kali Serangan Sejak Oktober 2024
Data yang dihimpun PDIP mencatat, sejak Oktober 2024, tentara Israel telah melakukan setidaknya 25 kali serangan terhadap properti dan personel pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon selatan. Insiden terbaru menjadi yang paling mematikan bagi kontingen TNI.
Tiga prajurit elite TNI gugur dalam dua hari berturut-turut:
- Kopral Dua Farizal Rhomadhon (gugur 29 Maret 2026 akibat tembakan artileri)
- Mayor Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (gugur 30 Maret 2026)
- Sersan Kepala Muhammad Nur Ichwan (gugur 30 Maret 2026)
Sementara itu, lima prajurit lainnya mengalami luka-luka dan kini menjalani perawatan intensif. Mereka adalah Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana, Praka Deni Rianto, Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
Tuntutan Tegas PDIP: ICC dan Isolasi Diplomatik
Said Abdullah tidak hanya meminta pertanggungjawaban, tetapi juga skema hukuman yang nyata. PDIP menuntut tiga hal utama:
- Pengadilan di ICC – Israel harus diseret ke Mahkamah Pidana Internasional atas kejahatan kemanusiaan yang sistematis, baik di Lebanon maupun Gaza.
- Permintaan maaf resmi – Israel wajib mengakui penyerangan, meminta maaf di forum PBB, dan bertanggung jawab secara yudisial.
- Isolasi internasional – Seluruh negara, terutama negara-negara berpengaruh, diminta memutuskan hubungan diplomatik dan kerja sama dengan Israel.
“Israel sudah menjadi beban bagi peradaban dunia. Tidak ada lagi alasan untuk tetap berbisnis dengan negara yang menganggap remah nyawa pasukan perdamaian,” tambah Said.
Resolusi 2 Negara dan Langkah Eropa
Langkah tegas ini sejalan dengan resolusi Majelis Umum PBB pada 12 September 2025, yang mengakui solusi dua negara. Sebanyak 142 dari 193 negara anggota menyetujui pengakuan kedaulatan Palestina. Namun, implementasi di lapangan masih tersendat.
Said Abdullah mengapresiasi langkah Spanyol, Prancis, dan Denmark yang telah menarik duta besar atau menghentikan penjualan senjata ke Israel. “Ini contoh kecil tapi penting. Saatnya dunia bersatu. Jangan biarkan pasukan penjaga perdamaian menjadi sasaran tembak,” pungkasnya.
Rencana Pemulangan Jenazah
Ketiga jenazah prajurit TNI dijadwalkan tiba di Tanah Air pada Sabtu (4/4/2026) sore melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Rencananya, akan digelar upacara militer untuk menghormati jasa para pahlawan bangsa yang gugur dalam misi perdamaian PBB.







