Madinah, [Lintas12.Com] – Mengapa orang Yahudi membenci Islam di awal kedatangan Nabi Muhammad SAW? Simak kisah historisnya, mulai dari faktor ekonomi riba hingga kesaksian ulama Yahudi yang masuk Islam.
Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Madinah ternyata disambut dengan ketegangan oleh komunitas Yahudi. Bukan hanya karena perbedaan agama, ada faktor ekonomi dan politik yang membuat mereka merasa terancam.
Tiga kabilah besar Yahudi di Madinah—Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah—khawatir dengan ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Mengapa? Karena Islam melarang praktik riba (bunga) dan menyerukan persatuan umat. Hal ini langsung mengancam bisnis mereka yang selama ini menggantungkan hidup pada pasar riba.
Seperti yang ditulis Syekh Al-Mubarakfuri dalam Sirah Nabawiyah, orang-orang Yahudi sudah menghitung dampak buruk bagi mereka jika ajaran Islam diterapkan. Mereka takut kehilangan sumber kekayaan, bahkan hingga kehilangan tanah dan aset yang dikuasai.
Dari Malam Gelap di Quba’
Kisah tentang kebencian ini terekam dalam riwayat yang disampaikan Shafiyyah binti Huyai. Suatu malam, ayah dan pamannya pergi menyelidiki kedatangan Nabi di Quba’. Sekembalinya, mereka tampak murung dan lesu. Sang paman bertanya, “Apakah dia orangnya?” Ayahnya menjawab, “Ya. Demi Allah, aku akan memusuhinya seumur hidupku.” Saat itulah tekad permusuhan itu mulai mengakar.
Pelajaran dari Seorang Ulama Yahudi
Namun, tidak semua orang Yahudi membenci kebenaran. Kisah Abdullah bin Salam menjadi bukti. Sebagai ulama Yahudi terpandang, ia langsung masuk Islam setelah bertemu Rasulullah.
Ketika Rasulullah bertanya pada komunitas Yahudi tentangnya, mereka mengakuinya sebagai pemimpin yang baik. Tapi saat Rasulullah berpura-pura mengatakan Abdullah telah masuk Islam, mereka justru berbalik menghujatnya. “Engkau dusta!” seru mereka.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana fanatisme kelompok seringkali mengalahkan kebenaran. Kisah ini menjadi pelajaran berharga tentang awal mula dinamika antara umat Islam dan komunitas Yahudi di masa awal kenabian.







