Jakarta, Lintas 12 News – Dominasi Dolar AS mulai terkikis di Asia Tenggara. Transaksi lintas batas Yuan (Renminbi) di ASEAN melonjak 50% mencapai Rp22.000 triliun pada 2024. Simak fakta selengkapnya!
Era ketergantungan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya mulai menemui titik balik, terutama di kawasan Asia Tenggara. Data terbaru menunjukkan penggunaan mata uang Yuan (Renminbi) dalam transaksi lintas batas antara China dan negara-negara ASEAN mengalami lonjakan drastis, sekaligus memperkuat tren dedolarisasi global.
Berdasarkan laporan Bank Pembangunan BRICS atau New Development Bank (NDB), nilai penyelesaian transaksi lintas batas menggunakan Yuan di kawasan ASEAN mencapai 8,9 triliun yuan atau setara dengan USD1,3 triliun (sekitar Rp22.000 triliun) sepanjang tahun 2024. Angka fantastis ini mencerminkan kenaikan lebih dari 50% dibandingkan tahun sebelumnya.
Masa Depan Keuangan Berbasis Mata Uang Lokal
Direktur Jenderal Treasury dan Manajemen Portofolio NDB, Zhongxia Jin, menegaskan bahwa pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat. Menurutnya, pasar keuangan China kini dipandang sebagai pilar baru bagi pembiayaan murah di masa depan.
“Kami tidak hanya melihat pasar obligasi China sebagai sumber pembiayaan murah, tetapi sebagai masa depan keuangan berbasis mata uang lokal,” ujar Jin, dikutip dari The Hindu Business Line.
Secara rinci, dari total transaksi Rp22.000 triliun tersebut, sebesar 2,4 triliun yuan berasal dari sektor perdagangan barang. Sementara itu, investasi langsung menyumbang sekitar 900 miliar yuan. Kepercayaan dunia terhadap Yuan kian nyata dengan masuknya mata uang ini ke dalam cadangan devisa di 23 bank sentral negara di dunia.
Ekspansi Yuan dan Melemahnya Greenback
Laju internasionalisasi Yuan tidak hanya terjadi di ASEAN. Bank Rakyat China (PBoC) melaporkan total pembayaran dan penerimaan lintas batas dalam Yuan tumbuh 21,1% dalam delapan bulan pertama 2024, mencapai angka akumulatif 41,6 triliun yuan.
NDB sendiri terus mempercepat penetrasi Yuan melalui instrumen utang. Hingga 2025, bank ini telah menerbitkan obligasi berdenominasi Yuan senilai 25 miliar yuan (USD3,6 miliar), yang menjadi rekor penerbitan terbesar sejak pertama kali melantai di pasar pada 2016.
Di sisi lain, posisi Dolar AS sebagai mata uang cadangan utama mulai “layu” di beberapa negara besar. Brasil, misalnya, mencatat porsi aset Dolar AS dalam cadangan devisanya turun ke level terendah sepanjang sejarah, yakni 72% pada akhir 2025, dari posisi sebelumnya 78,45%.
Dinamika Politik: Ancaman Trump vs Realita Struktural
Fenomena dedolarisasi ini tetap melaju kencang meskipun tensi geopolitik memanas. Sebelumnya, Presiden AS terpilih Donald Trump sempat melontarkan ancaman tarif hingga 100% bagi negara-negara anggota BRICS yang mencoba meninggalkan Dolar AS.
Namun, para analis menilai pergeseran ini bersifat struktural dan sulit dibendung. Munculnya pasar keuangan alternatif dan peran ekonomi negara-negara berkembang yang semakin dominan membuat diversifikasi mata uang menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik dari fluktuasi kebijakan moneter AS.
Dengan pertumbuhan transaksi yang mencapai 50% di ASEAN, Yuan kini bukan lagi sekadar mata uang alternatif, melainkan penantang serius dalam sistem keuangan global yang selama ini didominasi oleh Greenback.
Penulis: [Putu Suryan/Redaksi]
Editor: [Kang Sod]
Sumber: NDB, The Hindu Business Line, Bank Rakyat China.







