Rupiah Tertekan ke Rp16.981, Harga Minyak Dunia Tembus USD 103 per Barel

Rupiah Tertekan ke Rp16.981, Harga Minyak Dunia Tembus USD 103 per Barel
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta.

Jakarta (Lintas 12 News) – Nilai tukar rupiah melemah tipis ke level Rp16.981 per dolar AS pada awal pekan. Analis menyebut pelemahan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus USD 103 per barel akibat gangguan di Selat Hormuz serta sentimen hawkish dari The Fed.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Senin pagi. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini utamanya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang masih berlangsung hingga pekan ini.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah dibuka melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp16.981 per dolar AS. Angka ini turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp16.980 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa sentimen negatif dari komoditas energi menjadi penekan utama rupiah. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat telah melonjak hingga menyentuh USD 103 per barel.

“Rupiah diprediksi akan terus menghadapi tekanan terhadap dolar AS di tengah memburuknya sentimen pasar dan harga minyak mentah dunia yang masih menunjukkan tren kenaikan,” ujar Lukman seperti dikutip dari laman ANTARA di Jakarta, Senin.

Lonjakan harga minyak ini tidak lepas dari gangguan operasional di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi rute pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari. Gangguan yang telah berlangsung sejak awal Maret 2026 ini memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan global.

Selain faktor energi, sentimen terhadap rupiah juga dibayangi oleh sikap Bank Sentral AS (The Fed). Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed cenderung akan mempertahankan suku bunga di level 75 persen, bahkan membuka peluang untuk kenaikan lebih lanjut tahun ini, alih-alih pemangkasan.

“Indeks dolar AS terus menguat. Investor saat ini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga, bahkan ada peluang untuk menaikkan suku bunga tahun ini. Namun, menjelang level psikologis Rp17.000, kami perkirakan Bank Indonesia (BI) akan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas,” tambah Lukman.

Lukman juga memperingatkan bahwa harga minyak yang tinggi akan berdampak pada peningkatan inflasi. Kondisi ini kemungkinan besar akan direspons oleh bank-bank sentral global, termasuk Indonesia, melalui kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Mencermati berbagai faktor tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari akan berada dalam rentang Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *