Lintas12.com – Perang Iran vs AS buat Toyota rugi Rp68 triliun. Penjualan Land Cruiser anjlok 32%, produksi tertekan. Baca dampak lengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Produsen mobil terbesar dunia, Toyota, harus menelan pil pahit akibat konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran. Raksasa otomotif asal Jepang itu memperingatkan bahwa perang Iran vs AS telah menggerus pendapatan mereka hingga ¥670 miliar atau setara Rp68 triliun (USD 4,2 miliar).
Kerugian ini disebut tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, dan menjadi pukulan telak bagi lini produk paling ikonik Toyota, Land Cruiser.
Penjualan Land Cruiser Anjlok 32%, Pasar Timur Tengah Terpukul
Toyota selama ini mendominasi pasar negara-negara Teluk. Land Cruiser bahkan menyumbang hampir 60 persen penjualan globalnya dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Mobil tangguh ini telah lama menjadi primadona bagi pengendara yang menghadapi iklim ekstrem dan medan kasar.
Namun, eskalasi perang menyebabkan permintaan merosot tajam. Pada Maret lalu, penjualan regional Toyota turun 32 persen menjadi hanya di bawah 34.000 unit. Padahal, secara global Toyota masih mencatat rekor penjualan 10,5 juta unit tahun lalu.
“Kawasan ini bukan sekadar pasar penting, tetapi tulang punggung komersial lini produk paling prestisius Toyota,” demikian pernyataan resmi pabrikan tersebut.
Dua Tekanan Besar: Turunnya Penjualan & Melonjaknya Harga Bahan Baku
Kerugian Toyota rugi perang Iran ini disebabkan dua faktor utama:
- Sedikitnya unit terjual di kawasan Asia Barat dan Afrika Utara akibat ketidakstabilan geopolitik.
- Melonjaknya harga bahan baku produksi seperti aluminium dan ban karet akibat terganggunya rantai pasok global pasca perang.
Akibatnya, Toyota memperkirakan laba bersih akan turun 22 persen menjadi ¥3 triliun (USD 20 miliar) pada tahun fiskal berjalan. Ini merupakan penurunan tahunan ketiga secara berturut-turut.
Tarif AS dan Perang Dagang memperparah Keadaan
Belum selesai dengan perang di Timur Tengah, Toyota juga harus berhadapan dengan kebijakan tarif dari AS. Pabrikan Jepang itu menanggung beban ¥1,4 triliun (USD 9,3 miliar) hanya dari tarif Amerika. Operasional di Amerika Utara yang biasanya menjadi sumber laba utama, justru mencatat kerugian operasional hampir ¥300 miliar (USD 2 miliar).
Toyota tidak sendirian. Tiga pabrikan mobil terbesar AS secara kolektif melaporkan kerugian USD 5 miliar akibat inflasi komoditas yang dipicu perang.
Ancaman Baru: Investasi Masa Depan Terhambat
Penurunan laba beruntun ini datang di saat yang kritis. CEO baru Toyota, Kenta Kon, yang mengambil alih tahun ini, sedang memacu transformasi besar-besaran ke kendaraan listrik (EV), perangkat lunak, dan robotika untuk mengejar ketertinggalan dari rival asal China.
Menariknya, penyebab Toyota rugi 4.2 miliar dolar justru mendorong lonjakan permintaan EV. Akibat harga BBM naik akibat perang, penjualan EV Toyota diprediksi melonjak 2,5 kali lipat tahun ini menjadi sekitar 600.000 unit.
Namun, ironisnya, pertumbuhan EV yang cepat itu membutuhkan modal besar—yang sedang tergerus oleh perang dan tarif. Kenta Kon berjanji akan menerapkan kontrol biaya lebih ketat, tapi tantangan berat mengintai karena konflik Iran vs AS belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Kesimpulan:
Dengan dominasi Land Cruiser yang goyah di kandangnya sendiri dan biaya produksi yang terus membara, dampak perang Iran pada industri otomotif menjadi momentum ujian terberat bagi Toyota di dekade ini. (*Kin*)





