LINTAS12.COM, JAKARTA – Rupiah melemah ke Rp18.139 per dolar AS. Simak penyebab dan dampaknya terhadap IHSG, investor asing, serta kebijakan Bank Indonesia selengkapnya di laman Berita Pilihan Terpercaya, Lintas 12 News, di bawah ini.
Nilai tukar rupiah melemah secara signifikan menyentuh level Rp18.139 per dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026). Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 3,98 persen ke level 5.371,89.
Apa sebenarnya penyebab di balik tekanan ganda ini? Dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian serta kebijakan ke depan? Berikut ulasan lengkapnya.
Penyebab Utama Rupiah Melemah ke Rp18.139 per Dolar AS
Aksi Jual Besar-besaran Investor Asing
Ekonom dari Bright Institute, Yanuar Rizky, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah hari ini tidak bisa dilepaskan dari aksi jual (net sell) investor asing di pasar saham. Setelah menjual saham, investor asing harus menukarkan hasil penjualan ke dolar AS sebelum dana dibawa keluar negeri.
“Net sell asing saham kan settlement T+2 hari ini, maka dana asing hasil jual saham langsung ditransfer keluar dalam bentuk dolar AS,” ujar Yanuar kepada media, Senin (8/6/2026).
Meningkatnya kebutuhan dolar AS inilah yang turut menekan rupiah melemah lebih dalam.
Minimnya Intervensi Tanpa Tindikan BI
Yanuar menambahkan, tanpa langkah intervensi dari Bank Indonesia (BI) pada Jumat lalu, pelemahan bisa jauh lebih parah. BI diketahui melakukan intervensi dua kali, termasuk di pasar New York.
“Kalau open pagi ini tanpa marking the close New York di 18.200, pagi ini sudah 18.500,” jelasnya.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap IHSG dan Iklim Usaha
Dampak pelemahan rupiah langsung terasa pada IHSG yang ambrol 222,88 poin. Namun, menurut Yanuar, fokus pelaku pasar kini mulai bergeser dari pergerakan nilai tukar ke kondisi iklim usaha secara keseluruhan.
“Isunya sudah bergeser ke iklim usaha. Bottom line pendapatan turun akibat China pause import dan ketidakpercayaan kebijakan usaha yang dikatakan hedge fund,” tegasnya.
Ini menjadi sinyal bahwa investor asing tidak hanya khawatir terhadap nilai tukar, tetapi juga terhadap prospek pendapatan perusahaan di tengah perlambatan global.
Perspektif Jangka Panjang: Akuntabilitas Kebijakan
Berbeda dari analisis teknis, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai persoalan penyebab rupiah melemah saat ini sudah berlangsung sejak dua dekade lalu.
“Kita mesti objektif juga melihat data. Persoalan yang dihadapi sekarang sudah sejak 20 tahun lalu yang tampak seakan dibiarkan,” kata Syafruddin.
Ia menekankan bahwa kondisi ini menjadi pengingat pentingnya akuntabilitas para pengambil kebijakan ekonomi Indonesia.
“Kalau kesimpulannya rupiah dan IHSG tertekan, di mana pengambil kebijakan selama ini? Mereka perlu juga diminta akuntabilitas.”
Syafruddin juga mengingatkan bahwa setiap perubahan kebijakan akan mengubah distribusi pendapatan di masyarakat. Pasti ada pihak yang diuntungkan (better-off) dan pihak yang dirugikan (worse-off).
Kesimpulan dan Catatan Lintas12.com
Pelemahan rupiah ke Rp18.139 per dolar AS bukan sekadar fenomena harian, tetapi cerminan dari tekanan eksternal (aksi jual asing, perlambatan China) dan tantangan internal jangka panjang (konsistensi kebijakan).
Bank Indonesia dinilai cukup sigap dengan intervensi ganda, namun kepercayaan investor terhadap iklim usaha dan akuntabilitas kebijakan ke depan akan menjadi penentu utama stabilitas rupiah dan IHSG.
Pantau terus perkembangan nilai tukar rupiah hari ini hanya di Lintas 12 News. [*fin]







