Muslim  

Pesatnya Perkembangan Islam di Jepang Diserang di Dunia Maya: Fitnah dan Hasutan Mengintai

Pesatnya Perkembangan Islam di Jepang Diserang Hormat Dunia Maya: Fitnah dan Hasutan Mengintai
Masjid Ibaraki, Osaka, Jepang

Lintas12.com, TOKYO – Serangan siber terhadap Islam di Jepang meningkat seiring pertumbuhan muslim. Fitnah, hasutan, hingga Islamofobia merebak di platform X. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.

Di tengah pesatnya perkembangan Islam di Negeri Sakura, serangan justru semakin menjadi-jadi. Bukan di jalanan, melainkan di dunia maya. Fitnah, hasutan, hingga narasi kebencian membalut Islamofobia kini marak berseliweran di platform media sosial X (dulu Twitter).

Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah muslim di Jepang mencapai sekitar 420 ribu jiwa per akhir 2024, atau sekitar 0,3 persen dari total populasi. Namun, di balik pertumbuhan ini, kelompok sayap kanan digital (Net-Uyoku) justru gencar melancarkan serangan siber dengan narasi eksklusif dan diskriminatif.

Dari Peta Masjid hingga Penolakan Pemakaman Islam

Kelompok anti-Islam di Jepang tidak hanya sekadar beropini. Mereka menyebarkan peta Google sebaran masjid secara massal, disertai pernyataan provokatif bahwa keberadaan tempat ibadah muslim mengancam struktur masyarakat Jepang.

Baca Ini:  Jejak Kejayaan Islam di Budapest: Kota yang Dikunjungi Presiden Prabowo dan Pernah Dikuasaisi Ottoman

Bahkan, isu pemakaman Islam pun dijadikan sasaran. Di Prefektur Miyagi, proyek pemakaman muslim dibatalkan pada September 2025 setelah mendapat tekanan besar dari kampanye digital. Influencer Shigyuki Hozumi, yang mengaku sebagai aktor utama di balik pembatalan tersebut, terus memantau agar proyek serupa tak muncul kembali.

Wajah Provokasi: Politisi hingga Influencer

Beberapa tokoh publik turut memanaskan situasi. Yosuke Kawai, anggota Dewan Kota Toda, Prefektur Saitama, secara terbuka menolak imigran asing demi menjaga “kesatuan etnis yang murni”. Sementara itu, mantan calon anggota parlemen Susumu Kikutaki memimpin protes lapangan menentang pembangunan masjid di Kota Fujisawa, yang dipicu oleh kampanye di X.

Tak ketinggalan, Shunsuke Yamashita, mantan calon gubernur Aichi, gencar menghambat pembangunan pemakaman muslim di wilayahnya melalui kekuatan digital.

Baca Ini:  Gebyar Halal Bihalal BAZNAS: 50+ LAZ Sepakat Padu Padan Genjot Dampak Zakat Nasional

Membungkus Ketakutan dengan Bahasa “Ketertiban Umum”

Ironisnya, serangan-serangan ini tidak selalu terang-terangan menyerang agama. Mereka membungkus narasi dengan klaim “ilmiah palsu” seperti pencemaran air tanah akibat pemakaman Islam, atau tuduhan pendanaan terorisme di balik sertifikasi halal. Padahal, tak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.

Profesor Hirofumi Tanada dari Universitas Waseda menyebut bahwa kekosongan pengetahuan masyarakat Jepang tentang Islam menjadi celah utama. Mayoritas warga Jepang belum pernah berinteraksi langsung dengan muslim, sehingga informasi menyesatkan mudah mengisi ruang kosong tersebut.

Kontradiksi dengan Konstitusi Jepang

Kelompok anti-Islam ini kerap mengangkat slogan “melindungi konstitusi” dan “budaya Jepang”. Namun, Pasal 20 Konstitusi Jepang justru secara tegas menjamin kebebasan berkeyakinan dan beribadah, serta melarang negara campur tangan dalam urusan agama.

Baca Ini:  Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35, Lirboyo Ungkap Kesiapan dan Pengalaman 1999

Alih-alih menjaga harmoni, kampanye digital ini justru menciptakan ketegangan diam-diam antara teks konstitusional dan realitas retorika yang berusaha melemahkan hak-hak minoritas.

Penutup: Ancaman Nyata di Tengah Perkembangan Islam

Perkembangan Islam di Jepang adalah fakta yang tak terbendung. Namun, serangan dunia maya berupa fitnah, hasutan, dan Islamofobia menjadi tantangan serius. Jika tidak diantisipasi, ketakutan yang dibangun secara digital bisa merusak harmoni sosial yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Jepang.

Redaksi: Lintas12.com
Sumber: Aljazeera, Universitas Waseda, pemantauan platform X


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *