Yogyakarta (Lintas 12 News) – Survei PSKP UAD menunjukkan mayoritas generasi muda (82,9%) setuju dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah sebagai solusi akhir polemik Lebaran.
Perdebatan tahunan mengenai perbedaan penetapan awal Ramadan dan Idulfitri tampaknya mulai membuat generasi muda jenuh. Kabar terbaru menyebutkan bahwa mayoritas anak muda kini lebih melirik Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diinisiasi oleh Muhammadiyah sebagai solusi konkret mengakhiri polemik tersebut.
Temuan ini terungkap dalam Laporan Survei Nasional bertajuk “Muhammadiyah di Mata Anak Muda” yang dirilis oleh Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Senin (30/3).
Angka Dukungan yang Fantastis
Berdasarkan data survei yang melibatkan 758 responden berusia 17 hingga 40 tahun, tercatat sebanyak 82,9 persen anak muda menyatakan setuju terhadap penerapan KHGT.
Sementara itu, 11,7 persen responden mengaku belum mengetahui sistem tersebut, dan hanya sebagian kecil, yakni 5,4 persen, yang menyatakan tidak setuju.
Kepala PSKP UAD, Azaki Khoirudin, menilai tingginya angka persetujuan ini menunjukkan bahwa generasi Z dan milenial menginginkan kepastian hukum dan waktu dalam beribadah.
“Anak muda tampaknya sudah jenuh dengan perdebatan penentuan Lebaran setiap tahun. Survei ini menunjukkan bahwa mayoritas telah menerima dan mendukung KHGT sebagai solusi modern,” ujar Azaki dalam keterangannya.
Alasan di Balik Dukungan: Praktis dan Saintifik
Mengapa KHGT begitu diminati oleh generasi muda? Azaki menjelaskan bahwa pendekatan KHGT sangat relevan dengan karakter Gen Z dan milenial yang menyukai kepraktisan.
KHGT tidak hanya bersandar pada dalil keagamaan, tetapi juga memadukannya dengan sains astronomi modern. Hal ini memberikan kepastian penanggalan hingga bertahun-tahun ke depan, sehingga umat Islam bisa memiliki perencanaan yang lebih matang, baik untuk ibadah maupun urusan duniawi seperti libur nasional.
“Data ini menjadi sinyal bahwa visi besar Muhammadiyah untuk menyatukan umat melalui pendekatan sains mendapatkan respons positif. KHGT adalah solusi modern atas persoalan klasik yang selama ini sering memicu gesekan di masyarakat,” tambahnya.
Tantangan Edukasi ke Depan
Meski dukungan sangat masif, Muhammadiyah masih memiliki pekerjaan rumah. Azaki menyoroti angka 11,7 persen responden yang mengaku “belum tahu” sebagai celah yang harus diisi dengan sosialisasi.
Menurutnya, tantangan utama KHGT ke depan bukanlah penolakan dari masyarakat, melainkan sejauh mana edukasi mengenai sistem ini tersampaikan secara luas.
“Angka ‘tidak tahu’ yang lebih besar dibandingkan penolak menunjukkan bahwa tantangan Muhammadiyah ke depan adalah aspek edukasi, bukan penolakan secara ideologis,” pungkas Azaki.
Dengan hasil survei ini, KHGT diprediksi akan menjadi arus utama dalam tuntutan publik, terutama dari kalangan terpelajar dan kaum muda, guna mewujudkan kesatuan kalender Islam secara internasional dan mengakhiri kebingungan publik di masa depan.
Sumber: Laporan Survei Nasional PSKP UAD 2026







