Rupiah Tembus Rp17.500, Terancam ke Rp17.550 Pekan Ini di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Rupiah Tembus Rp17.500, Terancam ke Rp17.550 Pekan Ini di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Rupiah Tembus Rp17.500, Terancam ke Rp17.550 Pekan Ini di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Jakarta, Lintas12.com – Rupiah tembus rekor Rp17.500 per dolar AS. Pengamat prediksi rupiah ke Rp17.550 pekan ini akibat ketegangan Timur Tengah dan PHK massal. Baca kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah setelah menembus level psikologis Rp17.500 pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Kini, mata uang Garuda diprediksi akan terus terperosok hingga Rp17.550 per dolar AS dalam pekan yang sama.

Rupiah Tembus Rp17.500, Level Tertinggi Sepanjang Sejarah

Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun Lintas12.com, rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,60 persen ke posisi Rp17.529 per dolar AS. Angka ini bahkan sempat menyentuh level Rp17.500 di tengah perdagangan, menjadikannya level terlemah sepanjang sejarah kurs rupiah.

“Hari ini rupiah terus mengalami pelemahan, sudah menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. Angka Rp17.550 per dolar AS kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini,” ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (12/5/2026).

Ketegangan Timur Tengah Memanas, Dolar AS Menguat

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah ini didorong oleh dua faktor besar: eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah AS menolak proposal mediasi Iran yang difasilitasi Pakistan dan Qatar.

“Penolakan ini memicu ketegangan baru. Serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz. UEA bahkan disebut terus melakukan penyerangan terhadap Iran, meski tidak diekspos secara internasional. Ini membuat indeks dolar AS mengalami penguatan signifikan,” jelas Ibrahim.

Penguatan dolar AS juga memicu lonjakan harga minyak mentah jenis Brent, yang berimbas pada membengkaknya biaya sektor transportasi di dalam negeri.

Sinyal Bahaya dari Dalam Negeri: PHK Massal dan Sektor Informal

Dari sisi internal, Ibrahim menyoroti ketidaksinkronan antara pertumbuhan ekonomi dan penguatan rupiah. Meskipun ekonomi kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, angka itu ditopang oleh konsumsi dan belanja negara, bukan investasi produktif.

Lebih mengkhawatirkan, sejak Januari hingga April 2026, 40 ribu buruh di sektor padat karya seperti manufaktur, tekstil, garmen, dan elektronik sudah terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Badai PHK berpotensi meningkat lagi. Sementara itu, pekerja informal di Indonesia mencapai hampir 87,74 juta orang. Artinya, sektor formal sangat kecil sehingga pengangguran riil terus naik. Ini mempersulit rupiah menguat,” tegas Ibrahim.

Ancaman Downgrade MSCI dan Proyeksi Besok

Pasar juga sedang menunggu pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 13 Mei 2026 waktu Indonesia. Ada kemungkinan peringkat saham Indonesia diturunkan, yang akan menambah tekanan pada rupiah.

Dengan seluruh sentimen ini, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan terus fluktuatif namun berakhir melemah.

“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.520 hingga Rp17.580 per dolar AS,” pungkasnya.

Reporter: Tim Ekonomi Lintas 12 News
Editor: Redaksi


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *