Lintas12.com, Jakarta – Ekonom Didik J. Rachbini ungkap cara BJ Habibie kuatkan rupiah dari Rp16.800 jadi Rp6.500. Kunci utamanya: kepercayaan & reformasi institusi. Pelajaran untuk Prabowo? Simak informasi detilnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp17.700 per dolar AS, sebuah pengalaman berharga dari era Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, layak menjadi pelajaran. Dalam waktu singkat, Habibie berhasil membalikkan nilai tukar rupiah dari posisi terpuruk Rp16.800 menjadi Rp6.500 per dolar AS.
Kisah sukses ini diungkap langsung oleh Didik J. Rachbini, ekonom yang saat itu menjadi Anggota Tim Reformasi Nasional Bidang Ekonomi di era Habibie. Menurutnya, cara BJ Habibie menguatkan rupiah tidak semata-mata teknis ekonomi, tetapi berbasis pada pemulihan kepercayaan (trust) dan reformasi institusi.
“Kita punya best practice bagaimana krisis ekonomi dan politik 1998 perlahan pulih. Pengalaman Presiden Habibie dalam waktu singkat menurunkan rupiah dari Rp16.800 menjadi Rp6.500 per dolar AS bisa jadi acuan kebijakan komprehensif,” ujar Didik kepada Republika, Selasa (19/5/2026).
Kunci Utama BJ Habibie: Bukan Suku Bunga, Tapi Kepercayaan
Didik, yang kini menjabat Rektor Universitas Paramadina, menegaskan bahwa faktor utama rupiah menguat di era Habibie adalah trust (kepercayaan). Awalnya, transisi Habibie diragukan karena dianggap bagian dari Orde Baru. Namun, komitmennya terhadap reformasi institusi ekonomi, demokrasi, otonomi daerah, serta ketidakterikatannya pada vested interest perlahan membangun kepercayaan pasar.
“Saya menjadi saksi dan pelaku langsung. BJ Habibie berhasil karena faktor kepercayaan. Posisinya sebagai presiden transisi disampaikan eksplisit, dan itu menjadi modal memulihkan kepercayaan,” kata Didik.
Reformasi Institusi dan Demokratisasi Jadi Penopang Rupiah Kuat
Habibie tidak hanya fokus pada ekonomi. Menurut Didik, Habibie secara bersamaan melakukan:
- Amandemen UUD 1945 dengan alokasi 20% APBN untuk pendidikan.
- Otonomi daerah dan pemilihan langsung.
- Membebaskan pers dan tahanan politik.
- Mempercepat pemilu sebagai sinyal transisi damai.
“Penguatan fondasi ekonomi dan politik menghasilkan pemulihan confidence. Penguatan rupiah pada masa Habibie didorong oleh reformasi institusional dan demokratisasi,” jelas Didik.
Langkah Teknis Habibie: Restrukturisasi Bank hingga Independensi BI
Setelah kepercayaan pulih, barulah teknokrat bekerja. Kebijakan moneter Indonesia saat itu diperkuat dengan:
- Restrukturisasi dan rekapitalisasi bank.
- Pembentukan BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional).
- Merger bank negara menjadi Bank Mandiri.
- Independensi Bank Indonesia melalui UU No. 23 Tahun 1999.
- Undang-undang antimonopoli dengan bantuan ahli dari Jerman.
“BI menjadi independen, tidak lagi alat kekuasaan untuk memburu rente ekonomi. Inilah fondasi bagi pemerintahan selanjutnya,” tegas Didik.
Relevansi untuk Era Prabowo dan Pelemahan Rupiah Saat Ini
Didik menyoroti kondisi rupiah Rp17.700 per dolar AS saat ini sebagai cerminan krisis kepercayaan dan institusi yang bermasalah. Ia menilai rencana Presiden Prabowo Subianto melakukan deregulasi birokrasi adalah arah yang tepat, namun harus komprehensif seperti yang dilakukan Habibie.
“Nilai tukar sekarang lemah karena institusi bermasalah. Investasi tidak memadai, daya saing ekspor lemah. Hanya dengan reformasi institusi menuju iklim ramah investasi, cadangan devisa kuat, rupiah tidak mudah jatuh,” tutup Didik.
Prediksi BI: Rupiah Menguat Juli-Agustus 2026
Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis rupiah menguat pada Juli-Agustus 2026 seiring meredanya faktor musiman (pembayaran dividen dan kebutuhan haji). Ia meyakini rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 masih dalam kisaran APBN, maksimal Rp16.800 per dolar AS, meskipun saat ini sudah menyentuh Rp17.700.
Namun, analis Lukman Leong menilai langkah BI menaikkan suku bunga sudah terlambat. Ia memprediksi BI Rate akan naik 25 bps menjadi 5% pada RDG Mei 2026, tetapi tekanan terhadap rupiah tetap sulit diredam tanpa reformasi institusi ala Habibie.
Kesimpulan:
Keberhasilan BJ Habibie rupiah 1998 bukanlah kebetulan. Kombinasi antara trust, demokratisasi, independensi BI, dan restrukturisasi perbankan menjadi resep jitu menguatkan rupiah dari Rp16.800 ke Rp6.500. Pelajaran ini sangat relevan bagi pemerintah saat ini untuk keluar dari tekanan krisis moneter dan pelemahan rupiah yang berkepanjangan. [*fin]
Redaksi: lintas12.com [Lintas 12 News]







