Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Ketidakpastian Global, Menko Airlangga Ungkap 5 Fakta Menarik

Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Ketidakpastian Global, Menko Airlangga Ungkap 5 Fakta Menarik
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan paparan pada acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Lintas12.com, Jakarta – Ketahanan ekonomi Indonesia di tengah krisis global. Menko Airlangga sebut pertumbuhan 5,4% di 2026 dan surplus neraca dagang 70 bulan berturut-turut. Simak kabar berita selengkapnya di Lintas 12 News.

Di tengah badai ketidakpastian global, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat dan memiliki ruang tumbuh yang signifikan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4/2026).

Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Terjaga

Menko Airlangga menjelaskan bahwa sejumlah indikator makro menunjukkan resiliensi ekonomi nasional yang luar biasa. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi domestik, hingga struktur pembiayaan dalam negeri semuanya dalam tren positif.

“Fundamental kita tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi tercatat di tahun lalu 5,11 persen. Di tahun 2026 ditargetkan 5,4 persen,” tegas Airlangga.

Bahkan, pada kuartal I 2026, pertumbuhan ekonomi diprediksi mencapai lebih besar atau sama dengan 5,5 persen.

Inflasi Terkendali & Konsumsi Domestik Jadi Mesin Utama

Salah satu kunci ekonomi Indonesia kuat adalah inflasi yang masih terkendali di level 3,48 persen. Sementara itu, indeks keyakinan konsumen tetap tinggi di angka 122,9.

Menurut Airlangga, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap PDB. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap solid meskipun dunia sedang dilanda ketidakpastian.

Surplus Neraca Perdagangan 70 Bulan Berturut-turut

Dari sisi eksternal, kabar baik juga datang dari neraca perdagangan. Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut dengan nilai fantastis mencapai 148,2 miliar dolar AS.

Selain itu, rasio utang luar negeri Indonesia masih aman di level 29,9 persen terhadap PDB. Yang menarik, kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) saat ini didominasi investor domestik hingga 87,4 persen, sementara porsi asing hanya 12,6 persen. Artinya, ekonomi kita tidak mudah goyah oleh gejolak modal asing.

Lembaga Internasional Sebut Indonesia ‘Bright Spot’ di Asia

Menko Airlangga juga memaparkan bahwa sejumlah lembaga internasional masih memandang positif Indonesia.

  • IMF (International Monetary Fund) menyebut Indonesia sebagai salah satu bright spot di Asia.
  • Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia 2026 mencapai 5,2 persen.

Lebih membanggakan lagi, probability resesi Indonesia dinilai di bawah 5 persen – lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, Jepang, atau Kanada.

“Dunia masih melihat Indonesia sebagai salah satu ekonomi yang cukup kuat,” ujar Airlangga.

RI Tahan Guncangan Energi Global

Di tengah dinamika geopolitik di Timur Tengah, Indonesia relatif lebih tahan terhadap guncangan energi global. Mengapa? Karena ketergantungan energi Indonesia terhadap kawasan tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Asia lainnya.

Hal ini menjadi bantalan tambahan bagi ekonomi Indonesia tetap kuat saat harga komoditas energi melonjak.

Sinergi Lintas Lembaga Harus Terus Diperkuat

Menutup pernyataannya, Menko Airlangga menekankan bahwa pemerintah harus terus memperkuat sinergi lintas lembaga untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi 2026 dan seterusnya.

Dengan semua indikator ini, resiliensi ekonomi nasional bukan sekadar wacana, tapi fakta yang terukur.[*finku]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *