Global  

Pertama Kali Sejak Perang, Mahasiswa Gaza Kembali Rasakan Kuliah Tatap Muka di Tengah Pengungsian

Pertama Kali Sejak Perang, Mahasiswa Gaza Kembali Rasakan Kuliah Tatap Muka di Tengah Pengungsian
Ratusan mahasiswa di daerah Al-Mawasi, Khan Younis, mulai mengikuti kelas tatap muka untuk pertama kalinya sejak dimulainya konflik, di Kota Gaza, Palestina, pada 31 Maret 2026. [Tangkapan layar/Anadolu Agency]

Gaza, lintas12.com – Universitas-universitas di Gaza memulai proyek percontohan pembelajaran tatap muka di kamp pengungsian Al-Mawasi. Setelah dua tahun belajar daring, ratusan mahasiswa kembali merasakan suasana kampus, menandai pemulihan harapan di tengah konflik.

Ada yang berbeda di udara panas Kamp Pengungsian Al-Mawasi, Khan Younis, pada 31 Maret 2026 lalu. Bukan hanya deru tenda dan hiruk-pikuk pengungsian, tetapi juga suara dosen menerangkan mata kuliah, tawa mahasiswa, dan derap langkah menuju ruang kelas. Setelah lebih dari dua tahun terpaku di layar gawai akibat perang, universitas-universitas di Gaza akhirnya membuka kembali pembelajaran tatap muka.

Ratusan mahasiswa di daerah Al-Mawasi tampak tak bisa menyembunyikan rasa haru. Bagi mereka, memasuki ruang kuliah sederhana itu terasa seperti “hari pertama kuliah seumur hidup.”

Baca Ini:  Dunia Multipolar Dimulai: Putin dan Xi Jinping Tanda Tangani 20 Pakta, Gugat Dominasi Dolar AS

“Rasanya luar biasa. Saya kembali punya rasa memiliki terhadap kehidupan universitas, tidak hanya menjadi wajah di layar,” ujar seorang mahasiswi kepada Al Jazeera Net, dengan mata berkaca-kaca.

Proyek Percontohan: Kampus dari Tenda dan Papan Tulis

Proyek ini digagas oleh organisasi Scholars Without Borders (Sarjana Tanpa Batas). Di atas lahan seluas sekitar tiga dunam (sekitar 3.000 meter persegi) di dalam kamp pengungsian, mereka mendirikan tujuh ruang kuliah dari struktur sederhana. Jangan bayangkan gedung megah. Namun, di sanalah listrik mengalir, internet tersedia, meja dan papan tulis berdiri—sebuah kemewahan yang sudah lama hilang dari keseharian mahasiswa Gaza.

Pada hari pertama uji coba, mahasiswa dari Universitas Islam Gaza menjadi pelopor. Ke depan, ruang kuliah ini akan dibuka secara bergilir untuk mahasiswa dari universitas lain, menciptakan jadwal terkoordinasi agar semua kampus bisa merasakan denyut pembelajaran tatap muka.

Baca Ini:  Serangan dahsyat Iran ke Dimona dan Arad, menyakitkan bagi penduduk Israel

Lebih dari Sekadar Belajar: Mengembalikan Mimpi

Pendidikan daring selama konflik panjang bukanlah pengalaman yang mudah. Keterbatasan sinyal, mati listrik, hingga trauma perang menyertai setiap klik tombol “join meeting”. Kini, dengan bertatap muka, mahasiswa merasa seperti “dilahirkan kembali.”

“Kami tidak hanya belajar. Kami pulih,” kata seorang mahasiswa lainnya. Baginya, proyek percontohan ini bukan sekadar tentang kurikulum atau nilai, melainkan tentang memulihkan harapan di tengah pengungsian.

Langkah Kecil, Harapan Besar di Gaza

Inisiatif ini masih sangat sederhana. Tapi di Gaza, kesederhanaan adalah bentuk perlawanan yang paling berani. Para penggiat pendidikan berharap proyek ini bisa memperluas akses ke lebih banyak mahasiswa, mengingat ribuan lainnya masih tersebar di berbagai kamp pengungsian.

Baca Ini:  Starmer: Inggris tidak melihat bukti bahwa Iran menargetkan Inggris

Scholars Without Borders juga membuka peluang kolaborasi dengan lembaga internasional untuk meningkatkan fasilitas. Karena sehebat apa pun semangat, mereka tetap butuh buku, alat tulis, dan ruang yang layak.

Tentang Pemulihan Akademik di Gaza, Palestina:

Pembukaan kembali pembelajaran tatap muka ini menjadi babak baru setelah lebih dari dua tahun pendidikan tinggi di Gaza berjalan tertatih-tatih. Meski belum semua kampus beroperasi normal, langkah kecil dari Al-Mawasi ini menjadi bukti: di tengah keterbatasan, mimpi untuk belajar tidak pernah mati.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *