Jakarta, Lintas12.com – Kolaborasi JSIT Indonesia dan Rumah Zakat kirim 60 ribu kaleng daging untuk Gaza. Bantuan pangan tahan lama ini jadi harapan baru di tengah krisis. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Di tengah blokade dan kelangkaan pangan yang masih membayangi Gaza, sebuah gerakan nyata lahir dari tanah air. Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia bersama Rumah Zakat resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk meluncurkan campaign kemanusiaan bertajuk “Dari Indonesia untuk Gaza: 60 Ribu Kaleng Daging Kurban dan Sedekah Daging”.
Kolaborasi ini bukan sekadar seremonial. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar menghadirkan harapan di tengah krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai. Bantuan berupa daging olahan dalam kaleng siap saji dipilih karena dinilai lebih tahan lama, aman didistribusikan, dan mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat di wilayah konflik.
Solidaritas Tanpa Batas: 60 Ribu Kaleng Harapan
Ketua Umum JSIT Indonesia, Ahmad Fikri, dalam sambutannya menegaskan bahwa gerakan ini adalah bentuk kepedulian kolektif. “Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya teori, tapi aksi. Melalui sedekah daging untuk Gaza, kita mengajarkan empati kepada generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, menyampaikan bahwa program ini akan melibatkan seluruh ekosistem sekolah Islam terpadu di Indonesia. Mulai dari yayasan, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua murid, hingga para siswa.
“Target kami adalah 60 ribu kaleng. Ini bukan angka kecil, tapi dengan gotong royong, insya Allah tercapai. Bantuan kemanusiaan untuk Gaza ini akan kami salurkan secara bertahap namun pasti,” kata Irvan.
Bantuan Daging Kaleng: Solusi Cerdas di Tengah Blokade
Mengapa daging kaleng? Menurut tim logistik Rumah Zakat, bantuan daging kaleng tahan lama menjadi solusi utama mengatasi kendala distribusi di Gaza. Selain tidak mudah rusak, kemasan kaleng juga memudahkan penyimpanan dan pendistribusian di tengah keterbatasan akses listrik dan pendingin.
“Ini adalah bentuk inovasi sedekah daging yang ramah krisis. Dengan teknologi pengalengan, nilai gizi tetap terjaga dan proses distribusi lebih aman,” tambah tim Rumah Zakat.
Pendidikan Empati untuk Generasi Muda
Tak hanya berfokus pada distribusi, kolaborasi JSIT Indonesia dan Rumah Zakat juga menekankan aspek pendidikan. Seluruh siswa di jaringan sekolah Islam terpadu diajak terlibat aktif, mulai dari penggalangan dana hingga memahami langsung kondisi saudara-saudara di Palestina.
“Ini adalah laboratorium kemanusiaan. Anak-anak belajar bahwa krisis kemanusiaan Palestina bukan sekadar berita, tapi panggilan untuk bertindak,” tutup Ahmad Fikri.
Dengan semangat ukhuwah Islamiyah, 60 ribu kaleng daging untuk Gaza diharapkan menjadi oase di tengah kepedihan. Satu kaleng, satu harapan. Satu aksi, satu juta doa. [*kin]







